Menghargai Pasangan Hidup Kita

Oleh: Cecep Y Pramana

Banyak pasangan suami istri yang kurang, bahkan enggan memperlihatkan perasaan sayangnya secara terang-terangan kepada pasangannya. Banyak yang menjalani kehidupan pernikahan seperti halnya bekerja, membayar tagihan, mengantar pasangan ke dokter, dan lainnya.

Bila kita ingin hubungan pernikahan menjadi istimewa, maka jangan lakukan rutinitas sehari-hari hanya sebagai suatu kewajiban. Tetapi berikanlah perhatian lebih kepada pasangan, dengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikatakannya.

Bahkan, jika memungkinkan, selalu ada saat pasangan membutuhkan kita. Beberapa tips ini untuk pasangan yang telah menikah. Tapi, bagi anda yang belum, boleh juga loch ngebaca ini untuk pengetahuan di kemudian hari.

Pertama, anggap pasangan kita seperti diri sendiri. Menganggap pasangan kita sebagai diri sendiri yang harus dicintai, dihargai, dibelai, dihormati, disayangi dan dikasihi. Semua orang suka dibelai dan dikasihi apalah lagi pasangan suami isteri. Inilah yang sering diabaikan oleh banyak pasangan.

Pasangan kita adalah cerminan diri kita sendiri. Kemana pun kita pergi, potret wajahnya perlu kita bawa bersama. Jika ini dilakukan selalu, rumahtangga akan menjadi bahagia.

Kedua, isteri bukanlah pembantu rumah tangga. Banyak suami menganggap bahwa kerja-kerja rumah adalah tanggungjawab seorang isteri seratus persen. Padahal dalam Islam sendiri tidak ada hukum yang mengatakan bahwa isteri wajib melakukan kerja-kerja rumah.

Hanya saja, ajaran Islam mengatakan bahwa wanita yang telah menikah taat dengan suami dan Tuhannya, menjaga harta benda suami dengan sebaik mungkin akan dijamin masuk surga. Itu saja. Atas jaminan inilah banyak wanita mengerti dengan kerja-kerja rumah yang mereka lakukan selama ini.

Ketiga, isteri adalah manusia. Mereka adalah kaum wanita yang penuh dengan perasaan emosi. Apabila mereka ridha dan bahagia dengan setiap perkara yang mereka lakukan, maka perasaan mereka tenang dan gembira. Namun jika mereka tertekan dengan apa yang telah berlaku, maka emosi mereka mulai berkecamuk dan sering ingin mencari jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi.

Keempat, ingat hari lahir dan tanggal pernikahan pasangan. Manusia memang suka dihargai dan dikejutkan dengan pemberian hadiah oleh siapa saja apalagi dari orang yang disayanginya. Jika suami adalah orang yang perhatian dan menyayangi isterinya, apa salahnya jika dia memberikan hadiah khusus kepada isterinya.

Hadiah tidak perlu mahal. Cukup dengan hal yang disukai istri ataupun pemberian langsung dari suami. Jika ‘budget’ kita tidak mencukupi, sekuntum bunga pun sudah memadai, bahkan senyum dari sang suami pun akan terasa sangat indah.

Hati isteri akan tersentuh dengan pemberian hadiah dan lebih terharu jika kita sempat menulis sepatah dua patah kata penghargaan di dalamnya, seperti “terima kasih” atas segala pengorbanan sayang selama ini atau ungkapan lainnya.

Kelima, membantu ringankan tugas isteri. Suami sesekali perlu turun tangan membantu isteri, jika setiap hari isteri kita berpeluh dalam memasak, membasuh dan mengemas rumah. Maka suamipun perlu membantu istri membantu pekerjaan rumah. Jika itu dilakukan, pastinya sang istri pun akan melayangkan senyum indahnya bahkan perkataan terbaiknya.

Jika kita tidak mahir memasak makanan yang berat seperti lauk pauk cukup sekadar menggoreng ikan, mie instan, tempe tahu atau telur. Coba perhatikan isteri kita yang sedang menikmati makanan yang anda masak. Tentu dia akan merasa gembira dan tersenyum kepada kita.

Keenam, bawa isteri untuk rehat, tamasya (rihlah). Kebanyakan suami menganggap berjauhan dari isteri adalah suatu kebebasan baginya. Karena isteri tidak dapat mengetahui apa yang dilakukan suaminya di belakangya. Kini, coba kita balik situasi ini.

Coba senantiasa membawa isteri berjalan-jalan dan rehat, tamasya (rihlah) ke tempat-tempat yang menarik seperti Ragunan, Monas, Taman Mini, Puncak, Ancol atau daerah lainnya yang disetujui. Walaupun hal itu nampak remeh, tapi setiap isteri pasti akan menghargai saat-saat manis sewaktu rehat di situ.

Ketujuh, ciuman sayang untuk sang isteri. Coba anda tanya diri sendiri kapan kali terakhir anda mencium dahi isteri anda ketika dia istirahat setelah begitu capek bekerja. Tahukah anda ciuman anda di dahi atau kucupan sayang di bibirnya dapat menghilangkan segala kepenatan dan tekanan pada dirinya pada hari itu. Begitulah kuatnya kuasa ciuman suami kepada isteri.

Kedelapan, berikan pujian kepada isteri. Jangan dikira memberikan pujian kepada isteri dengan mengatakan dia cantik, manis, sholehah dan ucapan manis lainnya itu hal yang sepele. Pujian ini penting untuk menaikkan semangat isteri tatkala semangatnya hilang dan kendur.

Memang wajar isteri kita penat, jika dia harus bangun di awal pagi untuk memastikan semuanya beres demi kemudahan suami dan anak-anaknya. Lalu tidur pun paling malam karena sibuk menyediakan persiapan untuk esok harinya.

Kesembilan, dengarkan pendapat isteri. Suami isteri perlu sering bertukar-tukar pendapat, berbagi informasi atau komunikasi yang intens. Isu-isu terkini boleh dijadikan sebagai ‘ice-breaking’. Lalu, berdiskusilah tentang hal rumahtangga dan masa depan keluarga.

Suami boleh bertanya tentang pandangan isteri tentang problem kerjanya ataupun sebaliknya. Justru, pastinya isteri pun berminat mengetahui “info terkini” yang terjadi dan beredar saat suaminya pulang kerja. Dari situ isteri dapat mengenali karakter rekan-rekan kerja suaminya secara tidak langsung.

Kesepuluh, penuhi permintaan isteri. Sedapat mungkin penuhi permintaan sang istri, walaupun tidak semua permintaan isteri itu bisa dipenuhi oleh suami. Jika isteri meminta sebuah mesin jahit atau lainnya, maka suami mungkin terpaksa berfikir dua atau tiga kali sebelum memenuhinya.

Bagaimanapun, jika anda tidak kuasa memenuhi permintaan isteri untuk saat itu, simpanlah permintaan isteri anda itu dan tunaikanlah apabila anda mempunyai dana untuk membeli permintaan istri itu kelak.

Bukankah pemberian itu melambangkan bahwa anda adalah suami yang amat menghargai pengorbanan isteri. Selamat menunaikan tanggungjawab masing-masing dengan seikhlasnya. Wallahu’alam

Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com

3Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *