Ramadhan, Bulan Kebaikan Telah Datang

Oleh: Cecep Y Pramana

Selama Ramadhan 1440 H, pastinya orang-orang yang beriman akan sibuk mencari ‘belas kasihan’ Allah SWT, pengampunan dan perlindungan dari api neraka.

Ramadhan, bulan dimana rahmat Allah SWT turun atas kita semua secara terus menerus, dan disinilah orang-orang yang beriman memohon, berdoa dan mencari pahala sebanyak-banyaknya.

Ramadhan adalah bulan paling penting dalam setahun. Ini adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh orang yang beriman dengan penuh semangat, penuh cinta.

Ini adalah bulan untuk memperbarui komitmen kita, sekaligus membangun kembali hubungan kita dengan Pencipta kita, Allahu Rabbi.

Ini adalah bulannya kebaikan dan kebajikan, ketika kebenaran itu berkembang di seluruh komunitas Muslim di dunia.

Ramadhan menawarkan kepada setiap Muslim, kesempatan untuk memperkuat Imannya, memurnikan tauhid, hati dan jiwanya, sekaligus menghilangkan efek jahat dari dosa yang dilakukan olehnya.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni”. (HR Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Yang dimaksud berpuasa atas dasar iman yaitu berpuasa karena meyakini akan kewajiban puasa. Siapa saja hamba Allah yang berdiri dalam doa di malam bulan Ramadhan dengan kemurnian keyakinan dan harapan akan pahala dari Allah SWT, maka dosa-dosa yang telah dilakukan sebelumnya akan diampuniNya.

Saat dunia Islam dilanda berbagai tantangan yang tidak dapat diatasi, maka bulan suci Ramadhan menyediakan kesempatan terbaik untuk introspeksi dan reformasi diri (muhasabah).

Berpuasa adalah cara untuk mencapai ketakwaan. Dalam istilah praktis, takwa berarti melakukan apa yang diperintahkan Allah SWT dan menghindari apa yang dilarangNya. Ini adalah institusi untuk peningkatan karakter moral dan spiritual manusia.

Tujuan berpuasa untuk membantu mengembangkan pemurnian diri, kesadaran seorang hamba kepada PenciptaNya, belas kasih, semangat kepedulian dan berbagi, dan cinta kemanusiaan.

Itu adalah tindakan patuhnya kita sebagai hamba Allah kepada sang Pencipta, ucapan rasa syukur, pengampunan, pelatihan spiritual sekaligus reformasi diri (muhasabah diri).

Jika seseorang menginginkan kebahagiaan sejati dan abadi, maka ia perlu mengembangkan dan mempertahankan “kedamaian dan kenikmatan batin” yang diberikan Allah SWT kepada orang-orang yang beriman.

Satu-satunya cara kita untuk dapat melakukan hal itu adalah dengan melatih pikiran dan tubuh kita melalui latihan spiritual keimanan.

Dan bagi umat Muslim, bulan Ramadhan adalah memberikan kepada kesempatan terbaik, yaitu melalui puasa, shalat, membaca Al Quran, berbagi peduli, mengeluarkan zakat, infak, shadaqah dan selalu mengingat Allah SWT.

Puasa menanamkan dalam diri kita suatu kebajikan, kesabaran dan ketidakegoisan kepada sesama. Ketika kita berpuasa, maka kita akan merasakan sakitnya kekurangan dan kelaparan, dan belajar bagaimana menanggungnya dengan sabar dan ikhlas.

Dari pengalaman yang kuat ini, dalam konteks sosial dan kemanusiaan bahwa kita jauh lebih cepat daripada orang lain dalam bersimpati dengan yang tertindas dan yang membutuhkan di seluruh dunia, dan menanggapi kebutuhan mereka.

Puasa di bulan Ramadhan memungkinkan kita untuk menguasai seni kemampuan beradaptasi dan manajemen waktu yang lebih baik.

Kita juga dapat dengan mudah memahami hal ini ketika kita menyadari bahwa dengan berpuasa membuat orang mengubah seluruh perjalanan kehidupan sehari-hari mereka selama 24 jam.

Ketika melakukan perubahan, maka sebenarnya secara alami kita sedang menyesuaikan diri dengan sistem dan jadwal baru, dan bergerak bersama untuk memenuhi aturan yang telah Allah SWT tetapkan.

Ini dilakukan dalam jangka panjang, berkembang di dalamnya rasa bijak dan kemampuan beradaptasi dengan kekuatan yang diciptakan sendiri untuk mengatasi kesulitan hidup yang tak terduga!

Seseorang yang menghargai kemampuan beradaptasi yang konstruktif, manajemen waktu, dan keberanian, maka ia akan menghargai efek puasa dalam hal ini juga.

Sejak awal waktu, manusia telah berjuang untuk menguasai diri, fisik dan psikologisnya sendiri: Tubuh dan juga emosi. Kelaparan adalah salah satu dorongan paling kuat yang kita alami.

Banyak orang, melalui makan berlebihan, kurang makan atau mengonsumsi makanan tidak sehat, maka ia menyalahgunakan dorongan ini, yaitu berpuasa.

Meski tujuan sebenarnya dari berpuasa yang dinamis adalah untuk mendisiplinkan jiwa dan perilaku moral kita sendiri, untuk mengembangkan simpati bagi mereka yang kurang beruntung, maka itu adalah alat multi-fungsional dan alat perubahan komprehensif di berbagai bidang kita.

Kehidupan, termasuk sosial dan ekonomi, intelektual dan kemanusiaan, spiritual dan fisik, pribadi dan umum, dalam dan luar, semuanya dalam satu! Selamat datang bulan Ramadhan. Ramadhan kurindu, menanti karena cinta untuk kedatanganmu.

.
Cecep Y Pramana | Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com
.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *