Motivasi Ramadhan #5: Ramadhan, Motivasi Yang Menginspirasi

Setiap tahun, kita kedatangan dan menerima tamu terhormat yang murah hati, yang membangunkan kita semua dari ketidakpedulian sehari-hari, mencapai titik surga yang Allah SWT janjikan.

Kita semua menyambut bulan suci Ramadhan, yang telah diperintahkan Allah kepada kita untuk berpuasa.

Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. (QS Al Baqarah: 185).

Ini adalah bulan dimana masjid-masjid menjadi penuh. Dan suara-suara di dalamnya diangkat karena mengingat Allah SWT. Dan semua bentuk kebaikan, amal dan kepedulian kepada orang lain meningkat, pada siang dan malam hari.

Bulan ramadhan adalah manifestasi kebaikan yang tidak kita lihat di bulan-bulan lainnya, seperti menjalin ikatan kekerabatan, bertetangga dengan baik, menunjukkan dukungan dan solidaritas dengan mereka yang membutuhkan, menahan amarah, memaafkan orang yang berbuat kesalahan, dan kebajikan lain dari cita-cita masyarakat muslim.

Pelajaran ramadhan ini membawa kita kepada sebuah peradaban yang masih terpesona dan dipuja dari umat manusia atas pencapaiannya yang luar biasa di setiap bidang usaha manusia.

Mulai dari peningkatan iman dan sistem ibadah, hingga kecerdasan dan pengetahuan, hingga akar kemajuan teknis dan pengembangan manusia.

Islam menang selama empat belas abad dengan menginspirasi kebebasan intelektual, di mana Allah SWT berfirman: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesunguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui”. (QS Al Baqarah: 256)

Rasul SAW dan para sahabat menghadapi segala bentuk penindasan, kesulitan, persaingan, dan permusuhan dari Quraisy dan sekutunya.

Kemudian Rasulullah SAW meminta para sahabatnya untuk berhijrah dari Mekah ke Madinah. Di Madinah, Rasulullah SAW mendirikan “komunitas” Islam pertama, dimana mereka menginginkan komunitas yang mencerminkan iman, dalam kata-kata dan tindakan.

Itu adalah masyarakat madani yang tidak hidup sesuai dengan nilai-nilai kemewahan intelektual atau perencanaan sosial yang terendam dalam idealisme, melainkan menjalani penerapan praktis Islam dalam setiap langkah, setiap kata, setiap interaksi profesional dan sosial, dan dalam setiap tindakan ibadah yang mereka lakukan untuk Allah SWT.

Karena itu, Madinah menjadi tempat yang sangat unik, sebuah contoh sempurna yang hidup, yang menarik bagi setiap manusia yang mencari kebenaran, seperti Salman al-Farisi; atau untuk keadilan, seperti Shuhaib ar-Rumi; atau untuk sebuah kebebasan, seperti Bilal al-Habasyi (Bilal bin Rabah).

Cecep Y Pramana | Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com
.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *