Motivasi Ramadhan #30: Ramadhan Meninggalkan Kita

Tak terasa perpisahan dengan Ramadhan kita masuki. Sungguh, waktu yang sangat mendebarkan karena kita berpisah dengan momentum paling mulia sepanjang tahun dalam hidup kita. Bulan Ramadhan.

Sementara masih banyak hal yang belum bisa kita rampungkan dalam waktu sebulan puasa. Mungkin iman kita belum teguh, takwa kita belum cukup, sehingga ada kekhawatiran dalam diri ini jika selepas Ramadhan hati ini belum bisa istiqomah.

Setidaknya itulah yang diwaspadai oleh Rasulullah bersama para sahabat setiap menjelang akhir Ramadhan. Bersama para sahabatnya beliau lebih banyak intropeksi diri daripada bersenang-senang menyambut idul fitri.

Oleh karena itu pada setiap sepuluh terakhir Ramadhan beliau senantiasa i’tikaf di masjid. Semua itu tiada lain agar Ramadhan benar-benar menghadirkan ketakwaan dalam hati.

Mengapa i’tikaf yang beliau pilih untuk mengisi sepuluh terakhir Ramadhan? Semua itu tidak lain karena Ramadhan sangat berharga dan masjid adalah satu-satunya tempat yang menjamin peningkatan iman dalam diri setiap Muslim.

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Muslim yang memakmurkan masjid adalah orang yang berpotensi besar mendapatkan petunjuk.

Sebagaimana firman-Nya, “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS 9: 18).

Ramadhan adalah momentum yang sangat tepat bagi seluruh umat Islam untuk menempa diri dalam ibadah untuk menadapatkan hidayah. Apalagi ketika Ramadhan dimanfaatkan sepenuhnya untuk memakmurkan masjid, tentu peluang masuknya hidayah akan semakin besar.

Nabi Muhammad SAW tidak pernah menghabiskan akhir Ramadhan untuk aktivitas keduniaan. Beliau hanya fokus di masjid untuk ibadah. Salah satu di antaranya ialah dengan melakukan i’tikaf.

Nabi SAW menata diri untuk menertibkan diri dalam berkomunikasi dengan Allah SWT. Bukan hanya diri pribadi beliau, tetapi beiau ajak semua anggota keluarganya untuk bersama-sama menutup Ramadhan dengan fokus ibadah.

Jika demikian alasan apa yang membuat kita memilih bersuka ria dengan kebendaan daripada intropeksi untuk menyempurnakan iman dengan banyak beribadah?

Kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput kita. Maka patut kita waspada dengan sebenar-benarnya kewaspadaan dengan mengamalkan banyak ibadah dan amal sholeh.

Dan satu hal yang harus dipersiapkan dalam menyongsong akhir Ramadhan adalah kesiapan mental untuk memiliki jiwa besar. Yakni jiwa yang santun, cerdas, dan mulia sebagaimana telah diteladankan oleh Rasulullah SAW. Menjadi orang yang bertakwa.

Makna takwa yang sesungguhnya adalah berusaha menjadi manusia yang seperti Allah SWT gambarkan pada ayat di atas (QS 9: 18)..

Semoga kita termasuk orang yang benar-benar siap berpisah dengan bulan penuh berkah ini dengan kesiapan jiwa raga untuk semakin produktif berjihad dan berdakwah di jalan Allah SWT. Aamiin.

Cecep Y Pramana | Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com
.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *