Rumah Pena MOTIVASI

Besarnya Magnet Cinta dan Rindu Kepada Nabi Muhammad SAW

Cinta dan rindu kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah sebuah ibadah biasa, bahkan merupakan alat cek-up keimanan kita. Cinta dan rindu kita kepada Nabi Muhammad SAW menjadi barometer sempurnanya iman. Suatu hari Umar bin Khatab jalan-jalan dengan Nabi SAW dengan berpegangan tangan.

Umar merasa sangat bahagia, sangat dekat dan dicintai oleh Nabi SAW. Karena senang tapak tangannya digenggam oleh Nabi SAW, lalu Umar mengatakan: “Ya Rasulullah orang yang sangat saya cintai setelah diri saya adalah Engkau ya Rasulullah”. Mendengar ucapan Umar, lalu Nabi SAW menjawab: “Ya Umar, belum sempurna Imanmu, sebelum sanggup mencintaiku melebihi dirimu, anak dan istrimu, hartamu, serta lainnya”.

Mendengar hal demikian, Umar pun mengatakan, “Ya Rasulullah, mulai sekarang, aku mencintaimu melebihi sayangku kepada diriku, keluargaku, hartaku dan lain sebagainya”. Lalu Nabi SAW melanjutkan; “Sekarang engkau Umar, baru masuk orang yang sangat sempurna iman”.

Nabi SAW juga pernah ditanya sahabat, “Ya Rasulullah, kapan kiamat akan terjadi?” Mendengar pertanyaan tersebut, Nabi terdiam sejenak. Lalu, Nabi SAW balik bertanya; ‘Kalau kiamat terjadi, persiapan apa saja yang sudah kamu lakukan? Sahabat ini lalu menjawab, “tidak ada apa-apa ya Rasulullah”.

Namun, beberapa saat kemudian sahabat itu melanjutkan, “Yang ada padaku ya Rasulullah adalah Aku sangat mencintaimu, melebihi cintaku pada diriku dan lainnya”. Nabi SAW pun menanggapinya, “engkau akan Allah bangkitkan bersama orang yang engkau cintai”.

Mendengar jawaban Nabi, sahabat tersebut langsung ke luar dari Masjid Nabawi sambil lari-lari dan berlompat-lompat gembira. Sehingga membingungkan para sahabat yang berada di luar masjid dan penuh tanda tanya apa yang membuat sahabat itu gembira sekali.

Semua sahabat yang di luar masjid lalu berkumpul mengerumuni sahabat yang satu ini. Ia tanpa berhenti melompat-lompat gembira seraya bertakbir, “Allahu Akbar Allahu Akbar”. Ketika orang sudah sangat ramai di sekelilingnya, sahabat ini bercerita: “Tahukah kalian, apa yang barusan disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada saya? Semua sahabat terdiam. Lalu, ia melanjutkan, ketahuilah Nabi SAW baru saja menyampaikan pada saya bahwa, “Kamu akan dibangkitkan pada hari kiamat, bersama orang yang kamu cintai”.

Mendengar berita yang datang dari Nabi bahwa Allah akan membangkitkan seorang hamba bersama orang-orang yang dicintainya, semua sahabat yang di luar Masjid Nabawi juga berlompat-lompat seperti sahabat yang tadi.

Gembira, bahagia, dan senang hati karena mereka sadar dari segi ibadat sangat lemah, tiada mampu menyamai ibadah Nabi. Tapi, yang mereka punya hanya kekuatan cinta dan rindu karena mereka tidak kuat jauh dari Nabi SAW.

Inilah nilai cinta dan rindu Nabi SAW. Terbukti pada hari Nabi SAW wafat, Umar bin Khatab mengatakan: “Siapa yang bilang Muhammad wafat, maka akan aku tebas lehernya dengan pedang saya ini”. Sampai Abu Bakar pulang dari medan perang dan meleraikan masalah yang terjadi.

Betapa mahal dan tinggi nilai cinta rindu Nabi SAW, sehingga termasuk salah satu tiket ke surga. Maka, tak heran banyak orang ketika ziarah Nabi SAW di Madinah, mereka bershalawat beberapa kali. Terasa kuat kenikmatannya, limpahan air mata, goncangan gemuruh cinta, penuh kerinduan dan isak tangis dalam keharuan bahagia cinta. Itu adalah wujud dari besarnya magnet cinta rindu Nabi SAW.

Cinta dan kerinduan kepada Nabi SAW. Betapa nikmatnya membuka hati dan kerinduan kepada Nabi SAW, melihat ke dalam diri, berapa nilai cinta dan rindu kepada kita Nabi SAW bila dibanding dengan cinta dan rindu kepada harta, dunia, dan lainnya.

Allah SWT mengatakan di dalam Hadits Qudsi: “Kalau bukan karenamu hai Muhammad, tiada Kuciptakan alam semesta ini”. Inilah sosok Nabi Muhammad SAW yang harus kita cintai melebihi diri kita sendiri.

Tak heran dalam praktik shalawat Nabi, Allah SWT bersama Malaikat lebih dulu bershalawat dan salam kepada Nabi SAW, baru kemudian memerintahkan kita untuk bershalawat kepada Nabi SAW. Ya Allah, kumpulkan kami bersama Nabi Muhammad SAW, dalam hidup ini sebelum mati.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *