Rumah Tangga Nabi SAW dan Khadijah Yang Penuh Berkah

Pernikahan antara Muhammad SAW dengan Khadijah sungguh di luar dugaan masyarakat Quraisy saat itu, terutama pihak keluarga Quraisy. Tidak seorang pun yang menyangka bahwa keduanya akan bertemu dan menikah.

Muhammad SAW saat itu adalah seorang pemuda miskin, yatim piatu dan menjadi buruh penggembala kambing, juga tidak pernah kenal mata uang. Hidupnya sejak usia 8 sampai 25 tahun hanya sebagai seorang pemuda yang terkenal jujur dan berbudi luhur.

Sedangkan Khadijah, seorang perempuan yang telah menjanda dua kali, juga seorang hartawati. Selama menjadi janda telah berulang kali dipinang oleh beberapa orang dari golongan hartawan Quraisy atau bangsawan Quraisy, tetapi ditolaknya.

Usia Khadijah lima belas tahun lebih tua dari Muhammad SAW. Akan tetapi Allah SWT telah menakdirkan kedua orang itu harus bertemu dan menikah. Sesudah hari pernikahannya dengan Khadijah selesai, Muhammad SAW pindah dari pamannya, Abu Thalib, ke rumah istrinya, untuk memulai lembaran baru, hidup berumah tangga, menjadi suami dan akan menjadi ayah.

Keadaan rumah tangga Nabi SAW ketika itu jauh berbeda dengan rumah tangga orang-orang Arab Quraisy. Pribadi Nabi SAW dalam pergaulan sehari-hari dengan istrinya menunjukan cinta kasih.

Hal ini tidak biasa terjadi di kalangan bangsa Arab Quraisy pada masa itu, yang suka merendahkan dan menghinakan seorang istri. Dan istrinya, Khadijah, demikian juga halnya.

Dalam urusan mata pencarian kala itu, hanya memberi bantuan dan menolong istrinya, ikut mengurus perniagaan istrinya. Pada waktu itu Khadijah, selalu memperhatikan benar akan segala gerak-gerik dan perangai suaminya.

Beliau, sekalipun menjadi suami seorang wanita hartawati besar, tetapi cara hidup beliau sederhana seperti bisanya, tidak suka kemewahan. Makanan dan minumannya sangat sederhana dan tidak banyak.

Demikian pula dalam soal berpakaian sangat sederhana. Beliau sangat memperhatikan dan suka menolong kehidupan orang-orang dari golongan kaum lemah, fakir miskin dan janda-janda yang sengsara, yang pada umumnya tidak begitu diperhatikan oleh para bangsawan, para hartawan bangsa Quraisy waktu itu.

Kekayaan Khadijah ketika itu bertambah besar karena perniagaanya bertambah maju dan keuntungan yang diperoleh bertambah banyak. Kekayaannya digunakan untuk menolong orang yang kekurangan.

Akibat kepemimpinan Nabi SAW yang selalu perhatian kepada golongan kaum lemah dan sengsara, rumah tangga Khadijah menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang mengharapkan pertolongan seperti para janda yang menderita, para anak yatim piatu yang menderita lapar dan orang-orang yang kekurangan.

Setiap hari, mereka datang berduyun-duyun ke rumah Khadijah yang dikepalai oleh Nabi SAW untuk meminta bantuan dan mengharapkan pertolongan. Saat-saat itu justru datanglah kebahagiaan tersendiri bagi Khadijah.

Khadijah dengan tulus dan ikhlas, menyampaikan harta kekayaannya kepada suami yang dicintainya itu guna diberikan kepada siapa pun yang datang mengharapkan bantuan dan pertolongan. Itulah keadaan rumah tangga Nabi SAW dan Khadijah yang penuh keberkahan.
.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *