@ Cecep Y Pramana
Renungkan sejenak, kita semua membawa kelemahan, tapi bukankah kelemahan itu justru tak harus membuat kita rapuh? Setiap jiwa pasti unik, diwarnai perspektif dan kemampuan yang tak tertandingi. Kelemahan di satu sudut kehidupan sering menjadi isyarat lembut akan “kekuatan positif” yang bersemayam di sudut lain, sebuah keseimbangan alamiah yang patut kita hayati.
Bayangkan seseorang yang “malas”, yang enggan mengerahkan tenaga lebih dari yang esensial. Dalam ketenangannya, kemudian ia menemukan jalan paling efisien, seperti sungai yang mengalir tanpa hambatan menuju muara. Seperti mereka yang menengadahkan tangan ke atas, sebuah permohonan, penyerahan diri, kerendahan hati, serta keyakinan akan kebesaran Allah Azza wa Jalla, Tuhan Yang Maha Kuasa.
Atau pemalu yang ragu berucap, tapi telinganya menangkap nuansa yang luput dari yang cerewet, sebagai pendengar bijak yang melihat lebih dalam. Begitu pula mereka yang kesulitan menggenggam detail; pandangannya melayang bebas ke gambaran besar dan luas, menangkap pola yang tak kasatmata.
Kita telah melangkah sejauh ini dalam perjalanan hidup, melewati kabut kelemahan apa pun yang menyapa. Luangkan waktu untuk merenung: kekuatan apa yang lahir dari sana, yang kini mengimbangi dan mengangkat kita? Lihat, kelemahan bukanlah beban semata; karena ia katalisator halus yang membentuk pertumbuhan batin, mendorong kita menuju versi diri yang lebih utuh.
Tentu saja, hal ini bukan undangan untuk berdiam dalam penerimaan pasif. Justru di lereng kelemahan itulah potensi terbesar untuk transformasi menanti—sebuah panggilan lembut untuk berkembang.
Jika kita tuangkan seluruh usaha pada kekuatan yang sudah mapan, maka kemajuan hanyalah langkah kecil, secara bertahap. Namun, saat kita berani menyentuh kelemahan paling membelenggu, maka perubahan datang dengan dramatis, seperti fajar yang menerangi malam panjang.
Ya, kelemahan ada dalam diri kita semua. Tapi di situlah ruang suci untuk menemukan kekuatan baru—sebuah undangan abadi untuk merenung dan bangkit. Itu adalah undangan untuk bangkit dengan versi diri kita yang baru. Bismillah…
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana