@ Cecep Y Pramana
Cinta sering dipahami sebagai perasaan, datang tiba-tiba, membuat bahagia, lalu kadang menghilang tanpa pamit. Padahal, cinta yang sejati jauh melampaui sekadar rasa. Ia adalah energi yang menumbuhkan, keputusan yang disadari, dan amal yang terus diperjuangkan.
Seiring perjalanan hidup, pemahaman kita tentang cinta biasanya berubah. Ketika muda, cinta terasa seperti getaran. Ketika dewasa, cinta mulai terasa sebagai tanggung jawab. Dan ketika jiwa matang, cinta menjelma menjadi ketulusan; memberi tanpa selalu menuntut kembali.
Cinta seharusnya tidak menguras jiwa. Ia justru menenangkan, menguatkan, dan membuat seseorang menjadi versi terbaik dari dirinya. Cinta yang benar tidak mengekang, tetapi membimbing. Tidak membutakan, tetapi menerangi.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bahwa cinta yang paling kuat adalah cinta yang mengantarkan pada kebaikan dan mendekatkan kepada Allah Subhanahu wata’ala. “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Terkadang, cinta sering diuji oleh ekspektasi berlebihan. Ingin dipahami tanpa menjelaskan, ingin ditemani tanpa hadir sepenuhnya. Padahal cinta selalu menuntut kehadiran, secara emosi, pikiran, dan sikap. Cinta sejati adalah pilihan yang diperbarui setiap hari. Pilihan untuk tetap peduli meski lelah.
Dalam Islam, cinta tidak pernah dilepaskan dari nilai. Hadis di atas bukan sekadar kabar gembira, tetapi juga peringatan, siapa dan apa yang kita cintai akan menentukan arah hidup kita. Cinta kepada manusia akan selalu memiliki celah. Ia bisa berubah, pergi, atau mengecewakan. Dan cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak pernah sia-sia. Justru dari sanalah cinta kepada sesama menemukan bentuknya yang paling utuh.
Bagi usia dewasa, cinta adalah tentang keteguhan. Sedangkan cinta bagi Gen Z, adalah tentang kejujuran pada diri sendiri. Keduanya bertemu pada satu titik, karena cinta yang sehat selalu membuat manusia lebih bertumbuh, bukan kehilangan diri. Jika cinta membuat kita lebih sabar, lebih lembut, dan lebih dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala, maka rawatlah.
Jika cinta membuat kita lelah secara batin, menjauh dari nilai, dan kehilangan damai, mungkin sudah waktunya menata ulang maknanya. Karena cinta sejati bukan tentang siapa yang paling kita genggam, melainkan siapa yang paling kita jaga, dalam senyum, dalam doa, kehidupan, penuh sikap, dan tanggung jawab. Bismillah…
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang”. (QS. Ar-Rum: 21).
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana