@ Hamzah Syahid Afifi
Saudaraku…
Semoga keridaan Allah Subhanahu wata‘ala senantiasa menaungi langkah kebersamaan kita semua.
Hari ini, kondisi umat memang tidak sedang baik-baik saja. Kemaksiatan seakan menjadi pemandangan harian, sesuatu yang dianggap biasa dan tak lagi mengusik hati nurani. Namun sesungguhnya, yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya itu.
Yang jauh lebih menyedihkan adalah ketika semangat para da’i ikut meredup—perlahan terkikis oleh arus hedonisme dan kelalaian. Ketika dakwah tak lagi menjadi prioritas, bahkan menjaga konsistensi halaqah (liqo, usroh, UPA) dan ruhiyah pribadi pun terasa berat, atau justru gagal kita pertahankan.
Saudaraku, berhati-hatilah terhadap sesuatu yang tampak seperti nikmat, namun diam-diam menjauhkan kita dari Allah Subhanahu wata‘ala. Nikmat yang membuat hati lalai, ibadah mengendur, dan kontribusi dakwah tak lagi bertambah. Tidak setiap yang menyenangkan itu mendekatkan, dan tidak setiap yang memudahkan itu menenangkan jiwa.
Jika dulu, saat masih pelajar dan mahasiswa, kita begitu berapi-api dalam dakwah—namun ketika pekerjaan datang, semangat itu melembek, digantikan oleh berbagai alasan yang terdengar rasional—maka berhentilah sejenak. Bisa jadi, pekerjaan itu bukan sekadar rezeki, melainkan ujian.
Ujian tentang siapa yang masih menempatkan Allah Subhanahu wata‘ala sebagai tujuan utama. Jangan sampai apa yang kita kejar hari ini justru menjadi sebab murka Allah Subhanahu wata‘ala di masa depan. Bila pekerjaan telah melalaikan kita dari kewajiban ruhiyah dan dakwah, maka berhati-hatilah… bisa jadi ia telah berubah menjadi “sesembahan baru” tanpa kita sadari.
Begitu pula ketika dahulu kita begitu aktif berdakwah saat sendiri, namun setelah hadirnya pasangan hidup, dakwah justru mengendur dan amalan ruhiyah kian tak terurus. Padahal bukankah kita dulu bercita-cita menikah agar iman dan dakwah semakin terjaga? Jika setelah menikah justru sebaliknya, maka pertanyaan besar patut kita ajukan: ke mana arah dan tujuan asasi pernikahan kader dakwah itu kita bawa?
Dan ingatlah, fitnah tidak pernah berhenti. Hari ini mungkin pekerjaan, besok jabatan. Hari ini mungkin keluarga kecil, besok anak-anak yang bertambah. Kesibukan akan selalu menemukan jalannya. Yang diuji bukan ada atau tidaknya kesibukan, tetapi siapa yang tetap Allah Subhanahu wata‘ala letakkan di pusat hati.
Saudaraku, jangan-jangan tanpa sadar kita telah menjadi korban materialisme. Tolak ukur hidup kita turun jauh—dari para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, menjadi sekadar standar teman kantor, lingkungan sekitar, atau kebiasaan umum. Kita merasa “cukup baik” hanya karena shalat di masjid meski sering terlambat. Merasa “lumayan” karena tilawah satu-dua halaman. Merasa “istimewa” karena qiyamul lail seminggu sekali, itu pun dengan mata setengah terpejam dan shalat Subuh yang nyaris terlewat.
Padahal umat ini tidak membutuhkan kader yang penuh pembenaran. Umat ini membutuhkan kader yang kokoh—yang tidak dikalahkan oleh alasan-alasan ringan. Mungkin sudah saatnya kita membuka kembali catatan lama tentang ahammiyatus syahadatain, ahamiyyatut tarbiyah dan ahamiyyatud dakwah bahkan rijalul harokah.
Mengapa tarbiyah itu penting? Mengapa dakwah itu harus diperjuangkan? Apa makna hadir di halaqah? Apa nilai terlibat aktif dalam dakwah, bukan hanya bagi umat, tetapi bagi keselamatan diri kita sendiri?
Ketika kewajiban dakwah, bahkan yang paling minimal sudah terasa berat oleh kita, barangkali kita perlu melakukan “medical check-up” pada hati ini. Jangan-jangan debu dunia telah menutupinya terlalu tebal, hingga cahaya hidayah sulit menembus. Kalaupun masuk, hanya sedikit, dan dampaknya tak lagi kuat menggerakkan hati, pikiran, dan tindakan. Yang ringan terasa berat, yang berat terasa mustahil.
Jika itu yang terjadi, maka bersihkanlah hati ini secara besar-besaran. Bertaubatlah dengan sungguh-sungguh. Mendekatlah kepada Allah Subhanahu wata‘ala sedekat-dekatnya. Percayalah, dari semua nikmat dunia, nikmat hidayah adalah yang terbesar. Apa arti sehat jika berujung neraka? Apa arti harta jika berakhir dalam penyesalan abadi? Jangan pernah meremehkan neraka dengan anggapan keliru bahwa ia hanya “sebentar”. Ukuran waktu dunia dan akhirat tidak pernah sama.
Betapa ruginya seseorang yang telah diberi “tiket surga”, yang tugasnya hanya merawat tiket itu—agar tetap utuh dan dapat digunakan di pintu keabadian, namun justru menyia-nyiakannya. Bukan hanya merusak, bahkan membuangnya.
Saudaraku, pulanglah. Kembalilah ke halaqahmu. Ke tempat di mana hidayah dulu ditanamkan begitu kuat oleh pembina (murabbi) di relung hati kita. Di sanalah “tiket” itu dirawat. Di sanalah iman yang mendalam dikuatkan kembali.
Bersihkan hati kita. Perbaikilah shalat kita, dzikir kita, tilawah kita, shaum kita, dan amal-amal harian kita. Yang membedakan kita dari orang kebanyakan, bahkan dari sekadar orang berilmu adalah kedekatan ruhiyah kita dengan Allah Subhanahu wata‘ala. Jangan biarkan nasihatmu kehilangan bobot, karena ia lahir dari ilmu tanpa ruhiyah mendalam, tanpa amal yang hidup.
Dan akhirnya, pilihan itu tetap ada di tangan kita.
Menjadi kader dakwah yang kokoh—penopang perubahan umat.
Atau menjadi manusia biasa, yang larut dalam ambisi dan obsesi dunia.
Semua bebas memilih jalannya.
Namun konsekuensi pilihan itu tidak pernah sebebas pilihan itu sendiri.
Silakan engkau kejar kenikmatan sisa hidup 10, 20, 30, 50 tahun atau 60 tahun.
Atau kejarlah kehidupan abadi, yaitu akhirat, yang tak berbatas waktu.
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzab: 23)