@ Cecep Y Pramana
Ramadhan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Udara terasa lebih tenang, masjid lebih hidup, dan hati seperti diajak pulang ke rumah yang lama dirindukan. Di tengah dunia yang bising oleh target, tuntutan, dan kecemasan, maka bulan Ramadhan hadir menawarkan sesuatu yang sangat berharga: happiness, kebahagiaan yang tidak sekadar terasa di wajah, tetapi menetap di dalam jiwa.
Namun, kebahagiaan Ramadhan bukan hanya tentang berbuka bersama, hidangan khas, atau momen libur. “Happiness Ramadhan 1447 H adalah kebahagiaan yang tumbuh dari kedekatan dengan Allah Subhanahu wata’ala, dari kesadaran bahwa hidup ini punya arah, dan dari rasa cukup yang lahir dari iman.
Dalam Islam, kebahagiaan tidak selalu identik dengan kesenangan instan. Bahagia adalah ketika hati menemukan ketenangan, meski keadaan tidak selalu sempurna. Al-Qur’an menegaskan: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”. (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ramadhan adalah bulan yang mengajak kita memperbanyak dzikir, doa, dan ibadah. Dari sanalah ketenangan muncul. Bagi usia dewasa (30–50 tahun), Ramadhan sering menjadi momen refleksi: tentang pencapaian, kegagalan, keluarga, dan arah hidup. Ramadhan juga bisa menjadi ruang jeda dari hiruk-pikuk digital, tekanan sosial, dan pencarian jati diri. Keduanya dipertemukan dalam satu kebutuhan yang sama: ketenangan batin.
Puasa bukanlah tentang menahan lapar semata. Ia adalah proses melatih hati agar tidak diperbudak oleh keinginan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Rabb-nya”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kebahagiaan Ramadhan bersifat jangka pendek dan jangka panjang. Bahagia saat berbuka: kebahagiaan sederhana yang penuh rasa syukur, dan bahagia saat bertemu Allah Subhanahu wata’ala: kebahagiaan puncak di akhirat. Bagi generasi yang terbiasa dengan hasil instan, maka Ramadhan mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati sering kali lahir dari kesabaran dan pengendalian diri.
Happiness Ramadhan 1447 H: Bahagia karena Dimaafkan
Salah satu sumber kebahagiaan terbesar di bulan Ramadhan adalah ampunan Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Betapa leganya hati ketika dosa-dosa masa lalu dihapuskan. Bagi orang dewasa, ini adalah pengharapan baru bahwa masa lalu tidak mengunci masa depan. Ini adalah sebuah pesan kuat bahwa kesalahan bukan akhir segalanya. Ramadhan mengajarkan bahwa bahagia bukan berarti tanpa dosa, tetapi ketika dosa kita semua diakui dan diampuni Allah Subhanahu wata’ala.
Kebahagiaan dalam Berbagi dan Kepedulian
Bulan Ramadhan juga identik dengan meningkatnya kebaikan dan kepedulian sosial. Rasa lapar membuat kita lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Al-Qur’an mengingatkan: “Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai”. (QS. Al-Baqarah: 261)
Berbagi kebaikan tidak mengurangi kebahagiaan, justru melipatgandakannya. Memberi buka puasa (ifthar), bersedekah, atau sekadar membantu sesama menghadirkan rasa bermakna dalam hidup, ini sesuatu yang sangat dicari oleh generasi masa kini.
Di era serba cepat, banyak orang merasa lelah secara mental. Dan bulan Ramadhan datang sebagai ruang rehat jiwa. Jadwal ibadah yang teratur, berbagi kebaikan, tilawah Al-Qur’an, dan doa-doa malam menata ulang ‘ritme’ hidup kita. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ramadhan bukanlah beban, melainkan anugerah kemudahan yang Allah Subhanahu wata’ala hadiahkan agar kita kembali seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat serta kerja dengan makna spiritual. Melalui ibadah puasa Ramadhan, umat Muslim dididik untuk lebih produktif secara spiritual, bersabar dan menemukan ketenangan tanpa meninggalkan produktivitas duniawi.
Happiness Ramadhan sejatinya bukan hanya dirasakan selama 30 hari, tetapi dibawa setelahnya. Ketika shalat lebih terjaga, hati menjadi lebih lembut, dan hubungan dengan Allah Subhanahu wata’ala lebih dekat, maka itulah tanda keberhasilan di bulan Ramadhan.
Ramadhan mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berarti memiliki lebih banyak, di mana kebahagiaan sejati ditemukan bukan pada penumpukan materi, melainkan pada ketenangan hati atas kecukupan nikmat dari Allah Subhanahu wata’ala. Bahwa Allah Subhanahu wata’ala adalah sumber kepuasan tertinggi.
Semoga Ramadhan kali ini tidak hanya membuat kita tersenyum (kedamaian hati), tetapi juga membuat hati kita dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala, pemahaman makna hidup yang lebih mendalam, dan kebahagiaan hakiki melalui ibadah yang ikhlas. Wallahua’lam bishawab.
*** Sekilas tentang LAZ Ucare Indonesia:
UCare Indonesia adalah Lembaga Amil Zakat (LAZ) resmi berskala Provinsi Jawa Barat yang berdiri sejak 2017. Berkomitmen menghadirkan solusi sosial melalui pengelolaan zakat, infaq, sedekah, dan program CSR. UCare Indonesia terus menebar manfaat bagi masyarakat dan menjadi mitra kebaikan yang amanah dan profesional.
Donasi Kebaikan hanya di: bantusesama.co
- bantusesama.co/fidyah
- bantusesama.co/ZakatEmas
- bantusesama.co/ZakatPenghasilan
- bantusesama.co/ZakatInvestasi
- bantusesama.co/TemanDisabilitas
- bantusesama.co/PeduliPalestina
| REKENING KEBAIKAN atas nama: Yayasan Ukhuwah Care Indonesia | |
| Rekening Zakat | Rekening Infaq |
| BSI – 7100 3000 14 | BSI – 6856 6470 10 |
| MUAMALAT – 3050 7000 73 | BCA – 066 327 1960 |
| MANDIRI – 167 00 555 000 77 | MANDIRI – 167 000 2432 085 |
| Konfirmasi: Pak Acep – 6281287026443 | |