@ Cecep Y Pramana
Hari ini adalah hari di mana kita memberi penghormatan dengan rasa syukur kepada perjalanan waktu. Planet kita telah melakukan satu perjalanan lagi mengelilingi tata surya, dan kita menyebutnya satu tahun. Dan dimulainya tahun yang baru dengan penuh syukur dan harapan untuk masa depan planet kita, yang seringkali diiringi semangat untuk menjaga lingkungan.
Persepsi kita tentang waktu sangat berguna, karena membantu kita menjalani hidup. Ribuan tahun yang lalu, dengan teknologi yang akan dianggap cukup primitif menurut standar saat ini, orang-orang mampu mengukur dan mengantisipasi berbagai musim dalam setahun dengan akurat.
Konsep waktu telah penting untuk waktu yang lama. Namun, seperti alat yang berguna lainnya, waktu dapat disalahgunakan dan juga digunakan secara tidak tepat. Alasan seperti “Saya terlalu tua untuk melakukan itu” atau “Saya akan punya banyak waktu untuk itu nanti” adalah penyalahgunaan konsep waktu.
Yang pertama mengasumsikan bahwa tidak pernah ada cukup waktu. Yang kedua mengasumsikan bahwa selalu ada cukup waktu. Keduanya salah. Waktu adalah apa yang kita buat darinya. Waktu tidak membentuk kita, mendefinisikan kita, atau menyelamatkan kita dari biasa-biasa saja.
Entah kita mengatakan “tidak pernah ada cukup waktu” atau “selalu ada lebih banyak waktu,” yang sebenarnya kita katakan adalah kita tidak mau berusaha untuk menggunakan waktu dengan bijak. Pertimbangkan sejenak kemungkinan bahwa waktu tidak ada. Bahwa itu hanyalah konsep yang nyaman, sebuah teori, yang tidak memiliki dasar dalam kenyataan.
Bagaimana jika semua yang kita alami, semua yang kita alami sekarang, dan semua yang akan kita alami di masa depan, semuanya ada sekaligus? Jika kita memikirkannya, pernahkah kita benar-benar mengalami masa lalu atau masa depan? Tentu, kita memiliki kenangan masa lalu, tetapi pernahkah kita berada di sana?
Kita memiliki harapan, ketakutan, dan antisipasi untuk masa depan, tetapi pernahkah kita berada di sana? Faktanya, satu-satunya tempat kita berada adalah sekarang. Bagaimana jika tidak ada masa depan dan tidak ada masa lalu? Bagaimana jika kita harus menjadi semua yang kita bisa saat ini? Bagaimana itu akan mengubah kita?
Waktu adalah alat yang diciptakan manusia untuk membantu memahami alam semesta. Ini adalah alat yang sangat berguna yang membantu kita merencanakan, mengatur, dan memahami kehidupan kita. Namun, waktu terpisah dari keberadaan kita, sama seperti palu terpisah dari tukang kayu.
Meskipun palu adalah salah satu alat tukang kayu yang paling berguna, meskipun membantunya membentuk dunianya dan mencapai hal-hal besar, palu tidak mendefinisikan tukang kayu. Apakah tukang kayu berhenti mengerjakan pekerjaannya hanya karena ia telah menggunakan palunya terlalu lama? Tentu saja tidak.
Apakah tukang kayu mengabaikan pekerjaannya karena ia memiliki palu baru yang mengkilap yang akan “selalu ada”? Tidak. Kita harus belajar menggunakan waktu sebagaimana adanya tanpa membiarkannya menghambat kita.
Kita tidak kekurangan waktu. Kita tidak memiliki banyak waktu. Kita hanya memiliki penggunaan waktu. Terserah kita untuk menggunakannya dengan bijak. Nilai waktu sebagai sumber daya yang berharga dan pentingnya manajemen waktu yang bijaksana. Bismillah…
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana