@ Cecep Y Pramana
Pernahkah kita mengingat seorang guru di masa sekolah—seseorang yang begitu berkesan karena caranya menuntun dan mendidik kita untuk belajar dan berusaha lebih dari biasanya? Jika iya, barangkali kita juga ingat bahwa ia menuntut lebih banyak dibanding guru-guru lain.
Saat itu, tuntutan tersebut mungkin terasa tidak adil, bahkan menyakitkan. Namun ketika dikenang kembali, maka kita menyadari bahwa ia bukanlah bentuk kekerasan, melainkan wujud kasih sayang dan kepercayaan yang tulus. Ia melihat potensi besar dalam diri kita—bahkan saat kita sendiri belum sepenuhnya menyadarinya.
Di luar ruang kelas, kehidupan pun memiliki guru-gurunya sendiri. Dan sering kali, guru-guru terbaik hadir dengan wajah yang tidak ramah. Mereka menjelma dalam kekecewaan, kesedihan, kebingungan, kesepian, bahkan frustrasi. Semua terasa berat dan menyakitkan. Namun, justru dari sanalah pelajaran paling dalam dan pertumbuhan paling berarti sering lahir.
Pengalaman-pengalaman itu menantang kita semua untuk melangkah lebih tinggi dari batas kemampuan yang kita kira. Ia menyingkap siapa diri kita sebenarnya, lalu perlahan membentuk karakter itu menjadi lebih kuat dan matang.
Maka, di tengah keputusasaan, tabahkanlah hati. Bisa jadi, pada saat ini pun ada “guru” yang bekerja dengan penuh kasih—menghadirkan ujian demi mengeluarkan potensi terbaik dalam diri kita. Peran guru sangat besar dalam meningkatkan dan menyesuaikan daya serap para siswa dengan ketersediaan kegiatan yang biasa.
Meski saat ini sulit untuk memahami sepenuhnya, tapi akan datang suatu waktu ketika kita melihatnya dengan penuh rasa syukur. Karena itu, terimalah setiap momen sebagai kesempatan untuk terus belajar dan bertumbuh. Bismillah…
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana