@ Cecep Y Pramana
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS Al-Qadr: 1-5).
Ayat ini pendek, namun getarannya panjang. Ia mengajak kita berhenti sejenak untuk merenung. Bahwa dalam perjalanan hidup yang sibuk dan padat ini, ada satu malam yang nilainya melampaui ribuan bulan.
Dalam Surat Ad-Dukhan ayat 1 sampai 3, Allah Subhanahu wata’ala kembali menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam yang diberkahi. Sementara dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 disebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi manusia.
Para ulama, sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Ibnu Katsir, mengaitkan peristiwa turunnya Al-Qur’an pertama kali pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Artinya jelas, lailatul qadar bukan sekadar malam istimewa, ia adalah malam turunnya cahaya. Malam ketika langit begitu dekat dengan bumi, dan malam ketika rahmat Allah Subhanahu wata’ala terbuka luas.
Waktu terasa cepat dan usia bertambah tanpa terasa serta tanggung jawab makin besar. Energi tidak selalu sama seperti dulu. Di titik ini, kita mulai sadar bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian. Ada pertanyaan yang lebih dalam. Apa yang sudah kita siapkan untuk pulang?
Umat sebelum Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam diberi usia yang panjang. Ada nabi yang hidup hingga ratusan tahun. Sementara usia umat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam relatif lebih singkat. Namun Allah Subhanahu wata’ala memberi hadiah yang luar biasa.
Satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Jika dihitung, itu setara dengan lebih dari delapan puluh tiga tahun ibadah. Bukan tentang angka. Tetapi tentang kesempatan. Allah Subhanahu wata’ala memberi ruang agar kita tidak kalah dalam perlombaan menuju kebaikan.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat memotivasi para sahabat ketika Ramadhan tiba. Dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan Imam An-Nasa’i, dari Abu Hurairah r.a., beliau bersabda bahwa di dalam Ramadhan ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Siapa yang tidak mendapatkannya, maka sungguh ia telah kehilangan kebaikan yang besar. Kata kehilangan di sini terasa dalam, karena yang hilang bukan sekadar satu malam, tetapi yang hilang adalah peluang besar untuk mendekat, untuk diampuni, untuk diangkat derajatnya.
Para ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar terjadi di bulan Ramadhan dan berulang setiap tahun hingga hari kiamat. Namun tentang tanggal pastinya, terdapat perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat malam 17 Ramadhan, dikaitkan dengan peristiwa turunnya Al-Qur’an dan momentum Perang Badar. Ada yang menyebut malam 21 atau 23. Banyak riwayat yang menguatkan malam 27 Ramadhan. Di antaranya riwayat dari Ibnu Umar r.a. yang dikutip oleh Ibnu Abi Syaibah dan lainnya.
Namun ada satu hadits yang sangat kuat, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan”.
Di sini terasa hikmahnya. Allah Subhanahu wata’ala tidak menyebutkan secara pasti tanggalnya. Agar kita tidak hanya bersemangat satu malam. Agar kita menghidupkan sepuluh malam terakhir dengan lebih sungguh.
Bagi jiwa yang mulai lelah oleh rutinitas kerja, maka sepuluh malam terakhir adalah ruang sunyi. Ruang untuk memperlambat langkah, ruang untuk berbicara jujur pada diri sendiri. Apakah selama ini kita terlalu sibuk dengan dunia. Apakah hati kita masih mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala.
Lailatul Qadar adalah malam yang tenang. Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa malam itu terasa jernih, damai, tidak panas dan tidak dingin. Matahari paginya terbit dengan lembut. Seolah alam pun ikut tunduk dalam ketenangan.
Namun, tanda paling penting bukan pada langit. Tanda terpenting ada pada hati. Apakah malam itu membuat kita lebih dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala, apakah ia meninggalkan bekas taubat yang sungguh, atau apakah ia melahirkan keputusan untuk berubah.
Lailatul Qadar adalah momen evaluasi, bukan hanya memperbanyak ibadah secara fisik, tetapi menghadirkan hati. Qiyam dengan sadar, doa dengan harap dan istighfar dengan air mata.
Aisyah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, doa apa yang sebaiknya dibaca jika bertemu Lailatul Qadar. Beliau mengajarkan doa yang singkat namun dalam, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku.
Lailatul Qadar adalah undangan. Undangan untuk kembali, undangan untuk merendah, dan undangan untuk memperbaiki yang selama ini retak. Maka, jangan biarkan sepuluh malam terakhir berlalu tanpa makna. Kurangi yang tidak perlu, perbanyak duduk bersama Al-Qur’an, dan panjangkan sujud. Perbanyak doa untuk diri, keluarga, dan generasi setelah kita.
Semoga Allah Subhanahu wata’ala mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar. Bukan hanya sebagai malam yang kita tahu ilmunya. Tetapi sebagai malam yang benar-benar mengubah arah hidup kita. Malam yang menjadikan kita lebih tenang, lebih sadar, dan lebih siap ketika saat pulang itu benar-benar tiba. Wallahua’lam bishawab.