@ Cecep Y Pramana
Hidup tidak pernah berjalan tanpa arah. Ada rencana yang bekerja dalam diam, rapi, dan penuh hikmah. Kita sering menyebutnya takdir, tetapi sejatinya itu adalah bentuk tarbiyah dari Allah Subhanahu wata’ala. Cara Allah Subhanahu wata’ala mendidik hamba-Nya, perlahan, dalam setiap peristiwa yang kita alami.
Kita tidak memilih kapan lahir. Kita juga tidak tahu kapan akan kembali. Di antara dua titik itu, hidup terasa seperti perjalanan panjang yang penuh warna. Namun, jika direnungkan dengan tenang, semuanya berada dalam satu kendali. Kendali Allah Subhanahu wata’ala.
Di sinilah makna Surat Al-Ikhlas menjadi begitu dalam. Surat yang singkat, tetapi menata ulang cara kita memandang hidup. “Katakanlah, Allah itu Ahad”. Satu. Tidak terbagi dan tidak bergantung pada apa pun.
Saat kita menarik diri sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, maka kita mulai melihat dengan lebih jernih. Semua yang kita banggakan, semua yang kita khawatirkan, semua yang kita kejar, sejatinya adalah ciptaan. Kepintaran, kecantikan, kekuatan, jabatan, bahkan seluruh alam semesta dengan segala isinya, berada dalam genggaman Allah Subhanahu wata’ala.
Kesadaran ini tidak melemahkan. Justru menenangkan. Kita tidak perlu terlalu cemas menjaga sesuatu yang memang bukan milik kita sepenuhnya. Kita tidak perlu berlebihan takut kehilangan sesuatu yang sejak awal hanya dititipkan. Ketika hati memahami bahwa Allah Subhanahu wata’ala adalah sumber dan tujuan, rasa gelisah perlahan mereda.
Ada ketenangan yang tumbuh dari kesadaran itu. Semakin bertambah usia, maka waktu terasa bergerak lebih cepat. Yang dulu terasa jauh, kini terasa dekat. Namun, bagi hati yang terlatih oleh tarbiyah Allah Subhanahu wata’ala, maka hal ini bukan sesuatu yang menakutkan. Justru menghadirkan rasa rindu. Rindu untuk kembali kepada sumber kehidupan.
Kembali kepada Allah.
Semua akan sampai pada titik itu. Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada yang bisa menunda. Penguasa, orang kaya maupun miskin, orang yang dihormati, maupun yang sederhana, semuanya akan pulang. Harta, jabatan, dan pujian tidak ikut serta. Yang tersisa hanya amal dan kedekatan dengan-Nya.
Lalu datang ayat berikutnya. “Allahu shamad”. Allah Subhanahu wata’ala tempat bergantung segala sesuatu. Kalimat ini begitu sederhana, tetapi mengguncang kesadaran dan hati kita. Kita sering merasa mandiri. Merasa mampu mengatur hidup sendiri. Padahal, dalam setiap detak jantung, dalam setiap tarikan napas, kita sepenuhnya bergantung kepada Allah Subhanahu wata’ala. Bukan hanya kita. Semua makhluk, tanpa kecuali.
Tidak ada yang benar-benar berdiri sendiri. Kesadaran ini mengarahkan ulang langkah hidup. Tempat bergantung bukan lagi manusia, bukan jabatan, bukan harta, bukan pula pengakuan. Semua itu rapuh. Semua itu terbatas.
Hanya Allah yang tidak pernah goyah. Maka, menggantungkan harapan hanya kepada-Nya bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan. Berdoa kepada-Nya bukan sekadar ritual, tetapi bentuk kejujuran hati. Bahwa kita lemah, dan Dia Maha Kuat.
Tarbiyah Allah Subhanahu wata’ala tidak selalu hadir dalam bentuk kemudahan. Terkadang hadir dalam kesulitan, kehilangan, atau kegagalan. Namun di situlah hati dilatih untuk kembali. Untuk tidak tersesat dalam ketergantungan yang keliru.
Dan pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa jauh kita melangkah. Tetapi hidup ini tentang ke mana kita akan kembali. Hidup adalah perjalanan sementara, dan hanya Allah Subhanahu wata’ala tempat bergantung serta tempat kembali sejati. Dan tempat kembali itu hanya satu, yaitu Allah Subhanahu wata’ala dalam keadaan husnul khatimah. Wallahua’lam bishawab.
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana