@ Cecep Y Pramana
Tarbiyah bukan sekadar istilah. Ia adalah sebuah proses panjang yang menyentuh seluruh sisi kehidupan. Dalam makna bahasa, tarbiyah mencakup pembentukan (tansyi’ah), pemeliharaan (ri’ayah), pengembangan (tanmiyah), dan pengarahan (taujih). Empat unsur ini bukan bagian yang terpisah, tetapi satu rangkaian yang saling menguatkan.
Melalui berbagai sarana seperti halaqah, mabit, taklim di masjid, tatsqif, membina, hingga kegiatan lapangan, tarbiyah diarahkan untuk mencapai tujuan yang jelas, yaitu terbentuknya pribadi muslim yang shalih dan mampu memberi perbaikan bagi sekitarnya.
1. Tansyi’ah (Pembentukan): Membentuk Fondasi Diri
Pembentukan adalah langkah awal yang menentukan arah. Pada tahap ini, tarbiyah menyentuh tiga sisi utama. Pertama, ruhiyah ma’nawiyah. Hati perlu dihidupkan melalui ibadah yang konsisten.
Qiyamullail, tilawah, dzikir, dan shaum sunnah bukan sekadar rutinitas. Ia adalah cara menjaga hubungan dengan Allah Subhanahu wata’ala tetap dekat dan terasa. Peran pembina, pembimbing, sangat penting di sini. Setiap kegiatan ruhiyah harus menghadirkan kesadaran. Bukan sekadar menjalankan program, tetapi benar-benar merasakan proses pembentukan batin.
Kedua, fikriyah tsaqofiyah. Tarbiyah membentuk cara berpikir yang jernih dan utuh. Ilmu tidak hanya dikumpulkan, tetapi dipahami dan dihayati. Tatsqif dan taklim harus mengarah pada kedalaman pemahaman agama, bukan sekadar menambah informasi.
Ketiga, amaliyah harakiyah. Apa yang diyakini harus tampak dalam tindakan. Dakwah, kontribusi sosial, dan keterlibatan dalam pembinaan menjadi wujud nyata dari iman dan ilmu. Keseimbangan antara hati, pikiran, dan amal menjadi kunci.
2. Ri’ayah (Pemeliharaan): Menjaga yang Sudah Tumbuh
Apa yang sudah terbentuk tidak boleh dibiarkan begitu saja. Ia perlu dijaga. Keimanan bisa naik dan turun, semangat bisa menguat dan melemah. Karena itu, ri’ayah menjadi proses penting untuk memastikan semua tetap berada pada jalurnya.
Pemantauan dan evaluasi diperlukan, bukan untuk menekan, tetapi untuk merawat. Tilawah harian, ibadah malam, kegiatan ilmu, hingga aktivitas dakwah perlu dijaga ritmenya. Konsistensi lebih berharga daripada lonjakan sesaat.
3. Tanmiyah (Pengembangan): Terus Bertumbuh dan Berkembang
Tarbiyah tidak mengenal kata selesai. Selalu ada ruang untuk memperbaiki diri. Seseorang yang berada dalam proses tarbiyah tidak berhenti pada capaian saat ini. Ia melihat ke depan. Ia menyadari kekurangan, lalu berusaha memperbaikinya. Ia tidak merasa cukup, tetapi juga tidak kehilangan arah.
Pengembangan ini bukan hanya untuk diri sendiri. Ia juga menyiapkan seseorang agar mampu menjawab kebutuhan umat. Memberi solusi. Mengambil peran. Dan, saat dibutuhkan, siap memimpin dengan tanggung jawab.
4. Taujih dan Tauzhif: Mengarahkan dan Memberdayakan
Tarbiyah tidak berhenti pada kualitas pribadi. Ia harus melahirkan peran. Setiap individu memiliki potensi yang berbeda. Tugas pembina, pembimbing, adalah membantu mengarahkan dan menempatkan potensi itu pada tempat yang tepat.
Sementara itu, setiap peserta tarbiyah dituntut untuk siap diarahkan, diberi amanah, dan menjalankan peran dengan kesungguhan. Di titik ini, tarbiyah melahirkan pribadi yang tidak hanya baik untuk dirinya, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain. Pribadi yang siap berkontribusi, berjuang, dan berkorban untuk kebaikan yang lebih luas.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Di antara orang-orang beriman itu ada yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah…” (QS. Al-Ahzab: 23). Ayat ini mengingatkan bahwa komitmen dalam perjalanan ini bukan sesuatu yang ringan. Ia menuntut kesungguhan dan keteguhan.
Menilai Hasil Tarbiyah
Keberhasilan tarbiyah tidak hanya terlihat dari banyaknya kegiatan, tetapi dari dampaknya. Sejauh mana seseorang berkontribusi dalam menyebarkan kebaikan. Sejauh mana ia mampu menjaga nilai di tengah tantangan. Dan sejauh mana ia tetap teguh saat menghadapi berbagai bentuk penyimpangan.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka…” (QS. At-Taubah: 111). Ayat ini menegaskan bahwa setiap pengorbanan dalam jalan ini tidak sia-sia. Semua tercatat, dan semua bernilai.
Pada akhirnya, tarbiyah adalah perjalanan yang menuntut kesabaran dan kejujuran. Ia membentuk, menjaga, mengembangkan, dan mengarahkan. Tidak selalu mudah, tetapi selalu bermakna.
Semoga setiap langkah dalam proses ini menguatkan kita. Menjaga kita tetap berada di jalan yang benar. Dan mengantarkan kita pada akhir yang terbaik di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam bishawab.
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana