Skip to content

RUMAH PENA MOTIVASI

Menu
  • Home
  • Artikel
    • Ramadhan
    • Umroh
    • Keluarga
  • Motivasi
  • Cerita
  • Coretan
  • Dari Anda
  • Berita Iklan
  • Tentang Admin
Menu

Matinya Hati

Posted on 13 April 202611 April 2026 by ceppangeran

@ Cecep Y Pramana

Ada tawa yang terdengar lepas, tetapi tidak diikuti kesadaran. Seolah hidup masih panjang, seolah waktu tidak akan habis. Padahal, di balik setiap detik, ada kepastian yang terus mendekat. Kematian tidak pernah menunggu siap atau tidaknya kita.

Ada pula yang bersegera datang ke shaf shalat. Langkahnya cepat, gerakannya rapi. Namun hatinya tidak hadir. Ia datang seperti menjalankan kewajiban administratif. Ingin segera selesai, lalu kembali pada urusan lain. Hubungan dengan Allah terasa jauh, kering, tanpa getar.

Ibadah yang kehilangan rasa, perlahan menjadi rutinitas tanpa makna. Sebagian orang berhenti pada pengetahuan. Ia tahu banyak, paham banyak, mampu menjelaskan banyak hal. Namun ilmu itu tidak turun menjadi amal. Padahal ilmu bukan untuk dikoleksi, tetapi untuk dijalani. Tanpa amal, ilmu hanya akan menjadi beban yang kelak dimintai pertanggungjawaban.

Ada juga yang fasih berbicara tentang keheningan, tentang air mata di sepertiga malam, tentang lapar karena puasa, atau tentang panjangnya munajat. Kata-katanya indah. Susunannya rapi. Namun di dalam hatinya, tidak ada yang benar-benar hidup.

Lidahnya berjalan lebih jauh daripada jiwanya. Ada yang dipuji, lalu merasa pantas menerimanya. Ia menikmati citra baik yang diberikan orang lain, tanpa merasa perlu mengoreksi dirinya. Padahal, Abu Bakar Ash-Shiddiq justru gemetar saat dipuji. Ia berdoa agar Allah menjadikannya lebih baik dari sangkaan manusia, dan mengampuni apa yang tidak mereka ketahui.

Di situlah letak kejujuran hati. Ada orang yang beramal besar, lalu melupakannya. Ia tidak merasa perlu mengingat atau menyebutnya. Ada pula yang sedikit beramal, tetapi terus mengingatnya. Bahkan menjadikannya alasan untuk merasa lebih baik dari orang lain. Lebih jauh lagi, ada yang hampir tidak berbuat, tetapi merasa paling benar dan sibuk menilai orang lain.

Perlahan, amal bergeser menjadi kata. Usaha digantikan oleh opini. Lalu kita bertanya dalam diam, di mana posisi kita? Dulu, saat kecil, rasa takut begitu mudah muncul. Gelap membuat kita gelisah. Suara asing membuat kita waspada. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, rasa takut itu berkurang. Itu wajar.

Namun ada satu hal yang seharusnya tidak hilang. Rasa takut kepada Allah. Jika hati tidak lagi bergetar saat berbuat salah, itu tanda yang perlu diwaspadai. Ketika maksiat terasa biasa, bahkan dinikmati tanpa rasa bersalah, di situlah hati mulai mengeras. Malam berlalu tanpa ibadah. Usia bertambah tanpa kedewasaan ruhani. Rasa malu kepada Allah perlahan menghilang.

Dan ketika rasa malu hilang, batasan pun ikut memudar. Di luar sana, banyak hal yang dulu dianggap tidak pantas, kini menjadi hal biasa. Bukan hanya diterima, tetapi juga ditampilkan. Disaksikan tanpa rasa risih. Bahkan terkadang dinikmati.

Bahaya terbesar bukan pada perubahan di luar, tetapi pada hilangnya kepekaan di dalam. Yang dulu terasa mengganggu, kini terasa wajar. Yang dulu ditolak, kini diterima. Yang dulu membuat gelisah, kini tidak lagi menyentuh hati.

Inilah tanda ketika hati mulai kehilangan fungsinya. Dalam kehidupan sosial, godaan sering datang dalam bentuk yang halus. Interaksi yang awalnya biasa, perlahan melewati batas. Percakapan yang tidak perlu, dibiarkan berlanjut. Kedekatan yang tidak terjaga, dianggap hal yang lumrah.

Semua terasa kecil. Namun jika terus dibiarkan, ia akan membentuk kebiasaan. Dan kebiasaan membentuk karakter. Ada juga ujian dalam bentuk pengakuan. Saat seseorang mulai dikenal, didengar, dan diikuti. Di titik ini, keikhlasan sering diuji. Keputusan tidak lagi murni karena benar atau salah, tetapi karena disukai atau tidak disukai.

Nilai perlahan tergeser oleh citra. Padahal satu langkah kecil yang melenceng, jika dibiarkan, akan membawa pada penyimpangan yang jauh. Kesalahan tidak selalu besar di awal. Ia sering dimulai dari hal kecil yang diabaikan.

Yang lebih mengkhawatirkan, ketika orang yang seharusnya menjadi teladan justru memberi contoh yang membingungkan. Kata dan perbuatan tidak sejalan. Nilai yang disampaikan tidak tercermin dalam sikap.

Kepercayaan pun perlahan luntur. Di titik ini, setiap orang perlu kembali bertanya pada dirinya. Bukan tentang orang lain. Bukan tentang keadaan di luar. Tetapi tentang dirinya sendiri. Apakah hati ini masih hidup? Apakah masih ada rasa gelisah saat berbuat salah? Apakah masih ada keinginan untuk memperbaiki diri?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu tidak perlu disampaikan kepada siapa pun. Cukup jujur pada diri sendiri. Karena hati yang hidup tidak selalu terlihat. Namun ia terasa. Dalam kepekaan. Dalam rasa malu. Dalam keinginan untuk kembali. Dan selama itu masih ada, harapan selalu terbuka. Wallahu a’lam bishawab.

Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana

0Shares
Category: Artikel

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Statistik

  • 0
  • 3,459
  • 1,091,970
  • 2,514

Tiket.com

banner

HALO MOTIVASI

Pelago.com – Travel

KREMES KRATON

ADIDAS ID

EIGER

LAZADA INDONESIA

diskonMU

NEOZEN KOREA

Pengunjung

Flag Counter

Arsip

Kategori

© 2026 RUMAH PENA MOTIVASI | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme