@ Cecep Y Pramana
Murabbi adalah sosok yang tidak sekadar hadir untuk menyampaikan materi, tetapi ia hadir untuk membersamai proses. Ia membina, menjaga, dan mengarahkan. Dalam halaqah tarbawiyah, ia bisa menjadi pemimpin yang menuntun arah, guru yang memberi pemahaman, orang tua yang mengayomi, dan sahabat yang selalu mendengarkan.
Peran yang berlapis ini membuat posisi murabbi tidak ringan. Ia bukan hanya dituntut untuk tahu, tetapi juga untuk peka. Bukan hanya berbicara, tetapi juga mendengar dan memahami. Karena itu, wajar jika kehadirannya sangat berpengaruh dalam perjalanan seorang mutarabbi, yaitu orang yang dididik, dibimbing, dan dibina dalam kelompok studi Islam atau halaqah (tarbiyah).
Setiap orang mungkin akan memiliki gambaran berbeda tentang sosok murabbi yang ideal atau idaman. Namun, ada beberapa hal yang sering menjadi titik temu. Hal ini tidak berdiri sendiri, tetapi saling melengkapi dan menguatkan.
Satu: Mampu Membuat dan Menghidupkan Suasana
Halaqah (tarbiyah) bukan hanya tempat duduk dan mendengar. Halaqah adalah ruang interaksi, dan tempat hati untuk saling menyapa. Murabbi yang mampu menghadirkan suasana yang hangat akan membuat setiap pertemuan halaqah terasa dinanti. Ada rasa nyaman, rasa cinta, dan ada rasa diterima.
Ia tidak membiarkan halaqah berjalan kaku. Ia menghidupkan suasana dengan cara yang wajar, kadang dengan sapaan yang manis dan tulus, kadang dengan humor yang ringan, bahkan kadang hanya dengan perhatian kecil yang terasa dalam.
Ia juga peka, saat ada yang diam lebih dari biasanya, maka ia tidak mengabaikan. Saat ada yang terlihat lelah, maka ia tidak menuntut berlebih. Ia berusaha menjaga agar setiap orang tetap merasa punya tempat. Suasana yang baik tidak muncul begitu saja, karena ia dibangun dengan kehadiran yang utuh, dan penuh cinta.
Dua: Mendidik dan Membimbing dengan Cara yang Mengena
Setiap mutarabbi datang dengan latar belakang yang berbeda. Cara berpikirnya tidak sama, dan cara menerima nasihat pun berbeda. Murobbi yang baik tidak memaksakan satu cara. Ia mencari pendekatan yang paling bisa diterima. Ia tidak hanya menyampaikan, tetapi berusaha agar pesannya sampai dan membekas.
Ia tidak terburu-buru, karena ia memahami bahwa perubahan itu butuh waktu. Dalam menyampaikan materi, ia tidak selalu bergantung pada penjelasan panjang. Kadang ia mengajak melihat langsung ke lapangan, kadang ia mengajak berdiskusi, bahkan kadang ia cukup memberi satu kalimat yang tepat di waktu yang tepat. Ia sadar bahwa yang dibangun bukan hanya pemahaman, tetapi juga kesadaran.
Tiga: Dekat dan Mudah Didekati (Pandai Bergaul)
Hubungan dalam halaqah bukanlah hubungan formal, karena ia lebih dekat dari itu. Murobbi idaman yang dirindukan adalah yang mudah didekati. Tidak menciptakan jarak, dan tidak membuat orang merasa sungkan berlebihan.
Ia hadir sebagai tempat bertanya, tempat berbagi, dan tempat kembali saat ada kebingungan. Kedekatan antara murabbi dan mutarabbi ini tidak dibangun dengan sikap dibuat-buat. Ia tumbuh dari ketulusan, dan dari kesediaan untuk mendengar tanpa menghakimi.
Ketika hubungan sudah terbangun, maka mutarobbi akan lebih terbuka kepada murabbi. Ia berani menyampaikan kegelisahannya, dan ia juga tidak ragu meminta arahan. Di titik ini, halaqah tidak lagi sekadar pertemuan rutin, namun ia menjadi ruang tumbuh yang nyata.
Empat: Memiliki Wawasan yang Luas dan Relevan (Trend Masa Kini)
Kehidupan terus bergerak, tantangan berubah, dan realitas yang dihadapi mutarabbi hari ini tidak selalu sederhana. Murabbi perlu memahami itu. Ia tidak cukup hanya berada dalam satu lingkaran pengetahuan. Ia mengenal isu sosial, memahami dinamika masyarakat, dan juga mengikuti perkembangan zaman secukupnya.
Bukan hanya untuk sekadar tahu, tetapi agar mampu mengaitkan nilai Islam dengan kehidupan yang dihadapi mutarabbi. Dengan wawasan yang luas, maka penyampaian menjadi lebih hidup. Diskusi menjadi berjalan lebih bermakna, dan halaqah tidak terasa jauh dari realitas.
Ia juga tidak merasa perlu selalu menjadi yang paling benar. Ia membuka ruang dialog. Ia menyampaikan dengan tenang. Ia memberi kesimpulan tanpa kesan menggurui. Dari sini, tumbuh sikap peduli. Tumbuh keinginan untuk berkontribusi. Dan perlahan, kesadaran sosial mulai terbentuk.
Lima: Murabbi Sebagai Penguat, Bukan Pusat
Murabbi yang baik tidak menempatkan dirinya sebagai pusat. Ia sadar bahwa tujuan akhir bukan dirinya, tetapi Allah Subhanahu wata’ala. Di awal, kehadirannya mungkin sangat berpengaruh. Cara berbicara, cara bersikap, bahkan kepribadiannya bisa menjadi daya tarik. Hal itu sangat wajar.
Namun seiring waktu, ia mengarahkan agar ketergantungan itu berkurang. Ia menuntun mutarabbi untuk menemukan hubungan langsung dengan Allah Subhanahu wata’ala. Ia membimbing agar motivasi tidak berhenti pada manusia. Di sinilah kedewasaan seorang murabbi terlihat. Ia tetap hadir, tetapi tidak ingin menjadi sandaran utama.
Menjadi murabbi idaman bukan tentang ia harus tampil sempurna. Tetapi tentang kesungguhan untuk terus memperbaiki diri, tentang kesediaan untuk hadir dengan hati dan ketulusan. Halaqah yang hidup seringkali lahir dari sosok murabbi yang tulus.
Murabbi tidak hanya mengajar, tetapi juga membersamai. Dan dari kebersamaan itu, maka tumbuh kepercayaan. Dari kepercayaan, maka lahir kekuatan. Dari kekuatan, maka terbentuklah basis sosial yang kokoh. Perjalanan halaqah tidak harus cepat, namun setiap langkahnya bernilai. Wallahu a’lam bishawab.
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana