@ Cecep Y Pramana
Ada masa ketika hati terasa penuh semangat, dorongan datang begitu kuat, ide terasa segar, dan langkah pun ringan dimulai. Pada titik itu, hampir semua orang mampu bergerak. Namun waktu berjalan, rasa baru itu perlahan memudar.
Apa yang dulu terasa menyenangkan, kini mulai terasa biasa saja. Bahkan kadang terasa berat. Di sinilah banyak langkah terhenti, bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak lagi digerakkan oleh rasa yang sama.
Kegembiraan memang menghidupkan awal. Ia memberi energi, memantik keberanian, dan mendorong seseorang untuk memulai. Tetapi kegembiraan bukanlah bahan bakar yang bertahan lama. Ia datang sebagai reaksi, lalu pergi seiring waktu. Di titik inilah komitmen mengambil peran.
Komitmen tidak bergantung pada suasana hati. Ia tidak menunggu rasa nyaman, karena komitmen adalah keputusan yang diambil dengan sadar, lalu dijaga dengan kesungguhan. Ia tetap berdiri, bahkan ketika semangat tidak lagi terasa.
Banyak orang mampu memulai, dan tidak sedikit yang mampu berlari di awal. Namun, hanya mereka yang berkomitmen yang mampu bertahan hingga akhir. Komitmen menuntut lebih dari sekadar keinginan. Ia meminta kedalaman alasan.
Mengapa hal ini penting? Untuk apa semua ini dijalani? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu mudah dijawab, tetapi di sanalah akar kekuatan itu tumbuh. Ketika alasan menjadi jelas dan bermakna, maka langkah kita tidak lagi bergantung pada rasa.
Ia bergerak karena kesadaran, bertahan karena keyakinan. Menjaga komitmen bukan perkara sekali jadi. Ia perlu diingatkan, dipelihara, dan diperbarui. Ada hari-hari terasa lelah, ada saat-saat ragu, tetapi komitmen mengajak kita kembali pada tujuan, bukan pada perasaan sesaat.
Kegembiraan memang menjanjikan banyak hal. Ia membuat kita melihat kemungkinan. Kegembiraan hanyalah langkah awal yang membuka wawasan dan visi, namun komitmenlah yang mewujudkannya menjadi kenyataan.
Pada akhirnya, bukan siapa yang paling bersemangat di awal yang akan sampai. Tetapi siapa yang tetap berjalan, meski tanpa gemuruh rasa, karena ia telah memilih untuk tetap setia pada jalannya. Bismillah…
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana