@ Cecep Y Pramana
Pembinaan (tarbiyah) bagi wanita muslimah bukan sekadar proses belajar. Ia adalah perjalanan dalam pembentukan diri. Untuk membentuk kepribadian integral yang mencakup akidah yang bersih, ibadah yang benar, dan akhlak yang kokoh. Sebuah ikhtiar panjang untuk menumbuhkan kualitas iman, akal, dan amal dalam satu kesatuan yang utuh.
Dalam Islam, perempuan tidak pernah ditempatkan sebagai sosok pelengkap. Ia adalah subjek yang juga memiliki peran, amanah, dan potensi besar. Karena itu, ia berhak mendapatkan pembinaan yang serius, terarah, dan berkelanjutan.
Sejarah telah mencatat. Sejak masa awal kenabian, perempuan hadir dalam barisan dakwah. Mereka tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga pelaku. Potensi itu tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari proses tarbiyah yang bertahap dan terus dijaga.
Tujuan tertinggi dari tarbiyah adalah melahirkan manusia yang baik. Manusia yang dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala, dan lurus dalam menjalani hidup. Sebagaimana isyarat Al-Qur’an, bahwa kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wata’ala ditentukan oleh ketakwaan (QS Al Hujurat: 13).
Secara umum, tujuan tarbiyah Islamiyah menurut Dr. Ali Abdul Halim Mahmud adalah, mengarahkan manusia agar mampu hidup dengan benar di dunia, dan kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam keadaan diridhai. Bagi wanita muslimah, tujuan ini menjadi fondasi sebelum melangkah lebih jauh ke ranah keluarga, masyarakat, dan dakwah.
Tujuan tarbiyah Islamiyah bagi wanita muslimah, pada dasarnya fokus pertama tetap pada diri pribadinya terlebih dahulu, karena dari pribadi yang tertata, akan lahir kontribusi yang bermakna. Adapun tujuan tarbiyah bagi pribadi wanita muslimah adalah:
Satu: Membentuk Syakhshiyah Muslimah yang Utuh
Tarbiyah mengarah pada lahirnya pribadi muslimah yang seimbang. Tidak timpang, tidak berat sebelah. Seluruh potensi dirinya tumbuh dan saling menguatkan. Ruhnya hidup, akalnya tajam, akhlaknya kokoh, fisiknya terjaga, dan amalannya nyata.
Kepribadian ini tidak dibangun dalam waktu singkat. Ia dibentuk melalui proses panjang yang konsisten. Sedikit demi sedikit, namun terus bergerak. Ciri-cirinya jelas.
Akidahnya lurus (Salimul Aqidah). Ia mengenal Allah Subhanahu wata’ala dengan benar, dan menjaga keyakinannya dari keraguan. Ibadahnya terjaga (Shahihul Ibadah). Ia berusaha mengikuti tuntunan syariat dengan penuh kesadaran, bukan sekadar rutinitas.
Akhlaknya kuat (Matinul Khuluq). Ia mampu menahan diri, mengelola emosi, dan menjaga kehormatan diri di berbagai keadaan. Ia mandiri dalam kehidupan (Qadirun Alal Kasbi). Mampu berusaha, berkarya, dan tidak bergantung secara lemah kepada orang lain.
Wawasan berfikir yang luas (Mutsaqaful Fikri). Ia terbuka untuk belajar, membaca realitas, dan memahami perubahan zaman tanpa kehilangan arah. Fisiknya dijaga (Qawiyul Jismi). Karena tubuh yang kuat membantu ibadah dan amanah berjalan lebih optimal. Ia bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu (Mujahidun Linafsihi). Ini jihad yang sunyi, tetapi paling menentukan.
Hidupnya tertata, teratur (Munazhamun fii Syu’unihi). Ia mengelola waktu, pekerjaan, dan tanggung jawab dengan disiplin. Waktunya dijaga (Harisun ala Waqtihi). Ia sadar bahwa waktu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Dan yang paling penting, ia harus menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain (Nafi’un li Ghairihi).
Dari sinilah lahir sosok wanita muslimah yang tenang, kuat, dan memberi pengaruh. Bukan karena ingin terlihat, tetapi karena kualitas dirinya memang terasa.
Dua: Membentuk Syakhshiyah Da’iyah
Tarbiyah tidak berhenti pada keshalihan pribadi. Ia harus meluas menjadi keshalihan sosial. Seorang wanita muslimah tidak cukup hanya baik untuk dirinya sendiri. Ia juga perlu hadir sebagai pembawa kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.
Di sinilah peran sebagai muslimah da’iyah mulai tumbuh. Ia belajar menyampaikan kebenaran dengan hikmah, mengajak tanpa memaksa, dan mengingatkan tanpa merendahkan. Ia peka terhadap kondisi masyarakat. Tidak sibuk dengan dirinya sendiri, tetapi peduli terhadap arah kehidupan orang lain.
Amar ma’ruf dan nahi munkar menjadi bagian dari napas hidupnya. Dilakukan sesuai kemampuan, dengan cara yang bijak. Generasi awal wanita muslimah telah memberi contoh. Mereka terlibat dalam dakwah, mendampingi perjuangan, dan mengambil peran sesuai kapasitasnya. Jejak itu masih terbuka. Dan tarbiyah mempersiapkan langkah-langkah menuju ke sana.
Tiga: Melatih Amal dan Menguatkan Pengalaman
Ilmu saja tidak cukup, karena ia perlu diuji dalam realitas. Tarbiyah yang sehat akan menghadirkan ruang-ruang latihan. Ruang untuk mencoba, belajar, dan memperbaiki diri. Wanita muslimah dilatih untuk selalu terlibat. Mulai dari dakwah personal, kegiatan sosial, hingga pembinaan kepada orang lain.
Mereka belajar dan bekerja dalam sebuah tim. Belajar menerima amanah, belajar menyelesaikan tugas dengan tuntas. Selain itu, keterlibatan dalam kepanitiaan atau organisasi bukan sekadar aktivitas. Ia adalah sarana pembentukan karakter.
Di sana tumbuh rasa tanggung jawab dan disiplin. Kemampuan mengatur pekerjaan, dan juga kepekaan terhadap orang lain. Pengalaman ini sangat penting. Karena dakwah di lapangan tidak selalu ideal sesuai kemauan.
Dakwah di lapangan penuh dinamika. Ia butuh kesiapan mental, kerjasama dan kemampuan beradaptasi dengan cepat. Semakin sering terlibat, maka semakin matang cara berpikir, bersikap dan mengambil suatu keputusan.
Empat: Membekali Keterampilan Praktis
Tarbiyah juga menyentuh hal-hal yang konkret. Hal-hal yang sering dianggap sederhana, tetapi justru menentukan kualitas kehidupan. Keterampilan rumah tangga, misalnya. Ini bukanlah hal kecil. Ia menjadi fondasi terciptanya suasana yang nyaman dan mendukung kebaikan dalam keluarga.
Kemampuan mengelola rumah, memasak, merawat, hingga menangani kondisi darurat, adalah bagian dari kesiapan diri dalam tarbiyah. Di sisi lain, kebutuhan zaman terus berkembang. Maka keterampilan komunikasi, menulis, berbicara, hingga memahami teknologi menjadi hal yang penting.
Wanita muslimah hari ini hidup di era informasi dan teknologi yang serba cepat. Media bisa menjadi sarana dakwah yang luas, jika dikuasai dengan baik. Kesadaran sosial dan politik juga perlu tumbuh. Bukan untuk sekadar ikut arus, tetapi untuk memahami realitas dan mengambil sikap yang tepat.
Tidak semua harus turun ke ranah praktis. Namun setiap muslimah perlu memiliki kepekaan dan pemahaman. Dengan bekal ini, maka langkah dakwah wanita muslimah menjadi lebih relevan, lebih tepat sasaran, dan lebih memberi dampak besar dan positif.
Tarbiyah bagi wanita muslimah adalah proses panjang. Ia menuntut kesabaran, keikhlasan, kerjasama, dan kesungguhan. Namun dari proses itulah lahir pribadi-pribadi yang tidak hanya baik untuk dirinya, tetapi juga menjadi sumber kebaikan bagi banyak orang. Dan di situlah nilai tarbiyah menemukan maknanya. Wallahu a’lam bishawab.
*** Bersambung…nantikan: “Tujuan Tarbiyah bagi Keluarga”
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana