@ Cecep Y Pramana
Kita hidup di zaman yang serba cepat, serba terbuka, dan serba terlihat. Namun, di balik itu ada sesuatu yang perlahan melemah. Bukan pada fisik, bukan pada kemampuan, tetapi pada keberanian hati.
Rasa takut semakin dominan. Bukan takut yang menjaga, tetapi takut yang melemahkan. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan satu keadaan ketika umat menjadi lemah, mudah diserang, dan tidak lagi disegani. Penyebabnya bukan karena jumlah yang sedikit, tetapi karena penyakit wahn, yaitu cinta dunia yang berlebihan, dan takut mati.
Di sinilah akar persoalannya. Ketika hati terlalu lekat pada dunia, maka kehilangan menjadi hal yang sangat menakutkan bahkan mengerikan. Jabatan, harta, kenyamanan, ketampanan dan kecantikan, pengakuan, semua ingin dipertahankan. Akibatnya, keberanian perlahan menghilang.
Orang menjadi ragu mengambil sikap. Takut berbeda, takut kehilangan posisi, atau takut menghadapi risiko. Padahal, dulu keberanian menjadi ciri yang kuat dalam sejarah umat ini. Mereka melangkah dengan keyakinan.
Hidup adalah kemuliaan jika berada di jalan yang benar. Dan kematian bukan akhir yang menakutkan, tetapi pintu kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala. Kini, arah itu sering berbalik. Dunia terasa begitu dekat, sementara akhirat terasa menjauh. Kenikmatan sesaat menjadi tujuan, sementara makna hidup yang lebih dalam sering terabaikan.
Dari sinilah lahir jiwa yang mudah goyah. Sedikit ujian terasa berat, dan sedikit tekanan terasa menyesakkan. Padahal kehidupan memang tidak ringan. Tantangan akan selalu ada, dan kesulitan tidak bisa dihindari. Namun menghindar bukanlah solusi. Lari dari masalah tidak menyelesaikan apa pun, justru akan menambah beban baru dalam diri.
Keberanian tidak selalu tampak dalam tindakan besar. Ia sering hadir dalam hal yang sederhana, tetapi sulit dilakukan. Berani jujur pada diri sendiri. Mengakui kekurangan tanpa merasa rendah. Mengakui kelebihan orang lain tanpa merasa kalah. Ini bukanlah hal yang mudah, tetapi di situlah letak kedewasaan.
Sebaliknya, menutupi kesalahan, bersikap keras kepala, dan selalu ingin terlihat benar, sering kali bukan tanda kekuatan. Hal itu justru bentuk lain dari ketakutan, takut terlihat lemah, dan takut kehilangan citra diri.
Padahal, menerima kenyataan tentang diri sendiri adalah langkah awal menuju kekuatan yang sebenarnya. Keberanian juga tampak pada kemampuan bersikap objektif. Melihat diri dengan jernih. Ada sisi baik yang perlu dijaga, dan ada sisi lemah yang perlu diperbaiki. Tidak dilebihkan, dan tidak dikurangi.
Dan satu hal yang sering diabaikan, keberanian sejati sangat berkaitan dengan pengendalian diri. Dalam Surat Ali Imran ayat 134, disebutkan bahwa ciri orang bertakwa adalah mampu menahan amarah dan memaafkan. Ini bukan sikap lemah. Ini adalah kekuatan yang jarang dimiliki.
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS Ali Imran: 134)
Menahan marah butuh kesadaran, butuh latihan, dan juga butuh keluasan hati. Sebaliknya, meluapkan emosi tanpa kendali, mengucapkan kata-kata kasar, atau bersikap brutal, bukan tanda keberanian. Itu adalah tanda bahwa diri belum mampu mengendalikan dorongan yang ada di dalamnya.
Keberanian sejati tidak selalu keras. Ia justru sering tenang. Ia hadir dalam hati yang tidak mudah goyah. Dalam sikap yang tidak mudah reaktif, dan dalam keputusan yang tetap lurus, meski tidak populer. Realita hari ini memang tidak sederhana. Namun, di tengah semua itu setiap orang tetap punya pilihan, juga tetap punya ruang untuk memperbaiki diri.
Bukan dengan menjadi lebih keras, tetapi dengan menjadi lebih jernih. Bukan dengan menaklukkan orang lain, tetapi dengan menata diri sendiri. Dan di situlah keberanian menemukan maknanya. Wallahu a’lam bishawab.
*** Bersambung… nantikan: “Macam-Macam Syaja’ah“
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana