Skip to content

RUMAH PENA MOTIVASI

Menu
  • Home
  • Artikel
    • Ramadhan
    • Umroh
    • Keluarga
  • Motivasi
  • Cerita
  • Coretan
  • Dari Anda
  • Berita Iklan
  • Tentang Admin
Menu

Adab Terhadap Diri Sendiri dalam Ajaran Islam

Posted on 27 April 202627 April 2026 by ceppangeran

@ Cecep Y Pramana

Ada saat-saat ketika seseorang merasa sibuk memperbaiki dunia di sekelilingnya, namun lupa menata dirinya sendiri. Padahal, dalam ajaran Islam, perjalanan paling awal dan paling panjang justru dimulai dari dalam diri.

Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah Subhanahu wata’ala dan sesamanya. Islam juga menuntun bagaimana seseorang memperlakukan dirinya. Di situlah letak keseimbangan hidup. Seseorang tidak dibiarkan berjalan tanpa arah, tetapi dibimbing Allah Subhanahu wata’ala agar hidupnya tertata, lahir dan batin.

Dalam buku “Minhajul Muslim (Konsep Hidup Ideal dalam Islam)” karya Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza‘iri, pengajar tetap di Masjid Nabawi hingga wafat beliau. Mengutip salah satu bahasan dalam buku tersebut, yaitu “Adab Terhadap Diri Sendiri Menurut Ajaran Islam”, ustadz Achmad Zaki, pada kesempatan acara Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) di Masjid Sentra Kota Jatibening Kota Bekasi, Sabtu 25 April 2026.

Ustadz Achmad Zaki mengingatkan bahwa adab dimaknai sebagai ketepatan dalam mengurus segala sesuatu. Ia bukan sekadar sopan santun di permukaan, tetapi kedalaman sikap yang lahir dari akhlak mulia. Adab bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Keduanya menjadi rujukan utama agar manusia tetap berada di jalan yang lurus. Islam bahkan meninggikan derajat orang yang berakhlak mulia. Ilmu tanpa adab bisa kehilangan arah. Sebaliknya, adab menjaga ilmu tetap hidup dan memberi manfaat.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya”. (HR. Ahmad).

Lalu, bagaimana adab terhadap diri sendiri itu dijalani? Adab ini bukan sekadar teori. Ia adalah latihan batin yang terus berlangsung. Perlahan, namun pasti. Beberapa adab yang sebaiknya dilakukan seorang Muslim terhadap dirinya sendiri, di antaranya sebagai berikut.

Satu: Membersihkan Hati dengan Taubat. Setiap manusia pernah salah. Tidak ada yang benar-benar bersih dari dosa. Karena itu, taubat bukan hanya kebutuhan sesekali, tetapi kebutuhan yang terus diulang. Membersihkan hati berarti berani melihat ke dalam. Mengakui kesalahan tanpa mencari pembenaran. Melepaskan dendam, iri, dengki, dan segala rasa yang mengotori jiwa.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan bertaubatlah kalian kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung”. (QS. An-Nur: 31). Taubat membuat hati terasa lebih ringan. Ia membuka ruang bagi ketenangan yang sebelumnya tertutup oleh kesalahan yang disimpan terlalu lama.

Dua: Merasa Diawasi oleh Allah (Muraqabah). Ada ketenangan yang lahir dari kesadaran sederhana. Bahwa kita tidak pernah sendiri. Bahwa setiap langkah, setiap niat, setiap bisikan hati, diketahui oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Muraqabah bukan membuat hidup terasa sempit, tetapi justru sebaliknya. Ia menghadirkan rasa aman. Seseorang tidak lagi bergantung pada penilaian manusia, karena ia sadar siapa yang benar-benar melihatnya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Beribadahlah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Kesadaran ini pelan-pelan membentuk kejujuran, bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Tiga: Menghisab Diri (Muhasabah). Tidak semua orang berani mengevaluasi dirinya sendiri. Lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada mengakui kekurangan diri. Padahal, muhasabah adalah kunci perbaikan. Ia bukan untuk menyalahkan diri, tetapi untuk menyadarkan arah.

Setiap hari adalah kesempatan untuk bertanya pada diri sendiri. Apa yang sudah dilakukan. Apa yang perlu diperbaiki. Apa yang harus ditinggalkan. Umar bin Khattab pernah berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang”. Kalimat ini sederhana, tetapi dalam maknanya. Ia mengajak untuk tidak menunda perbaikan.

Empat: Melawan Hawa Nafsu (Mujahadah). Musuh terbesar seringkali bukan di luar diri, tetapi di dalam diri. Hawa nafsu yang mengajak pada hal yang mudah, tetapi menjauhkan dari kebaikan.

Melawannya bukan hal yang instan. Ia butuh kesadaran, kesabaran, dan latihan yang terus menerus. Kadang terasa berat, namun di situlah letak nilai perjuangannya.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”. (QS. Al-Ankabut: 69).

Setiap usaha melawan nafsu tidak pernah sia-sia, karena selalu saja ada jalan yang dibukakan. Adab terhadap diri sendiri bukan sesuatu yang selesai dalam satu waktu. Ia adalah perjalanan seumur hidup, kadang naik, kadang turun, kadang kuat, dan kadang lemah.

Namun selama seseorang terus kembali, terus memperbaiki, dan terus menjaga hatinya, maka ia sedang berjalan di jalan yang benar. Dari dalam diri yang tertata, akan lahir kehidupan yang lebih tenang. Bukan karena hidup tanpa masalah, tetapi karena hati sudah belajar bagaimana menyikapinya. Wallahu a’lam bishawab.

Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana

0Shares
Category: Artikel

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Statistik

  • 2
  • 6,813
  • 1,088,467
  • 2,507

Tiket.com

banner

HALO MOTIVASI

Pelago.com – Travel

KREMES KRATON

ADIDAS ID

EIGER

LAZADA INDONESIA

diskonMU

NEOZEN KOREA

Pengunjung

Flag Counter

Arsip

Kategori

© 2026 RUMAH PENA MOTIVASI | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme