Skip to content

RUMAH PENA MOTIVASI

Menu
  • Home
  • Artikel
    • Ramadhan
    • Umroh
    • Keluarga
  • Motivasi
  • Cerita
  • Coretan
  • Dari Anda
  • Berita Iklan
  • Tentang Admin
Menu

Murabbi Murabbiyah dan Aktivitas Ibadah

Posted on 30 April 202629 April 2026 by ceppangeran

@ Cecep Y Pramana

Seorang murabbi murabbiyah tidak dibangun dari kata-kata yang kuat, karena ia dibentuk dari kedekatan yang jujur dengan Allah Subhanahu wata’ala. Di situlah akar perannya bertumbuh. Karakter pertama yang perlu hadir adalah kesungguhan dalam ibadah.

Bukan sekadar menjalankan kewajiban, tetapi menjaga ritme ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan kesadaran. Shalat ditegakkan dengan khusyuk, amalan sunah dijaga dengan konsisten. Waktu-waktu kosong diisi dengan zikir, tilawah, dan doa-doa yang hidup. Hati selalu dilatih untuk bersih, sikap wara’ dijaga, keinginan yang berlebihan dikendalikan, dan hal yang samar ditinggalkan.

Ibadah yang terjaga tidak berhenti pada diri sendiri. Ia memancar ke sekitar, tanpa banyak kata, ia memberi pengaruh. Ketenangan, kewibawaan, dan kehangatan murabbi murabbiyah selalu hadir secara alami. Para mutarabbi seringkali tidak hanya mendengar nasihat, tetapi mereka juga “membaca” kehidupan murabbi murabbinya.

Di titik ini, maka keteladanan menjadi bahasa yang paling kuat. Ia tidak bersuara, tetapi membekas. Ia tidak memaksa, tetapi justru menggerakkan. Apa yang dilihat akan lebih lama tinggal dibanding apa yang hanya didengar.

Seorang ulama tabi’in, Maimun bin Mahran, pernah mengingatkan bahwa jika para pembawa Al-Qur’an menjadi baik, maka manusia pun akan mengikuti kebaikan itu. Pesan ini sederhana, tetapi sungguh dalam maknanya. Perubahan sering kali dimulai dari contoh, bukan instruksi.

Karena itu, ibadah bukan hanya kebutuhan pribadi murabbi. Ia juga menjadi inti dari proses tarbiyah itu sendiri. Tidak tepat jika seseorang mengajak pada kedekatan dengan Allah Subhanallahu wata’ala, sementara dirinya jauh dari-Nya.

Allahu Subhanahu wata’ala berfirman: “Mengapa kalian menyuruh orang lain berbuat baik, sementara kalian melupakan diri sendiri, padahal kalian membaca Kitab? Tidakkah kalian berpikir?” (QS Al-Baqarah: 44).

Ayat ini mengajak untuk jujur pada diri sendiri. Mengajak sebelum memperbaiki diri akan melemahkan pengaruh, bahkan bisa mengikis kepercayaan. Di sisi lain, ibadah yang terus dijaga akan menjadi pelindung. Ia menjaga hati dari kelelahan yang dalam, menahan langkah dari penyimpangan, dan menguatkan saat semangat menurun.

Allah Subhanahu wata’ala menggambarkan keadaan orang-orang yang dekat dengan-Nya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS Yunus: 62).

Kedekatan itu lahir dari proses panjang, dari kewajiban yang dijaga, dan dari amalan sunah yang selalu dirawat. Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa seorang hamba terus mendekat kepada Allah Subhanahu wata’ala melalui amalan-amalan hingga Allah Subhanahu wata’ala mencintainya.

Ketika cinta itu hadir, maka Allah Subhanahu wata’ala menjaga pendengarannya, penglihatannya, langkahnya, dan seluruh geraknya. Makna ini sangat dalam. Ibadah tidak hanya bernilai pahala, tetapi ia membentuk arah hidup, menjaga pilihan, dan juga menuntun langkah tanpa disadari.

Dari sini lahir kejernihan. Allah Subhanahu wata’ala memberikan furqan, kemampuan membedakan yang benar dan yang salah, yang baik dan yang lebih baik. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian kemampuan membedakan (antara yang hak dan yang batil)…” (QS Al-Anfal: 29)

Seorang murabbi murabbiyah sangat membutuhkan kejernihan ini. Ia berhadapan dengan banyak persoalan, dan juga dituntut memberi arah. Tanpa kedekatan dengan Allah Subhanahu wata’ala, maka arah itu mudah kabur. Ibadah juga menjadi bekal perjalanan panjang. Ia bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk akhir yang ingin dicapai.

Setiap sujud, setiap doa, dan setiap zikir adalah bagian dari perjalanan menuju derajat yang lebih tinggi di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Abdullah bin Mas’ud memberikan gambaran yang menyentuh tentang pribadi yang dekat dengan Al-Qur’an.

Abdullah bin Mas’ud dikenal di malam hari saat orang lain tidur, dikenal di siang hari saat orang lain lalai. Ia juga dikenal karena wara’, tawadhu, dan kedalaman rasa. Ada ketenangan dalam dirinya, dan ada kejujuran dalam sikapnya.

Inilah kualitas yang perlahan perlu dibangun oleh seorang murabbi murabbiyah. Pada akhirnya, ada satu hal yang tidak boleh terbalik, yaitu kesibukan dalam membina tidak boleh mengalahkan kesibukan memperbaiki diri. Karena Allah Subhanahu wata’ala terlebih dahulu memerintahkan untuk menjaga diri dan keluarga sebelum yang lain.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:“Wahai orang-orang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka…” (QS At-Tahrim: 6). Ayat ini menempatkan prioritas dengan jelas. Perbaikan diri adalah fondasi, dan dari sanalah, pengaruh akan mengalir dengan lebih jujur dan kuat.

Menjadi seorang murabbi murabbiyah bukan tentang seberapa banyak yang dibina, tetapi seberapa dalam hubungan dengan Allah Subhanahu wata’ala dijaga. Dari kedalaman itu, lahir kekuatan untuk membimbing orang lain dengan tenang, konsisten, dan penuh makna. Wallahu a’lam bishawab.

Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana

0Shares
Category: Artikel

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Statistik

  • 1
  • 5,706
  • 1,089,728
  • 2,509

Tiket.com

banner

HALO MOTIVASI

Pelago.com – Travel

KREMES KRATON

ADIDAS ID

EIGER

LAZADA INDONESIA

diskonMU

NEOZEN KOREA

Pengunjung

Flag Counter

Arsip

Kategori

© 2026 RUMAH PENA MOTIVASI | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme