@ Cecep Y Pramana
“Yang sering membuat kita lelah bukan karena rezeki belum datang, tetapi karena hati terlalu sibuk mengkhawatirkan sesuatu yang telah Allah jamin”. Ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan di tengah kesibukan mengejar kehidupan. Mengapa kita begitu cemas tentang rezeki?
Setiap pagi kita bangun dengan daftar pekerjaan yang harus diselesaikan. Kita berangkat lebih awal, pulang lebih larut, belajar lebih keras, berjualan lebih giat, dan terus berusaha agar kehidupan menjadi lebih baik. Tidak ada yang salah dengan rutinitas semua itu.
Islam justru mengajarkan umatnya untuk menjadi pribadi yang bekerja keras, mandiri, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Namun, ada satu hal yang perlu dijaga agar semangat mencari rezeki tidak berubah menjadi sumber kegelisahan, yaitu keyakinan bahwa rezeki datang dari Allah Subhanahu wata’ala, bukan semata-mata dari pekerjaan yang kita lakukan.
Sering kali tanpa disadari, kita lebih percaya kepada rekening bank daripada kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi. Kita merasa aman karena memiliki pekerjaan, dan kita merasa tenang karena memiliki tabungan yang banyak.
Lalu ketika pekerjaan terganggu atau penghasilan menurun, maka hati mulai dipenuhi ketakutan. Padahal, sejak awal pekerjaan bukanlah pemberi rezeki. Pekerjaan hanyalah salah satu jalan yang Allah Subhanahu wata’ala bukakan. Sumber rezeki tetap Allah Subhanahu wata’ala.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Dan di langit terdapat sebab-sebab rezekimu dan terdapat pula apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Ayat ini mengajarkan bahwa rezeki tidak pernah lahir dari kemampuan manusia semata.
Allah Subhanahu wata’ala yang menggerakkan hati seseorang untuk membeli dagangan kita. Allah Subhanahu wata’ala yang membuka peluang usaha. Allah Subhanahu wata’ala yang mempertemukan kita dengan orang-orang baik.
Allah Subhanahu wata’ala yang memberikan kesehatan sehingga kita mampu bekerja. Bahkan napas yang kita gunakan untuk mencari nafkah pun merupakan karunia dari-Nya. Lalu mengapa kita merasa seolah-olah semua bergantung pada diri sendiri?
Ketika hati mulai berpikir bahwa segala sesuatu ditentukan oleh kekuatan kita, saat itulah kecemasan tumbuh. Karena manusia memiliki banyak keterbatasan. Sebaliknya, ketika kita menyadari bahwa Allah Subhanahu wata’ala adalah Pemilik seluruh rezeki, hati mulai menemukan ketenangan.
Bukan karena masalah hilang, tetapi karena kita tahu kepada siapa harus bersandar. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6).
Perhatikan bagaimana Allah Subhanahu wata’ala menggunakan kata setiap makhluk. Seekor burung yang terbang bebas, seekor ikan di dasar samudra, seekor semut yang berjalan di balik dedaunan. Tak satu pun luput dari perhatian-Nya.
Jika makhluk sekecil itu tidak pernah dilupakan oleh Allah samudra, bagaimana mungkin Dia melupakan hamba yang setiap hari bersujud, berdoa, dan berharap kepada-Nya? Sayangnya, kita sering mengukur rezeki hanya dari uang.
Padahal rezeki jauh lebih luas daripada itu. Masih bisa membuka mata di pagi hari adalah rezeki. Masih memiliki tubuh yang sehat adalah rezeki. Masih memiliki orang tua yang bisa didoakan adalah rezeki. Masih memiliki kesempatan untuk bertobat adalah rezeki. Dan masih mampu membaca Al-Qur’an adalah rezeki.
Masih diberi hati yang lembut ketika mendengar nasihat adalah rezeki yang tidak ternilai. Boleh jadi Allah Subhanahu wata’ala belum menambahkan hartamu, tetapi Dia menambahkan ketenangan dalam hidupmu. Bukankah itu juga kekayaan?
Hari ini banyak orang hidup berkecukupan, tetapi kehilangan rasa cukup. Mereka memiliki rumah yang besar, tetapi hati mereka sempit. Mereka memiliki kendaraan mewah, tetapi sulit menikmati perjalanan hidup. Mereka memiliki banyak pengikut, tetapi merasa kesepian. Mengapa?
Karena kekayaan tidak selalu melahirkan ketenteraman. Yang melahirkan ketenteraman adalah keberkahan. Dan keberkahan hanya datang dari Allah Subhanahu wata’ala yang mampu mengubah harta menjadi manfaat dan mendatangkan ketenteraman di dalam hati.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan ke dalam hatiku bahwa tidaklah seseorang meninggal dunia hingga ia menyempurnakan rezekinya dan ajalnya. Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik.” (HR. Ibnu Majah).
Hadits ini memberikan pelajaran yang sangat menenangkan. Tidak ada satu rupiah pun dari rezeki kita yang akan diambil oleh orang lain. Tidak ada satu kesempatan pun yang Allah Subhanahu wata’ala tetapkan untuk kita lalu tertukar kepada orang lain.
Apa yang menjadi bagian kita akan datang, mungkin jalannya berbeda, mungkin waktunya tidak sesuai keinginan kita. Namun jika Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkannya, maka tidak ada kekuatan yang mampu menghalanginya.
Karena itu, jangan iri terhadap keberhasilan orang lain. Jangan putus asa ketika melihat perjalanan kita terasa lebih lambat. Setiap orang memiliki waktu yang berbeda, setiap orang memiliki ujian yang berbeda. Dan setiap orang memiliki rezeki yang berbeda.
Allah Subhanahu wata’ala tidak pernah membandingkan hamba-hamba-Nya. Mengapa kita justru sibuk membandingkan diri dengan orang lain? Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi)
Burung tidak mengetahui di mana makanannya berada, namun ia tetap terbang. Ia tidak menunggu keajaiban tanpa usaha. Ia bergerak dengan keyakinan bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah menyediakan rezekinya. Begitu pula kita.
Bangunlah setiap pagi dengan semangat. Bekerjalah dengan jujur. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, dan berusahalah sebaik mungkin. Namun jangan pernah membawa kecemasan lebih besar daripada tawakal. Karena kecemasan tidak akan menambah rezeki kita, tetapi dapat mengurangi rasa syukur kita.
Ada satu hal yang sering terlupakan. Sesungguhnya, rezeki terbaik bukanlah yang paling banyak. Rezeki terbaik adalah yang membuat kita semakin dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sebab ada harta yang menjauhkan seseorang dari Rabb-nya.
Namun, ada pula kesederhanaan yang justru mengantarkan seseorang menuju surga. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)
Perhatikan janji Allah Subhanahu wata’ala. Dia tidak hanya menjanjikan rezeki. Dia juga menjanjikan jalan keluar. Artinya, ketika seorang hamba menjaga ketakwaannya, maka Allah Subhanahu wata’ala akan membuka pintu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Mungkin bukan hari ini atau besok, tetapi tepat pada waktu yang telah Allah Subhanahu wata’ala tetapkan. Karena Allah Subhanahu wata’ala tidak pernah terlambat. Hari ini, jika hati kita sedang dipenuhi kegelisahan tentang masa depan, berhentilah sejenak. Tarik napas kita perlahan, dan lihat kembali perjalanan hidup kita.
Bukankah selama ini Allah Subhanahu wata’ala selalu mencukupi kita? Ada masa ketika kita mengira tidak akan mampu melewati ujian, tetapi ternyata Allah Subhanahu wata’ala menguatkan kita. Ada masa ketika kita mengira pintu telah tertutup. Ternyata Allah Subhanahu wata’ala membuka jalan yang sama sekali tidak kamu sangka.
Maka, mengapa hari ini kita meragukan-Nya? Percayalah. Allah Subhanahu wata’ala yang memberi kita rezeki kemarin tidak akan berhenti memberi kita rezeki hari ini. Allah Subhanahu wata’ala yang menjaga kita sejak lahir tidak akan meninggalkan kita di tengah perjalanan.
Teruslah berikhtiar, teruslah memperbanyak doa, memperbanyak istighfar, dan gemar bersedekah. Jaga kejujuran dalam setiap pekerjaan, dan jangan biarkan rasa takut mengambil tempat yang seharusnya dipenuhi oleh keimanan.
Karena pada akhirnya, yang membuat hidup terasa cukup bukanlah banyaknya harta, melainkan besarnya keyakinan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala. Rezeki datang dari Allah Subhanahu wata’ala. Maka jangan habiskan hidup kita untuk mencemaskan apa yang telah dijamin-Nya.
Habiskanlah hidup kita untuk menjadi hamba yang layak menerima keberkahan-Nya. Sebab ketika Allah Subhanahu wata’ala menjadi sandaran, maka hati kita akan tenang, langkah kaki pun akan ringan, dan rezeki akan datang pada waktu terbaik menurut hikmah-Nya. Wallahu a’lam bishawab.