@ Cecep Y Pramana
Ada seseorang yang pernah bertanya dengan nada setengah bercanda, setengah serius, “Kalau soal jodoh, sebenarnya kita harus mencari sendiri atau menunggu dicarikan?” Pertanyaan itu sederhana. Namun, di baliknya ada kegelisahan banyak orang.
Ada yang merasa sudah cukup usia, tetapi belum menemukan pasangan. Ada yang ingin menikah, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ada yang aktif mencari, tetapi justru semakin lelah. Ada pula yang memilih diam dan menunggu, dengan harapan suatu hari seseorang datang membawa kabar baik.
Menjemput Jodoh dengan Ikhtiar, Doa, dan Kepercayaan kepada Allah
Di zaman sekarang, mencari jodoh memang memiliki banyak jalan. Ada yang dikenalkan oleh keluarga. Ada yang bertemu melalui lingkungan pendidikan, pekerjaan, komunitas, majelis ilmu, atau aktivitas dakwah. Ada yang dipertemukan oleh sahabat sendiri. Bahkan, kini sebagian orang mengenal calon pasangannya melalui ruang digital.
Lalu, apakah seseorang harus mencari sendiri atau menunggu dicarikan? Jawabannya mungkin tidak sesederhana itu. Karena dalam Islam, jodoh bukan sekadar tentang menemukan seseorang. Jodoh adalah bagian dari ikhtiar, doa, pilihan, tanggung jawab, dan ketetapan Allah Subhanahu wata’ala.
Jodoh Tidak Datang Hanya dengan Menunggu
Ada orang yang berkata, “Kalau memang jodoh, nanti juga akan datang”. Kalimat ini terdengar menenangkan. Namun, jangan sampai ia berubah menjadi alasan untuk tidak berikhtiar. Kita memang percaya bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan segala sesuatu.
Namun, keyakinan kepada takdir tidak pernah berarti meninggalkan usaha. Ketika lapar, kita mencari makanan. Ketika ingin belajar, kita mencari ilmu. Ketika ingin bekerja, kita mencari kesempatan. Maka, ketika ingin membangun rumah tangga, tentu ada ikhtiar yang perlu dilakukan.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39). Ayat ini mengajarkan bahwa usaha memiliki tempat penting dalam kehidupan seorang beriman. Namun, ikhtiar dalam mencari jodoh tidak berarti harus tergesa-gesa.
Tidak berarti harus mengejar siapa saja, tidak berarti harus memaksakan hubungan hanya karena takut terlambat. Ikhtiar berarti membuka jalan yang baik. Menyampaikan keinginan kepada keluarga, meminta bantuan orang-orang yang kita percaya.
Memperluas silaturahmi. Terlibat dalam lingkungan yang baik. Terus memperbaiki kualitas diri. Dan berani mengatakan bahwa kita siap untuk menempuh proses menuju pernikahan. Terkadang, seseorang tidak kunjung mendapatkan jodoh bukan karena tidak ada yang baik. Bisa jadi, ia belum pernah memberi tahu siapa pun bahwa dirinya siap untuk menikah.
Di sinilah pentingnya keterbukaan yang sehat. Tidak perlu malu mengatakan kepada orang tua, saudara, guru, murabbi, atau sahabat yang dipercaya, “Saya ingin menikah. Jika ada seseorang yang baik dan sesuai, saya terbuka untuk dikenalkan”. Itu bukan tanda keputusasaan, tetapi itu adalah bentuk ikhtiar.
Dicarikan Bukan Berarti Tidak Berusaha
Dalam budaya kita, banyak pernikahan bermula dari proses dikenalkan, termasuk penulis yang juga dikenalkan. Orang tua mengenalkan anaknya kepada seseorang. Sahabat mempertemukan dua orang yang dianggap cocok. Guru atau orang yang dipercaya membantu mencarikan calon. Bahkan keluarga menjadi jembatan menuju sebuah perkenalan.
Proses seperti ini tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang kuno. Bahkan, dalam sejarah kehidupan umat Islam, proses pernikahan sering kali melibatkan keluarga dan orang-orang yang dipercaya.
Khadijah radhiyallahu ‘anha, misalnya, memiliki ketertarikan terhadap akhlak dan kejujuran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Melalui proses yang terhormat, keinginan itu kemudian disampaikan hingga akhirnya mereka menikah.
Hal yang penting bukan siapa yang menemukan terlebih dahulu. Yang penting adalah bagaimana proses itu dijalani. Apakah dilakukan dengan cara yang baik? Apakah calon tersebut dinilai berdasarkan agama dan akhlaknya? Apakah prosesnya menjaga kehormatan? Apakah ada keterbukaan dan kejujuran? Atau apakah keputusan akhirnya tetap berada pada orang yang akan menjalani rumah tangga?
Sebab, dicarikan bukan berarti dipaksa. Dikenalkan bukan berarti harus menerima. Keluarga boleh membantu membuka pintu. Sahabat boleh memperkenalkan, bahkan guru boleh memberikan rekomendasi. Namun, keputusan untuk melangkah tetap membutuhkan pertimbangan, komunikasi, dan kerelaan dari kedua belah pihak.
Jangan Hanya Mencari yang Menarik, Carilah yang Baik
Di zaman media sosial, kita mudah sekali melihat banyak orang. Kita melihat foto, membaca unggahan, mengamati gaya hidup, menilai penampilan, bahkan membandingkan seseorang dengan standar yang dibentuk oleh layar.
Akibatnya, proses mencari jodoh kadang berubah menjadi proses ‘mencari kesempurnaan’. Kita ingin seseorang yang menarik, tampan atau cantik, mapan, romantis, cerdas, menyenangkan, memiliki visi, dan sesuai dengan semua daftar keinginan.
Tidak salah memiliki kriteria, namun kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kriteria itu benar-benar penting untuk membangun rumah tangga, atau hanya terbentuk dari standar yang kita lihat setiap hari?
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perempuan dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini bukan berarti mengabaikan semua pertimbangan lain, namun ia mengajarkan prioritas. Penampilan dapat berubah, harta dapat berkurang, status sosial dapat berganti. Namun, agama dan akhlak memiliki peran besar dalam menentukan bagaimana seseorang menjalani tanggung jawab.
Sebab, pernikahan bukan hanya tentang siapa yang membuat kita bahagia ketika semuanya berjalan baik. Pernikahan juga tentang siapa yang tetap berusaha bersikap baik ketika kehidupan sedang sulit. Siapa yang mampu meminta maaf, siapa yang dapat dipercaya, siapa yang mau belajar.
Siapa yang memiliki kesadaran kepada Allah ketika tidak ada manusia yang melihat. Karena itu, jangan hanya mencari seseorang yang membuat hati berdebar-debar. Tapi carilah seseorang yang bersama-sama dapat membawa hati lebih dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Sebelum Mencari Jodoh, Persiapkan Diri
Ada satu hal yang sering dilupakan dalam pembicaraan tentang jodoh. Kita terlalu banyak bertanya, “Di mana saya akan menemukan jodoh?” Namun, lebih jarang bertanya, “Apakah saya sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pasangan yang baik?”
Kita ingin mendapatkan pasangan yang sabar, tetapi apakah kita sedang belajar menjadi pribadi yang sabar? Kita ingin pasangan yang dewasa, tetapi apakah kita mau bertumbuh menjadi dewasa? Kita berharap mendapatkan seseorang yang mampu memahami kita, tetapi apakah kita juga belajar memahami orang lain?
Kita ingin pasangan yang bertanggung jawab, tetapi apakah kita sendiri sedang belajar bertanggung jawab? Jodoh bukan hanya tentang siapa yang akan kita temukan. Jodoh juga tentang siapa diri kita ketika seseorang itu hadir.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik.” (QS. An-Nur: 26). Ayat ini sering dipahami sebagai janji bahwa orang baik pasti mendapatkan pasangan yang sempurna. Padahal, kehidupan memiliki banyak dinamika dan ujian.
Namun, ayat ini tetap mengingatkan kita tentang pentingnya kualitas diri. Jangan hanya sibuk mencari seseorang yang baik. Tapi berusahalah juga menjadi orang yang baik. Jangan hanya berdoa agar mendapatkan pasangan yang matang.
Berusahalah menjadi pribadi yang matang. Jangan hanya berharap ada seseorang yang siap membangun keluarga. Tetapi persiapkan juga diri ini untuk menjadi bagian dari keluarga yang akan dibangun.
Jangan Terlalu Lama Menunggu
Ada orang yang ingin menikah, tetapi terlalu takut untuk memulai. Takut ditolak, takut salah memilih, takut tidak menemukan pasangan yang sempurna, takut kehilangan kebebasan, bahkan takut kehidupannya berubah. Semua ketakutan itu manusiawi.
Namun, jangan biarkan rasa takut menghalangi seluruh ikhtiar baik. Tidak ada proses memilih yang bebas dari risiko. Bahkan dalam urusan yang paling serius sekalipun, manusia tetap harus ‘berikhtiar’ dengan ilmu, meminta nasihat, melakukan pertimbangan, lalu bertawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Istikharah bukan pengganti ikhtiar. Istikharah adalah bagian dari ikhtiar. Kita mencari informasi, mengenal calon dengan cara yang terhormat. Melibatkan orang-orang yang dipercaya, mempertimbangkan agama, akhlak, visi kehidupan, keluarga, tanggung jawab, dan kesiapan.
Setelah itu, kita memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar diberi pilihan terbaik. Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan istikharah kepada para sahabat untuk berbagai urusan, sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Bukhari.
Ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak hanya menggunakan perasaan ketika mengambil keputusan besar. Ia juga menggunakan akal, nasihat, pertimbangan, dan doa. Kemudian, setelah mengambil keputusan, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Jodoh Tidak Harus Dicari dengan Panik
Ada perbedaan antara berikhtiar dan panik. Berikhtiar membuat kita bergerak dengan kesadaran. Sedangkan panik membuat kita menerima siapa saja karena takut sendirian. Berikhtiar membuat kita membuka diri dengan tetap menjaga prinsip. Sedangkan panik membuat kita mengabaikan prinsip karena takut kehilangan kesempatan.
Berikhtiar membuat kita sabar dalam proses yang dijalani. Sedangkan panik membuat kita tergesa-gesa mengambil keputusan. Maka, jika hari ini kita sedang mencari jodoh, maka carilah dengan tenang. Jika kita sedang dibantu untuk dicarikan, maka terimalah prosesnya dengan terbuka.
Jika ada seseorang yang mengenalkan calon, maka jangan langsung menolak hanya karena perkenalannya tidak sesuai dengan bayangan kita. Namun, jangan pula menerima hanya karena merasa sudah terlalu lama menunggu.
Berikan kesempatan untuk mengenal, dan bertanyalah dengan jujur. Libatkan orang-orang yang bijaksana. Dan jangan lupa melibatkan Allah Subhanhu wata’ala dalam setiap langkah. Langkah terbaik untuk mengambil keputusan adalah dengan saling terbuka, meminta saran dari orang yang tepat dan berkompeten serta senantiasa memohon petunjuk melalui doa agar langkah yang diambil diberkahi.
Pada Akhirnya, Jodoh adalah Amanah
Menikah bukan sekadar menemukan seseorang untuk mengisi kesepian. Menikah adalah menerima amanah. Ada seseorang yang akan menjadi teman perjalanan. Ada keluarga yang akan dibangun, ada anak-anak yang mungkin lahir, ada tanggung jawab yang harus dijalankan, dan ada hari-hari bahagia dan ada pula masa-masa sulit.
Karena itu, mencari jodoh seharusnya tidak hanya berangkat dari pertanyaan, “Siapa yang saya inginkan?” Tetapi juga: “Dengan siapa saya ingin membangun ketaatan?” “Siapa yang dapat saya ajak bertumbuh?” “Siapa yang siap bersama-sama belajar menjadi keluarga yang diridhai Allah?”
Mungkin kita mencari sendiri, mungkin kita dicarikan, dan mungkin kita dipertemukan melalui jalan yang tidak pernah kita bayangkan. Yang penting, jangan berhenti berikhtiar, jangan berhenti memperbaiki diri, dan jangan berhenti berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Jodoh bukan perlombaan. Tidak ada yang terlalu cepat jika Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan waktunya. Tidak ada yang terlalu lambat jika Allah Subhanahu wata’ala masih menyiapkan kita untuk sesuatu yang lebih baik.
Ada orang yang menikah muda dan harus belajar banyak hal dalam perjalanan. Ada yang menikah lebih matang setelah melewati berbagai proses, ada yang bertemu dengan jodohnya melalui keluarga, ada yang dikenalkan oleh sahabat, dan ada yang dipertemukan melalui lingkungan kebaikan.
Setiap orang memiliki jalan yang berbeda. Maka, jangan bandingkan perjalanan jodoh kita dengan perjalanan orang lain. Tugas kita bukan mengatur kapan seseorang datang. Tugas kita adalah mempersiapkan diri, membuka jalan ikhtiar, menjaga kehormatan, memperbaiki kualitas diri, dan memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar dipertemukan dengan pasangan yang menjadi kebaikan bagi agama, kehidupan, dan akhirat.
Carilah jika perlu. Terimalah jika ada yang mencarikan. Bersikaplah terbuka. Namun, tetaplah menjadikan Allah Subhanahu wata’ala sebagai tujuan utama. Sebab, pasangan terbaik bukan hanya seseorang yang kita cintai. Ia adalah seseorang yang bersama-sama membantu kita mencintai Allah Subhanahu wata’ala dengan lebih baik.
Dan ketika saatnya tiba, semoga kita tidak hanya berkata, “Akhirnya aku menemukan jodohku”. Namun, dengan penuh syukur kita dapat berkata: “Alhamdulillah, Allah Subhanahu wata’ala mempertemukan kami dalam waktu dan cara yang paling Dia kehendaki”. Wallahu a’lam bishawab.
Bagus sekali artikel tentang jodoh ini…