Skip to content

RUMAH PENA MOTIVASI

Menu
  • Home
  • Artikel
    • Ramadhan
    • Umroh
    • Keluarga
  • Motivasi
  • Cerita
  • Coretan
  • Dari Anda
  • Berita Iklan
  • Tentang Admin
Menu

Mengapa Pernikahan Harus Islami?

Posted on 17 November 202320 July 2026 by ceppangeran

@ Cecep Y Pramana

“Menjaga kehormatan, menata kebahagiaan, dan memisahkan tamu demi ketenangan ibadah. Pemisahan antara tamu laki-laki dan perempuan (infishal) merupakan ikhtiar syariat untuk mencegah campur baur (ikhtilat). Konsep ini menjaga kehormatan jamaah, menciptakan suasana ibadah yang lebih tenang, serta melindungi hati dari pandangan yang tidak terjaga demi mencapai kebahagiaan hakiki”.

Pernikahan adalah salah satu momen paling membahagiakan dalam kehidupan seseorang. Setelah melalui proses panjang, dua insan akhirnya mengucapkan akad. Keluarga berkumpul, kerabat datang, para sahabat memberi doa, dan suasana dipenuhi kebahagiaan dan harapan. Namun, di balik semua kegembiraan itu, ada satu pertanyaan penting yang perlu dijawab:

Pernikahan ini ingin kita arahkan ke mana?
Apakah hanya menjadi pesta yang meriah? Ataukah menjadi awal dari sebuah rumah tangga yang dibangun dengan ketaatan kepada Allah? Pertanyaan ini penting karena pernikahan dalam Islam bukan sekadar acara sosial.

Pernikahan adalah ibadah. Ia adalah perjanjian yang kuat antara dua insan untuk membangun kehidupan bersama dalam ketaatan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan mereka telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS. An-Nisa: 21).

Karena itu, sejak proses memilih pasangan, akad, hingga walimah, seorang muslim seharusnya berusaha menjaga agar semuanya tetap berada dalam koridor syariat. Bukan karena Islam ingin mengurangi kebahagiaan. Justru karena Islam ingin menjaga kebahagiaan agar tidak dimulai dengan sesuatu yang menghilangkan keberkahan.

Pernikahan Bukan Sekadar Meniru Kebiasaan
Hari ini, banyak orang menganggap sebuah pernikahan harus mengikuti tren. Konsep dekorasi tertentu, pakaian tertentu, susunan acara tertentu, hiburan tertentu, bahkan, standar kemewahan tertentu. Tidak ada yang salah dengan keindahan, karena Islam mencintai keindahan.

Tidak ada yang salah dengan menyelenggarakan walimah dengan baik, rapi, dan membahagiakan keluarga serta tamu. Namun, ada satu batas yang perlu dijaga. Jangan sampai keinginan untuk membuat pernikahan terlihat indah membuat kita melupakan nilai-nilai yang seharusnya dijaga.

Sebab, pernikahan yang islami bukan berarti harus sederhana dalam segala hal. Pernikahan yang islami adalah pernikahan yang menjadikan Allah Subhanahu wata’ala sebagai pusat pertimbangan. Apa yang boleh, kita lakukan, apa yang mendatangkan maslahat, kita pertimbangkan, dan apa yang berpotensi melanggar syariat, kita tinggalkan.

Inilah bentuk kedewasaan seorang muslim. Bukan sekadar bertanya, “Apakah acara ini bagus?” Tetapi juga bertanya: “Apakah Allah ridha dengan cara kita merayakan kebahagiaan ini?” Mengapa tamu undangan perlu dipisahkan?

Salah satu hal yang sering menjadi perbincangan adalah pemisahan tamu laki-laki dan perempuan dalam acara pernikahan. Sebagian orang mungkin bertanya, “Mengapa harus dipisah? Bukankah semua tamu datang untuk menghadiri pernikahan?”

Pertanyaan tersebut wajar. Namun, pemisahan tamu bukan berarti Islam mengajarkan manusia untuk saling bermusuhan atau tidak boleh berinteraksi. Islam memiliki aturan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Aturan itu bertujuan menjaga kehormatan, menutup pintu fitnah, dan membangun suasana yang lebih terjaga.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, agar mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)

Dan Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman: “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman agar mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…” (QS. An-Nur: 31). Menjaga pandangan bukan hanya dilakukan ketika berada di masjid atau majelis ilmu.

Ia juga perlu dijaga dalam suasana pertemuan, termasuk dalam acara pernikahan. Pemisahan ruang tamu laki-laki dan perempuan adalah salah satu ikhtiar untuk menciptakan suasana yang lebih terjaga.

Terutama ketika jumlah tamu banyak, suasana ramai, dan interaksi berlangsung dalam waktu yang panjang. Ini bukan tentang memandang orang lain sebagai ancaman. Ini tentang memahami bahwa manusia memiliki batas dan perlu menjaga diri.

Islam Menjaga, Bukan Mempersulit
Terkadang, aturan agama dianggap sebagai sesuatu yang membatasi kebahagiaan. Padahal, banyak aturan Islam justru hadir untuk melindungi. Ketika Islam memerintahkan menjaga pandangan, Islam sedang menjaga hati. Ketika Islam mengatur batas interaksi, Islam sedang menjaga kehormatan.

Ketika Islam menganjurkan kesopanan dalam berpakaian, Islam sedang menjaga martabat. Ketika Islam mengatur pernikahan, Islam sedang menjaga keluarga dan masa depan generasi. Demikian pula dengan pemisahan tamu. Ia bukan untuk menghilangkan kegembiraan.

Tamu laki-laki tetap dapat berkumpul dan menikmati suasana. Tamu perempuan tetap dapat bersilaturahmi dengan lebih nyaman. Keluarga tetap dapat menerima doa dan ucapan selamat. Semua dapat berlangsung dengan bahagia, tetapi dalam suasana yang lebih terjaga.

Bahkan, bagi sebagian perempuan, pemisahan tamu dapat memberikan ruang yang lebih nyaman untuk mengenakan pakaian yang lebih leluasa di antara sesama perempuan, tanpa khawatir terlihat oleh laki-laki yang bukan mahram. Pada akhirnya, aturan syariat tidak selalu harus dilihat sebagai pengurangan, terkadang ia adalah perlindungan.

Pernikahan yang Dimulai dengan Ketaatan
Bayangkan sebuah keluarga yang sedang mempersiapkan pernikahan. Mereka memiliki banyak pilihan. Mereka dapat membuat acara semeriah mungkin tanpa memikirkan batas. Atau mereka dapat berhenti sejenak dan bertanya: “Bagaimana agar acara ini tetap bahagia, tetapi juga bernilai ibadah?”

Pertanyaan itu mengubah banyak hal. Mereka mulai memperhatikan pakaian, mempertimbangkan hiburan, menata susunan acara, memisahkan ruang tamu laki-laki dan perempuan. Menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat.

Bukan karena mereka ingin terlihat lebih saleh daripada orang lain. Bukan pula untuk menghakimi pernikahan orang lain. Mereka hanya ingin memulai kehidupan rumah tangga dengan ketaatan. Karena pernikahan adalah awal, dan awal memiliki makna.

Sesuatu yang dimulai dengan kesombongan akan membawa suasana yang berbeda. Sesuatu yang dimulai dengan kemaksiatan juga memiliki konsekuensi. Namun, sesuatu yang dimulai dengan doa, syukur, ketaatan, dan usaha menjaga batas-batas Allah Subhanahu wata’ala, insyaallah memiliki keberkahan yang lebih besar.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu menikah, hendaklah ia menikah. Karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa pernikahan memiliki tujuan yang mulia. Ia bukan sekadar pesta. Ia adalah jalan menjaga kehormatan. Maka, proses dan perayaannya pun semestinya mendukung tujuan tersebut.

Tidak Perlu Malu Menjadi Islami
Di tengah zaman yang sering mengukur keberhasilan acara dari kemewahan, menjadi islami membutuhkan keberanian. Berani berbeda, berani mengatakan tidak, berani memilih yang halal meskipun tidak sedang menjadi tren, dan berani menyederhanakan sesuatu ketika orang lain sedang berlomba-lomba memperbesar.

Berani menjaga batas ketika orang lain menganggap batas itu tidak penting. Namun, menjadi islami tidak harus dilakukan dengan sikap keras. Kita dapat menjaga prinsip dengan kelembutan, dan kita juga dapat menyampaikan nilai dengan hikmah.

Kita dapat menyelenggarakan pernikahan yang tertib, indah, hangat, dan tetap sesuai dengan ajaran Islam. Islam tidak melarang kebahagiaan. Islam mengajarkan bagaimana kebahagiaan itu dijalani dengan cara yang benar. Pernikahan yang islami bukan berarti tidak boleh indah. Justru keindahan itu dapat hadir dalam kesopanan.

Dalam ketenangan, dalam doa-doa yang tulus, dalam keluarga yang saling menghormati, dalam tamu yang datang dengan bahagia, dan dalam suasana yang menjaga kehormatan semua orang. Membangun suasana harmonis ini memerlukan keseimbangan antara ibadah, komunikasi yang baik, dan penerapan adab bertamu yang dijunjung tinggi dalam nilai-nilai Islam.

Yang Terpenting Bukan Seberapa Ramai, tetapi Seberapa Berkah
Pada akhirnya, sebuah pernikahan akan selesai. Dekorasi akan dibongkar, pakaian akan disimpan, makanan akan habis, foto-foto akan menjadi kenangan. Tamu akan kembali ke rumah masing-masing. Namun, kehidupan rumah tangga baru saja dimulai.

Karena itu, jangan sampai kita menghabiskan seluruh energi untuk memikirkan bagaimana pesta terlihat di mata manusia, tetapi lupa memikirkan bagaimana rumah tangga akan berjalan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala. Yang penting bukan hanya seberapa banyak orang yang hadir.

Tetapi seberapa banyak doa-doa yang dipanjatkan. Bukan hanya seberapa indah dekorasi, tetapi seberapa kuat fondasi rumah tangga. Bukan hanya seberapa mewah acara, tetapi seberapa besar keberkahan yang diharapkan.

Pernikahan yang islami adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk menjadikan Allah Subhanahu wata’ala sebagai pusat. Pilihan untuk menjaga kehormatan, pilihan untuk menghormati batas, pilihan untuk tidak menjadikan budaya dan tren sebagai ukuran utama.

Termasuk dalam menata tamu undangan, laki-laki dan perempuan dapat tetap menerima kebahagiaan. Keluarga dapat tetap bersilaturahmi, tamu dapat tetap menikmati suasana. Namun, semua itu dilakukan dengan menjaga adab dan batas yang ditetapkan agama.

Semoga setiap pernikahan yang dimulai dengan nama Allah Subhanahu wata’ala menjadi rumah tangga yang dipenuhi ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Semoga setiap langkah dalam pernikahan tersebut senantiasa diberkahi, diberikan kelapangan rezeki, dan sakinah mawaddah wa rahmah hingga akhir hayat.

Sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21).

Semoga kebahagiaan dalam pernikahan tidak hanya terlihat di hari akad dan walimah saja. Semoga ia tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kesetiaan, dalam kesabaran, dalam saling menjaga, dalam saling mengingatkan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Dan semoga rumah tangga yang dimulai dengan ketaatan menjadi rumah tangga yang terus berjalan dalam keberkahan. Karena pernikahan bukan hanya tentang bagaimana kita merayakan cinta. Pernikahan juga tentang bagaimana kita menjaga cinta itu agar tetap berada dalam ridha Allah Subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam bishawab.

0Shares
Category: Keluarga

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Statistik

  • 0
  • 2,926
  • 1,152,205
  • 2,587

Tiket.com

banner

HALO MOTIVASI

Pelago.com – Travel

KREMES KRATON

ADIDAS ID

EIGER

LAZADA INDONESIA

diskonMU

NEOZEN KOREA

Pengunjung

Flag Counter

Arsip

Kategori

© 2026 RUMAH PENA MOTIVASI | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme