@ Cecep Y. Pramana
“Cinta tidak hanya dipandang sebagai gejolak perasaan, tetapi sebagai bangunan ruhani yang melahirkan peradaban. Cinta adalah kekuatan yang menggerakkan hati menuju Allah. Cinta adalah energi yang menghidupkan amal.“
Ketika mendengar kata cinta, kebanyakan orang membayangkan perasaan yang lembut, kehangatan hati, atau hubungan antara dua insan. Padahal dalam Islam, makna cinta jauh melampaui itu. Cinta adalah cahaya yang menuntun seseorang untuk terus bertahan di jalan kebaikan, bahkan ketika jalan itu dipenuhi ujian.
Tentang Hakikat Cinta yang Mendidik Jiwa dan Membangun Peradaban
Islam tidak memandang cinta sekadar sebagai gejolak emosi yang datang dan pergi. Cinta adalah bagian dari keimanan. Ia bukan hanya sesuatu yang dirasakan, tetapi sesuatu yang diwujudkan. Bukan hanya dinikmati, tetapi dipertanggungjawabkan.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165). Ayat ini menunjukkan bahwa cinta tertinggi seorang mukmin bukanlah kepada dunia, jabatan, harta, ataupun manusia.
Semua cinta itu akan menemukan tempatnya apabila berporos kepada cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dari cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala itulah lahir cinta kepada Rasul-Nya, cinta kepada Al-Qur’an, cinta kepada dakwah, cinta kepada ilmu, cinta kepada saudara seiman, dan cinta untuk menghadirkan manfaat bagi sesama. Inilah cinta yang melahirkan peradaban.
Tarbiyah Berawal dari Cinta
Setiap proses tarbiyah yang berhasil selalu diawali oleh cinta. Tidak ada murabbi yang mampu menyentuh hati mutarabbinya hanya dengan materi yang hebat atau argumentasi yang kuat. Ilmu memang membuka pikiran, tetapi cintalah yang membuka hati. Karena itu, para nabi tidak hanya datang membawa wahyu. Mereka juga datang membawa kasih sayang.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, “Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Ayat ini bukan hanya menjelaskan akhlak Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, tetapi juga menjadi metode tarbiyah sepanjang zaman. Hati manusia tidak berubah karena tekanan. Ia berubah karena disentuh oleh keteladanan, ia tumbuh karena dihargai, dan ia berkembang karena dicintai.
Berapa banyak orang yang bertahan dalam halaqah atau UPA (refleksi sosiologis dan psikologis) bukan semata-mata karena materi yang disampaikan, tetapi karena mereka menemukan keluarga yang menerima mereka apa adanya. Dalam pembinaan, faktor kelekatan emosional dan dukungan sosial sering kali menjadi penopang utama keaktifan seseorang.
Mereka menemukan seorang murabbi yang tidak hanya mengajarkan ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala, tetapi juga mendengarkan kegelisahan, mendoakan dalam diam, menguatkan ketika jatuh, dan tetap membersamai ketika yang lain memilih pergi. Itulah tarbiyah. Ia bukan sekadar transfer ilmu, karena ia adalah proses menumbuhkan manusia.
Cinta yang Melahirkan Amal
Cinta yang sejati tidak berhenti pada kata-kata. Ia selalu mencari cara untuk berbuat. Seseorang yang mencintai Al-Qur’an akan senang membacanya. Seseorang yang mencintai dakwah akan rela meluangkan waktu untuk melayaninya. Seseorang yang mencintai umat akan hadir ketika mereka membutuhkan.
Dan seseorang yang mencintai Allah Subhanahu wata’ala akan berusaha menaati perintah-Nya. Karena itu, ukuran cinta bukanlah banyaknya ungkapan yang diucapkan, tetapi banyaknya amal yang diwujudkan.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran: 31). Ayat ini menjadi ukuran cinta yang sesungguhnya.
Mengaku mencintai Allah Subhanahu wata’ala tidak cukup hanya dengan ucapan. Cinta harus tampak dalam akhlak, terlihat dalam kesabaran, terbaca dalam pengorbanan, dan dirasakan manfaatnya oleh orang-orang di sekitar kita.
Cinta adalah Ruh Jamaah
Dalam kehidupan berjamaah, cinta bukan sekadar pelengkap hubungan antarkader. Cinta adalah ruh yang menghidupkan seluruh bangunan dakwah. Tanpa cinta, program hanya menjadi daftar pekerjaan. Tanpa cinta, rapat hanya menjadi rutinitas. Tanpa cinta, struktur hanya menjadi susunan jabatan. Dan tanpa cinta, amanah berubah menjadi beban.
Namun, ketika cinta karena Allah Subhanahu wata’ala hadir, semua terasa berbeda. Disiplin menjadi bentuk kepedulian, ketaatan menjadi wujud kepercayaan, kepemimpinan menjadi pelayanan, dan musyawarah menjadi ruang saling menguatkan.
Perbedaan menjadi kesempatan untuk saling memahami. Inilah yang dicontohkan oleh generasi sahabat. Kaum Anshar rela berbagi rumah, makanan, bahkan harta dengan kaum Muhajirin. Mereka tidak melakukannya karena aturan organisasi, tetapi karena cinta yang tumbuh dari keimanan.
Allah Subhanahu wata’ala mengabadikan sikap mereka, “…Mereka mengutamakan (saudara-saudaranya) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan apa yang mereka berikan…” (QS. Al-Hasyr: 9).
Dari cinta itulah lahir itsar, mendahulukan kepentingan saudara. Dari cinta lahir husnudzan, berbaik sangka. Dari cinta lahir ta’awun, saling menolong dalam kebajikan. Dari cinta lahir tafahum, saling memahami ketika terjadi perbedaan. Semuanya menjadi fondasi yang menguatkan ukhuwah dan menjaga kokohnya jamaah.
Murabbi Menanam Cinta, Bukan Sekadar Materi
Seorang murabbi bukan hanya penyampai materi. Ia adalah penanam harapan. Ia hadir bukan sekadar mengisi halaqah, tetapi menghidupkan hati. Ia tidak sekadar mengoreksi kesalahan, tetapi membimbing dengan kesabaran. Ia tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi menjadi teladan perubahan itu sendiri.
Terkadang, satu pelukan lebih menguatkan daripada seribu nasihat. Satu doa yang dipanjatkan dalam sepertiga malam lebih membekas daripada banyaknya kata-kata. Satu keteladanan mampu mengubah kehidupan seseorang lebih dalam daripada banyaknya teori. Karena itulah tarbiyah selalu dimulai dari hati. Dan hati hanya dapat disentuh oleh cinta yang tulus.
Selama Cinta Masih Hidup, Dakwah Akan Terus Berjalan
Perjalanan dakwah tidak selalu mudah. Ada masa ketika semangat berkecamuk, ada masa ketika langkah terasa berat, ada saat kita dipuji, dan ada saat kita disalahpahami. Namun, selama cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala masih hidup di dalam hati, maka perjuangan tidak akan berhenti.
Karena yang menggerakkan kita bukan tepuk tangan manusia. Bukan jabatan, bukan penghargaan. Melainkan kerinduan untuk mendapatkan ridha Allah Subhanahu wata’ala. Niat yang tulus karena Allah Subhanahu wa ta’ala akan membuat setiap lelah menjadi ibadah dan bernilai pahala di sisi-Nya.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Manisnya iman itulah yang menjaga seorang kader dakwah tetap istiqamah. Manisnya iman itulah yang membuat seorang murabbi terus membina meski lelah. Manisnya iman itulah yang menjadikan dakwah tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Renungan
Pada akhirnya, tarbiyah bukan sekadar kurikulum. Bukan sekadar pertemuan pekanan, bukan sekadar target hafalan atau evaluasi. Tetapi tarbiyah adalah perjalanan hati menuju Allah Subhanahu wata’ala. Dan kendaraan terbaik dalam perjalanan itu adalah cinta.
Cinta kepada Allah yang melahirkan keikhlasan. Cinta kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang melahirkan keteladanan. Cinta kepada Al-Qur’an yang melahirkan petunjuk. Cinta kepada saudara seiman yang melahirkan ukhuwah. Dan cinta kepada umat yang melahirkan pelayanan.
Selama cinta karena Allah Subhanahu wata’ala tetap bersemayam di dalam hati-hati kita, selama itu pula tarbiyah akan terus melahirkan pribadi-pribadi yang kokoh imannya, lembut akhlaknya, luas manfaatnya, dan siap memikul amanah perjuangan.
Sebab pada hakikatnya, tarbiyah adalah cinta. Cinta yang mendidik jiwa, menguatkan ukhuwah, menghidupkan dakwah, dan melahirkan peradaban yang berlandaskan iman serta mengharap ridha Allah Subhanahu wata’ala semata. Wallahu a’lam bishawab.