@ Cecep Y Pramana
Ada kalanya kita menunggu terlalu lama untuk merasa percaya diri. Kita berkata, “Nanti kalau sudah berhasil, saya akan lebih berani”. “Nanti kalau keadaan sudah membaik, saya akan lebih bahagia”. “Nanti kalau sudah memiliki cukup banyak, saya akan lebih bersyukur”.
Tanpa disadari, kita menjadikan keadaan sebagai syarat untuk mulai berubah. Padahal, sering kali perubahan justru dimulai dari cara kita bersikap hari ini. Cobalah bertanya kepada diri sendiri: Jika hari ini saya benar-benar yakin kepada pertolongan Allah Subhanahu wata’ala, bagaimana saya akan menjalani hari ini?
Bagaimana saya akan berjalan? Bagaimana saya berbicara? Bagaimana saya memperlakukan orang lain? Bagaimana saya bekerja ketika tidak ada yang melihat? Bagaimana saya menghadapi kegagalan? Bagaimana saya menyikapi keberhasilan?
Bayangkan diri kita sebagai pribadi yang tenang, percaya diri, bertanggung jawab, bersyukur, dan memiliki tujuan hidup yang jelas. Bukan karena merasa lebih hebat daripada orang lain, tetapi karena yakin bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan kesempatan untuk terus bertumbuh.
Kemudian, mulailah bertindak seperti pribadi itu.Berjalanlah dengan keyakinan, bukan kesombongan. Berbicaralah dengan percaya diri, tetapi tetap rendah hati. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, meskipun belum ada yang memberikan penghargaan.
Belajarlah dengan tekun, meskipun hasilnya belum terlihat. Berbuat baiklah, meskipun kebaikan itu mungkin tidak segera dibalas. Jalani hari dengan rasa syukur, meskipun hidup belum sepenuhnya sesuai dengan harapan. Di situlah proses pembentukan diri berlangsung.
Kita sering mengira bahwa percaya diri harus muncul terlebih dahulu sebelum kita berani bertindak. Padahal, keberanian untuk mengambil langkah sering kali justru melahirkan kepercayaan diri. Kita juga sering menunggu sukses untuk merasa bahagia.
Padahal, rasa syukur, disiplin, ketekunan, dan sikap positif selama perjalanan adalah bagian dari keberhasilan itu sendiri. Namun, ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan. Bertindaklah seolah-olah kita sudah menjadi pribadi yang kita cita-citakan, tetapi jangan bertindak seolah-olah kita sudah mengetahui seluruh hasilnya.
Hasil tetap milik Allah. Tugas kita adalah berikhtiar dengan penuh keyakinan. Tugas kita adalah memperbaiki diri. Tugas kita adalah mengambil sebab yang baik. Tugas kita adalah terus berjalan dengan doa dan tawakal. Karena itu, jangan menunggu menjadi kuat untuk mulai melangkah.
Melangkahlah, lalu belajar menjadi kuat. Jangan menunggu sempurna untuk mulai berbuat baik. Berbuat baiklah, lalu terus perbaiki diri. Jangan menunggu sukses untuk mulai bersyukur. Bersyukurlah atas apa yang ada, sambil tetap berjuang untuk apa yang belum tercapai.
Sebab, kehidupan tidak hanya dibentuk oleh apa yang kita pikirkan. Kehidupan juga dibentuk oleh apa yang kita lakukan berulang kali. Jika hari ini kita ingin menjadi pribadi yang disiplin, mulailah dengan satu tindakan disiplin. Jika kita ingin menjadi pribadi yang berani, lakukan satu hal yang selama ini kita takutkan, selama itu baik dan benar.
Jika kita ingin menjadi pribadi yang bermanfaat, mulailah membantu seseorang. Jika kita ingin menjadi pribadi yang dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala, mulailah memperbaiki hubungan kita dengan-Nya. Jangan hanya membayangkan pribadi yang ingin Anda menjadi. Mulailah menjalani kebiasaan yang dimiliki pribadi tersebut.
Suatu hari nanti, kita mungkin akan menyadari bahwa perubahan besar tidak dimulai ketika semuanya sudah tersedia. Perubahan dimulai ketika kita memutuskan untuk bersikap berbeda. Hari ini. Dari langkah kecil, dari keputusan sederhana, dan dari keberanian untuk mengatakan: “Saya belum sampai di sana, tetapi saya akan mulai hidup dengan nilai-nilai yang ingin saya miliki.”
Bertindaklah seolah-olah kita telah menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan untuk berpura-pura. Tetapi untuk melatih diri. Bukan untuk membuktikan sesuatu kepada manusia. Tetapi untuk memenuhi amanah kehidupan yang Allah Subhanahu wata’ala berikan. Bismillah.