Nikmat Terbesar: Ketika Hati Masih Tergerak untuk Shalat

@ Cecep Y Pramana

Ada banyak nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang kita rasakan setiap hari, tetapi sering kali kita menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Kita bangun dalam keadaan sehat. Kita masih bisa melihat, mendengar, berjalan, bekerja, belajar, berkumpul dengan keluarga, dan menikmati berbagai karunia kehidupan.

Namun, ada satu nikmat yang jauh lebih dalam maknanya: ketika Allah Subhanahu wata’ala masih menggerakkan hati kita untuk datang kepada-Nya melalui shalat. Coba renungkan. Di tengah kesibukan, masih ada dorongan untuk mengambil wudhu. Di tengah pekerjaan, masih ada keinginan untuk berhenti sejenak ketika azan terdengar. Di tengah berbagai persoalan, hati masih mencari ketenangan melalui sujud.

Itu bukan sesuatu yang sepele. Itu adalah nikmat. Sebab tidak semua orang yang memiliki kesempatan untuk shalat memiliki hati yang terdorong untuk melakukannya. Ada yang tubuhnya sehat, tetapi hatinya berat untuk menghadap Allah Subhanahu wata’ala.

Ada yang memiliki banyak waktu, tetapi sulit menyediakan beberapa menit untuk bersujud. Maka ketika hati kita masih merasa rindu kepada shalat, jangan anggap itu sekadar rutinitas. Bisa jadi, itu adalah bentuk kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala kepada kita.

Allah Subhanahu wata’ala masih memberi kesempatan untuk kembali. Masih membuka pintu ampunan. Masih memberi ruang untuk memperbaiki diri. Masih mengingatkan kita bahwa sebesar apa pun kesibukan dunia, ada hubungan yang tidak boleh kita abaikan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45). Karena itu, jagalah shalat selama Allah masih memberi kita kesempatan. Jangan menunggu menjadi lebih baik untuk mulai mendekat kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Justru dekatilah Allah Subhanahu wata’ala agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan menunggu hati tenang untuk shalat. Datanglah kepada shalat agar hati belajar menemukan ketenangan. Jangan hanya menjaga shalat ketika hidup sedang sulit. Jagalah pula ketika hidup sedang lapang.

Sebab shalat bukan hanya tempat kita meminta pertolongan. Shalat adalah bentuk penghambaan, rasa syukur, dan pengakuan bahwa kita membutuhkan Allah Subhanahu wata’ala dalam setiap keadaan. Suatu hari nanti, mungkin tubuh kita tidak lagi sekuat sekarang. Waktu kita tidak lagi sebanyak hari ini. Kesempatan yang sekarang terasa biasa bisa menjadi sesuatu yang sangat kita rindukan.

Maka selama hati masih tergerak untuk bersujud, bersyukurlah. Salah satu nikmat terbesar dalam hidup bukan hanya ketika Allah Subhanahu wata’ala memberi kita apa yang kita inginkan, tetapi ketika Allah Subhanahu wata’ala masih memberi kita hati yang ingin dekat kepada-Nya.

Jaga hati itu. Jaga shalat itu. Sebab bisa jadi, setiap langkah menuju tempat sujud adalah bentuk kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala yang sedang membawa kita kembali kepada-Nya. Mengingatkan diri kita untuk selalu menjaga hati dan shalat adalah pengingat yang sangat indah tentang betapa besar cinta Allah Subhanahu wata’ala kepada hamba-Nya. Bismillah.

2Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *