Jadikan Nasihat Sebagai Cermin Diri

@ Cecep Y Pramana

Ada nasihat yang datang dengan lembut. Ada pula yang terasa begitu dalam karena menyentuh bagian diri yang selama ini jarang kita perhatikan. Ketika menerima sebuah nasihat, sebenarnya kita sedang diberi kesempatan untuk berhenti sejenak dan melihat diri sendiri.

Namun, tidak selalu mudah menerimanya. Terkadang, sebelum bertanya, “Apa yang perlu aku perbaiki?”, kita justru sibuk berpikir, “Siapa yang lebih pantas mendengar nasihat ini?” Nasihat yang seharusnya menjadi cermin untuk melihat kekurangan diri, justru berubah menjadi kaca pembesar untuk melihat kesalahan orang lain.

Kita mendengar tentang kesabaran, lalu teringat siapa yang tidak sabar kepada kita. Kita mendengar tentang menjaga lisan, lalu teringat siapa yang pernah menyakiti kita dengan perkataannya. Kita mendengar tentang keikhlasan, lalu mulai menghitung kebaikan orang lain yang menurut kita belum sebanding dengan apa yang telah kita lakukan.

Padahal, bisa jadi nasihat itu memang sedang Allah Subhanahu wata’ala arahkan kepada kita. Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzariyat ayat 55, “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”

Orang yang terus bertumbuh bukanlah orang yang tidak memiliki kekurangan. Ia adalah orang yang bersedia mengakui kekurangan dan mau memperbaikinya. Maka, ketika sebuah nasihat sampai kepada kita, cobalah berhenti sejenak.

Tidak perlu langsung membela diri. Tidak perlu mencari siapa yang lebih salah. Tidak perlu sibuk menghubungkannya dengan kesalahan orang lain. Tanyakan kepada diri sendiri: “Apa yang Allah ingin aku pelajari dari nasihat ini?”

Sebab mungkin, nasihat itu bukan tentang orang lain. Mungkin, ia sedang mengetuk pintu hati kita. Jadikan nasihat sebagai cermin, bukan kaca pembesar. Cermin membantu kita melihat apa yang perlu diperbaiki. Kaca pembesar hanya membuat kita semakin sibuk melihat kekurangan orang lain.

Dan semakin dewasa seseorang, semakin ia memahami bahwa memperbaiki diri jauh lebih bermanfaat daripada mengoreksi kehidupan orang lain. Semoga setiap nasihat yang kita dengar tidak hanya berhenti di telinga, tetapi turun ke hati, mengubah sikap, dan membuat kita menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Bismillah.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *