Hijrah Dimulai Ketika Hidayah Disambut

@ Cecep Y Pramana

Hijrah bukan selalu tentang menunggu datangnya hidayah. Bisa jadi, hidayah itu sebenarnya sudah pernah menyapa kita. Melalui nasihat seseorang. Melalui ayat Al-Qur’an yang tiba-tiba terasa begitu dekat. Melalui sebuah kejadian yang membuat hati tersentuh.

Atau melalui kegelisahan yang diam-diam mengingatkan kita bahwa ada sesuatu dalam hidup yang perlu diperbaiki. Namun, tidak semua sapaan itu langsung kita sambut. Kadang kita mendengarnya, tetapi memilih mengabaikannya. Kita tahu ada yang harus berubah, tetapi berkata, “Nanti saja.”

Kita merasa belum siap meninggalkan kebiasaan lama. Kita masih ingin menikmati apa yang membuat hati nyaman, meskipun kita tahu belum tentu itu baik bagi kehidupan kita. Lalu waktu berjalan. Dan sapaan hidayah yang pernah hadir itu perlahan berlalu.

Karena itu, mungkin persoalannya bukan apakah hidayah pernah datang kepada kita. Bisa jadi, pertanyaannya adalah kapan kita bersedia mengambil dan menjaganya. Sebab hijrah membutuhkan keberanian untuk berkata kepada diri sendiri: “Cukup. Aku ingin menjadi lebih baik.”

Tidak harus menunggu sempurna. Tidak harus menunggu semua keadaan ideal. Tidak harus menunggu usia tertentu. Ketika hati mulai tergerak untuk mendekat kepada Allah Subhanahu wata’ala, maka jangan terlalu banyak menunda. Mulailah dari yang sederhana.

Perbaiki salat. Dekatkan diri dengan Al-Qur’an. Tinggalkan sedikit demi sedikit kebiasaan yang menjauhkan hati dari Allah Subhanahu wata’ala. Perbaiki pergaulan. Belajar meminta maaf. Belajar memaafkan. Dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 125, “Barang siapa yang dikehendaki Allah mendapat petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam.” Hidayah adalah karunia. Tetapi ketika hidayah mengetuk hati, kita juga perlu memilih untuk menyambutnya.

Jangan menunggu hati menjadi sempurna untuk mulai berubah. Berubahlah, lalu biarkan Allah  Subhanahu wata’ala yang membimbing langkah berikutnya. Sebab boleh jadi, kalimat yang menyentuh hati hari ini bukan sekadar bacaan biasa. Boleh jadi, itu adalah cara Allah Subhanahu wata’ala kembali menyapamu. Dan kali ini, jangan biarkan sapaan itu berlalu begitu saja. Bismillah.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *