Adab Murid kepada Seorang Guru
@ Cecep Y Pramana
Ada banyak hal yang ingin kita dapatkan ketika mengikuti majelis ilmu. Kita ingin bertambah pengetahuan, semakin baik ibadahnya, lebih matang cara berpikirnya, dan lebih kuat menghadapi kehidupan. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: ilmu tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga adab.
Seorang murid (mutarabbi) mungkin memiliki semangat belajar yang tinggi. Ia rajin membaca, aktif berdiskusi, dan memiliki banyak pertanyaan. Itu semua adalah kebaikan. Tetapi ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika disertai sikap hormat kepada orang yang membimbingnya. Di sinilah adab seorang murid (mutarabbi) kepada guru (murabbi) menjadi penting.
Ilmu Dimulai dari Kerendahan Hati
Dalam perjalanan menuntut ilmu, seorang murid (mutarabbi) perlu menyadari bahwa dirinya belum mengetahui banyak hal. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43).
Ayat ini mengajarkan bahwa ketidaktahuan bukan sesuatu yang memalukan. Yang perlu dihindari adalah merasa sudah tahu semuanya. Murid (mutarabbi) yang baik tidak datang kepada gurunya (murabbi) dengan kesombongan. Ia datang dengan hati yang siap menerima nasihat, berdiskusi dengan santun, dan belajar dari pengalaman.
Kerendahan hati membuat seseorang mudah menerima kebenaran. Sebaliknya, kesombongan membuat seseorang sulit belajar, bahkan ketika kebenaran sudah berada di hadapannya. Karena itu, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin lembut pula sikapnya.
Menghormati Guru Bukan Berarti Mengkultuskan
Menghormati guru (murabbi) bukan berarti menganggapnya selalu benar dalam segala hal. Guru (murabbi) tetap manusia yang mungkin memiliki kekurangan. Islam tidak mengajarkan kultus terhadap manusia. Namun, perbedaan pendapat tetap harus disampaikan dengan adab.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.”(QS. An-Nahl: 125). Ayat ini memberikan pelajaran penting. Bahkan ketika berbeda pendapat, cara menyampaikannya tetap harus baik.
Maka seorang murid (mutarabbi) perlu belajar membedakan antara kritis dan kasar, tegas dan keras, bertanya dan merendahkan. Boleh bertanya, boleh berbeda pandangan, dan boleh menyampaikan argumentasi. Tetapi semuanya dilakukan dengan bahasa yang santun dan niat mencari kebenaran.
Mendengarkan dengan Sungguh-Sungguh
Salah satu bentuk penghormatan kepada guru (murabbi) adalah mendengarkan ketika beliau berbicara, bukan berbicara sendiri. Di tengah kehidupan yang dipenuhi notifikasi, media sosial, dan berbagai distraksi, kemampuan untuk benar-benar mendengarkan menjadi semakin penting.
Ketika majelis berlangsung, maka letakkan sejenak kesibukan pribadi. Hadirkan hati, perhatikan pembahasan, catat hal-hal penting. Jangan sibuk dengan sesuatu yang tidak berkaitan dengan agenda. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Mencari ilmu bukan hanya soal hadir secara fisik. Ada kesungguhan yang perlu dibawa oleh hati. Hadir di majelis adalah langkah awal. Mendengarkan adalah bentuk penghormatan. Mengamalkan adalah bukti bahwa ilmu tersebut benar-benar memberi pengaruh.
Menjaga Waktu dan Komitmen
Adab kepada seorang guru (murabbi) juga terlihat dari cara seorang murid (mutarabbi) menghargai waktu. Datang tepat waktu adalah bentuk penghormatan. Memberi kabar ketika berhalangan adalah bentuk tanggung jawab. Menjaga komitmen terhadap agenda pembinaan adalah bentuk kesungguhan.
Sering kali kita menganggap keterlambatan sebagai persoalan kecil. Padahal, waktu orang lain juga memiliki nilai. Seorang guru (murabbi) telah menyediakan waktu, tenaga, pikiran, bahkan terkadang mengorbankan kepentingan pribadi untuk membersamai murid (mutarabbi). Maka jangan sampai kesempatan belajar yang begitu berharga kita perlakukan dengan sembarangan.
Bertanya dengan Adab
Murid yang bertanya bukan berarti tidak pintar. Justru pertanyaan yang baik menunjukkan adanya keinginan untuk memahami. Tetapi bertanya juga memiliki adab. Tanyakan sesuatu untuk mencari penjelasan, bukan untuk menjatuhkan. Sampaikan perbedaan pendapat untuk mendapatkan pemahaman, bukan untuk memenangkan perdebatan.
Jika belum memahami penjelasan, jangan malu untuk bertanya kembali dengan cara yang baik. Dalam proses pembinaan, guru (murabbi) tidak membutuhkan murid (mutarabbi) yang selalu mengatakan “iya”. Guru (murabbi) membutuhkan murid (mutarabbi) yang mau belajar, berpikir, dan bertumbuh. Namun, semua itu tetap berada dalam bingkai akhlak.
Tidak Meremehkan Nasihat
Ada nasihat yang langsung kita sukai. Ada pula nasihat yang membuat hati kita tidak nyaman. Terkadang seorang guru (murabbi) mengingatkan tentang disiplin. Kadang mengingatkan tentang ibadah. Kadang juga menegur sikap yang kurang tepat. Tidak semua nasihat terasa menyenangkan.
Namun, jangan buru-buru menganggap teguran sebagai bentuk ketidaksukaan. Bisa jadi justru karena kepedulian, seseorang berani mengingatkan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Agama itu nasihat.” (HR. Muslim).
Nasihat yang baik seharusnya tidak membuat kita sibuk mempertahankan ego. Ia mengajak kita melihat kembali diri sendiri. Mungkin tidak semua cara penyampaian sempurna. Namun, seorang murid (mutarabbi) dapat mengambil hikmah dari setiap nasihat yang bermanfaat.
Menjaga Nama Baik Guru
Hubungan murid (mutarabbi) dan guru (murabbi) dibangun di atas amanah. Apa yang disampaikan dalam pembinaan tidak seharusnya menjadi bahan untuk merendahkan atau mempermalukan guru (murabbi). Jika ada persoalan, sampaikan secara langsung dengan cara yang baik. Jangan menjadikan media sosial sebagai tempat melampiaskan kekecewaan.
Jangan menyebarkan potongan percakapan tanpa konteks. Jangan membicarakan kekurangan guru kepada orang lain hanya untuk mendapatkan pembenaran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain…” (QS. Al-Hujurat: 11). Menjaga kehormatan sesama Muslim adalah bagian dari akhlak. Terlebih kepada orang yang sedang berusaha membimbing kita dalam kebaikan.
Adab Tidak Berhenti Setelah Majelis Selesai
Hubungan murid (mutarabbi) dan guru (murabbi) bukan sekadar hubungan antara orang yang mengajar dan orang yang diajar. Ada proses pembentukan karakter di dalamnya. Guru (murabbi) tidak hanya menyampaikan materi. Ia berusaha membersamai perjalanan murid (mutarabbi).
Karena itu, adab tidak berhenti ketika agenda selesai. Tetaplah menghormati, menjaga komunikasi, dan tetap mendoakan. Dan yang paling penting, berusahalah mengamalkan ilmu yang telah diberikan. Sebab salah satu bentuk penghormatan terbaik kepada guru (murabbi) bukanlah banyaknya pujian yang kita sampaikan, melainkan perubahan baik yang lahir dari proses pembinaan.
Jangan Hanya Menjadi Murid yang Pandai, Jadilah Murid yang Beradab
Di zaman ketika seseorang dapat memperoleh informasi dari mana saja, posisi guru (murabbi) mungkin terlihat semakin sederhana. Kita dapat mencari kajian melalui internet. Kita dapat membaca buku digital, mengikuti berbagai akun dakwah, dan bertanya kepada banyak sumber. Namun, ilmu tetap membutuhkan proses pembimbingan.
Ada hal-hal yang tidak cukup hanya dibaca. Ada akhlak yang harus dicontoh. Ada pengalaman yang harus diwariskan. Ada kesalahan yang perlu dikoreksi. Di situlah peran guru (murabbi) tetap penting. Seorang murid (mutarabbi) yang baik tidak menjadikan kecerdasannya sebagai alasan untuk meremehkan guru.
Ia justru menjadikan ilmunya sebagai jalan untuk semakin rendah hati. Ia tidak sibuk menunjukkan bahwa dirinya lebih tahu. Ia sibuk memastikan bahwa dirinya semakin baik. Di mana ilmu yang bermanfaat selalu membuahkan sifat tawadhu (rendah hati).
Ilmu yang Berkah Lahir dari Adab
Pada akhirnya, perjalanan tarbiyah bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang kita hafal. Bukan pula tentang seberapa sering kita berbicara dalam majelis. Bukan tentang seberapa banyak buku yang telah kita baca. Lebih dari itu, tarbiyah adalah perjalanan untuk memperbaiki diri. Dan salah satu pintunya adalah adab.
Hormati guru (murabbi). Dengarkan nasihatnya, jaga waktunya, bertanyalah dengan santun, terimalah koreksi dengan lapang hati, jaga kehormatannya, dan doakan kebaikannya. Kemudian buktikan bahwa ilmu yang diberikan tidak berhenti di kepala, tetapi turun menjadi sikap dan amal.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Maka, jangan hanya menjadi murid (mutarabbi) yang bertambah ilmunya. Jadilah murid (mutarabbi) yang bertambah adabnya.
Sebab ilmu yang tinggi tanpa adab dapat melahirkan kesombongan. Tetapi ilmu yang disertai adab akan melahirkan kerendahan hati, kedewasaan, dan kemanfaatan. Belajarlah dengan pikiran yang terbuka, dengarkan dengan hati yang rendah, dan berjalanlah bersama murabbi dengan niat mencari ridha Allah Subhanahu wata’ala.
Semoga setiap majelis ilmu yang kita datangi menjadi jalan bertambahnya iman, luasnya wawasan, baiknya akhlak, kuatnya adab, dan berkahnya kehidupan. Dan setiap langkah kita ke majelis ilmu bernilai pahala yang besar. Wallahu a’lam bishawab.