Ketika Telah Jatuh Cinta dengan Dakwah

@ Cecep Y Pramana

Ada masa ketika dakwah terasa seperti kewajiban. Kita hadir karena ada agenda. Kita bergerak karena ada tugas. Kita mengajak orang lain kepada kebaikan karena merasa itu bagian dari tanggung jawab sebagai seorang Muslim. Namun, ada fase yang lebih dalam.

Ketika dakwah tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi menjadi kebutuhan hati. Kita mulai merindukan majelis ilmu. Merasa bahagia ketika bisa membantu orang lain mengenal kebaikan. Ada ketenangan ketika melihat seseorang berubah menjadi lebih baik.

Bahkan, ketika tidak ada yang mengetahui apa yang kita lakukan, hati tetap merasa cukup karena Allah Subhanahu wata’ala mengetahuinya. Di situlah mungkin kita mulai jatuh cinta kepada dakwah. Bukan karena dakwah selalu mudah. Justru karena kita menemukan makna di balik setiap langkahnya.

Dakwah yang Berawal dari Cinta

Dakwah bukan sekadar berbicara di depan banyak orang. Dakwah bisa berupa mengajak teman menjaga shalat, mengingatkan dengan lembut, membantu seseorang yang sedang kesulitan, menjadi teladan dalam keluarga,  dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat.

Bahkan, tersenyum kepada orang lain pun dapat menjadi bagian dari akhlak yang menghidupkan nilai dakwah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali ‘Imran: 104).

Dakwah adalah panggilan untuk mengajak kepada kebaikan. Tetapi agar dakwah dapat bertahan panjang, ia membutuhkan cinta. Cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala. Cinta kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Cinta kepada kebaikan.

Dan cinta kepada manusia yang ingin kita ajak berjalan menuju kebaikan. Tanpa cinta, dakwah mudah berubah menjadi rutinitas. Dengan cinta, dakwah menjadi bagian dari kehidupan. Dan esensi utama dari dakwah adalah ketulusan dan kasih sayang yang mendalam kepada sesama manusia.

Ketika Melihat Kebaikan Orang Lain Membuat Kita Bahagia

Ada kebahagiaan yang berbeda ketika seseorang yang pernah kita dampingi mulai berubah. Dulu ia jarang datang ke masjid. Kemudian mulai belajar shalat berjamaah. Dulu ia tidak terbiasa membaca Al-Qur’an. Kemudian mulai memiliki waktu khusus untuk membacanya. Dulu ia mudah menyerah. Kemudian mulai belajar bersabar.

Mungkin perubahan itu tidak besar di mata manusia. Tetapi bagi seorang da’i, perubahan kecil itu bisa terasa sangat berarti. Bukan karena ingin dipuji. Bukan karena ingin disebut sebagai orang yang berjasa. Melainkan karena ada rasa syukur ketika melihat seorang saudara semakin dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, sungguh jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan betapa besar nilai sebuah usaha mengajak manusia kepada kebaikan.

Kita mungkin tidak mengetahui kapan sebuah nasihat akan menemukan jalannya ke hati seseorang. Tugas kita adalah menyampaikan dengan cara yang baik. Hidayah tetap milik Allah Subhanahu wata’ala. Tugas kita hanyalah menyampaikan kebaikan dengan cara yang santun, sementara urusan hati manusia sepenuhnya ada dalam kuasa Allah Subhanahu wata’ala.

Dakwah Tidak Selalu Mendapat Tepuk Tangan

Ketika mulai mencintai dakwah, kita juga perlu memahami satu hal: Dakwah tidak selalu menghadirkan apresiasi. Ada nasihat yang tidak langsung diterima. Ada kebaikan yang disalahpahami. Ada usaha yang tidak terlihat.

Ada orang yang justru menjauh ketika kita mencoba mengingatkan. Di sinilah cinta kepada dakwah diuji. Jika kita berdakwah hanya ketika mendapatkan pujian, kita akan mudah berhenti. Tetapi jika kita berdakwah karena Allah Subhanahu wata’ala, penilaian manusia tidak lagi menjadi ukuran utama.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Katakanlah, ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan’.” (QS. Asy-Syura: 23). Seorang da’i perlu belajar ikhlas.

Bukan berarti tidak boleh sedih, dan bukan berarti tidak boleh kecewa. Tetapi setelah semua itu, ia kembali menguatkan niat. Karena yang dicari bukan tepuk tangan manusia, tetapi yang dicari adalah ridha Allah Subhanahu wata’ala.

Jatuh Cinta dengan Dakwah Bukan Berarti Tidak Pernah Lelah

Ada anggapan bahwa orang yang mencintai dakwah harus selalu kuat. Tidak demikian. Seorang da’i juga manusia. Ia bisa lelah, bisa sedih, bisa kehilangan semangat, dan ia juga bisa membutuhkan waktu untuk beristirahat. Mencintai dakwah bukan berarti memaksa diri tanpa batas.

Justru orang yang memahami amanah dakwah akan belajar menjaga dirinya. Ia menjaga ibadah. Ia menjaga kesehatan. Ia menjaga keluarganya. Ia memperbarui ilmunya. Ia menyediakan waktu untuk beristirahat. Karena perjalanan dakwah bukan perjalanan satu atau dua hari.

Dakwah adalah perjalanan panjang. Dan perjalanan panjang membutuhkan ketahanan atau stamina. Jangan sampai kita mengajak orang lain, tetapi lupa mengajak diri sendiri pada kebaikan. Ada satu hal yang perlu terus dijaga oleh setiap aktivis dakwah.

Diri sendiri juga membutuhkan dakwah.

Kita mengajak orang lain memperbaiki salat, sementara diri sendiri perlu terus memperbaiki kekhusyukan. Kita mengajak orang lain membaca Al-Qur’an, sementara diri sendiri harus terus menjaga hubungan dengan Al-Qur’an. Kita mengajak orang lain bersabar, sementara diri sendiri masih belajar mengendalikan emosi.

Inilah yang membuat dakwah menjadi proses pembentukan diri. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2).

Ayat berikutnya mengingatkan: “Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 3). Dakwah terbaik adalah dakwah yang memiliki keteladanan. Tidak harus sempurna. Tetapi terus berusaha memperbaiki diri. Karena manusia mungkin lupa dengan kata-kata kita, tetapi mereka sering mengingat sikap yang mereka lihat.

Ketika Dakwah Menjadi Bagian dari Identitas Diri

Pada suatu titik, kita tidak lagi bertanya: “Apa yang bisa saya dapatkan dari dakwah?” Kita mulai bertanya: “Apa yang bisa saya berikan melalui dakwah?” Pertanyaan itu mengubah banyak hal. Kita mulai belajar bukan hanya untuk diri sendiri. Kita membaca bukan hanya untuk menambah pengetahuan.

Kita hadir bukan hanya untuk mendapatkan manfaat. Kita ingin menjadi seseorang yang membawa manfaat. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani dan ad-Daruquthni).Dakwah mengajarkan kita untuk keluar dari kepentingan diri.

Ada orang lain yang membutuhkan perhatian. Ada generasi muda yang membutuhkan keteladanan. Ada keluarga yang membutuhkan kesabaran. Ada masyarakat yang membutuhkan kepedulian. Ada saudara yang hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan. Mungkin kita tidak mampu menyelesaikan semua persoalan. Tetapi kita selalu bisa mengambil bagian dalam kebaikan.

Dakwah Harus Tetap Bijaksana

Ketika cinta kepada dakwah semakin besar, jangan sampai semangat membuat kita kehilangan kelembutan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125).

Dakwah membutuhkan hikmah. Dan tidak semua orang membutuhkan cara yang sama. Ada yang cukup dengan cara memberikan nasihat, ada yang membutuhkan teladan, ada yang membutuhkan waktu, dan ada yang membutuhkan pendampingan.

Ada pula yang belum siap menerima nasihat. Karena itu, seorang da’i harus belajar memahami manusia. Jangan menjadikan dakwah sebagai ruang untuk menunjukkan bahwa kita lebih baik. Jadikan dakwah sebagai jalan untuk mengajak diri dan orang lain menjadi lebih baik.

Cinta yang Membuat Kita Tetap Berjalan

Pada akhirnya, jatuh cinta dengan dakwah bukan tentang memiliki kehidupan yang selalu penuh aktivitas. Bukan tentang seberapa banyak orang mengenal kita. Bukan pula tentang seberapa sering nama kita disebut. Cinta kepada dakwah terlihat dari kesediaan untuk tetap berbuat baik meskipun tidak selalu terlihat.

Tetap mengajar meskipun peserta sedikit. Tetap berbagi ilmu meskipun tidak banyak yang merespons. Tetap mengingatkan dengan santun meskipun belum langsung diterima. Tetap membantu meskipun tidak mendapatkan ucapan terima kasih.

Dan tetap berjalan meskipun jalan di depan terasa panjang. Karena kita memahami bahwa dakwah bukan milik kita. Dakwah adalah amanah. Kita hanya sedang diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk mengambil bagian di dalamnya.

Jangan Berhenti Menjadi Bagian dari Kebaikan

Mungkin suatu hari kita tidak lagi sekuat sekarang. Mungkin usia bertambah. Kesibukan berubah. Tanggung jawab keluarga semakin besar. Energi tidak lagi sama. Tidak mengapa. Dakwah memiliki banyak bentuk. Jika dahulu kita berdiri di depan banyak orang, mungkin kelak kita lebih banyak membimbing beberapa orang.

Jika dahulu kita aktif di lapangan, mungkin kelak kita lebih banyak memberi nasihat. Jika dahulu kita banyak bergerak, mungkin kelak kita lebih banyak mendoakan. Yang penting, jangan kehilangan cinta kepada kebaikan. Sebab selama hati masih ingin melihat kebaikan tumbuh, insyaAllah masih ada ruang untuk berkontribusi.

Penutup: Ketika Dakwah Sudah Menjadi Cinta

Ada orang yang menjalani dakwah karena kewajiban. Ada yang menjalani dakwah karena lingkungan. Ada yang menjalani dakwah karena tanggung jawab. Namun, ada fase ketika semuanya berubah menjadi cinta. Kita tidak lagi merasa sedang melakukan sesuatu yang asing.

Dakwah menjadi bagian dari hidup. Kita bahagia ketika bisa membantu. Kita bersyukur ketika melihat perubahan. Kita belajar dari setiap kegagalan. Kita tidak mudah berhenti ketika menghadapi penolakan. Dan ketika lelah, kita kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Itulah mungkin salah satu tanda bahwa dakwah telah menemukan tempat di hati. Ketika dakwah menjadi cinta, kita tidak selalu mencari siapa yang akan memuji perjuangan kita. Kita hanya ingin memastikan bahwa selama hidup ini masih diberi kesempatan, ada kebaikan yang dapat kita tinggalkan.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim). Maka teruslah belajar, teruslah memperbaiki diri, teruslah mengajak dengan hikmah, dan teruslah menebarkan kebaikan.

Tidak harus selalu besar, tidak harus selalu terlihat, tidak harus selalu mendapatkan penghargaan. Sebab boleh jadi satu kalimat sederhana yang kita sampaikan hari ini menjadi sebab seseorang berubah menjadi lebih baik. Dan boleh jadi, kebaikan kecil yang kita anggap biasa itulah yang kelak menjadi salah satu amal yang paling berarti di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.

Jika suatu hari hati kita telah jatuh cinta kepada dakwah, jagalah cinta itu dengan keikhlasan. Rawat dengan ilmu. Kuatkan dengan ibadah. Hiasi dengan akhlak. Dan buktikan dengan amal.Karena dakwah bukan sekadar tentang mengajak manusia menuju kebaikan. Dakwah juga tentang memastikan bahwa diri kita sendiri terus berjalan menuju Allah Subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam bishawab.

2Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *