Jangan Pernah Lelah Berdoa
@ Cecep Y Pramana
Ada seorang lelaki yang sudah sangat lama menunggu. Usianya tidak lagi muda. Rambutnya telah memutih. Tubuhnya mulai melemah. Namun, ada satu doa yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan. Ia adalah Nabi Zakariya ‘Alaihissalam. Allah Subhanahu wata’ala mengabadikan doanya dalam Al-Qur’an.
Nabi Zakariya ‘Alaihissalam memohon agar Allah Subhanahu wata’ala menganugerahkan kepadanya seorang keturunan. Bukan sekadar karena keinginan pribadi, tetapi karena ia ingin ada generasi yang melanjutkan perjuangan dalam kebaikan. Dalam kelemahan usia, ia tetap berdoa.
Allah Subhanahu wata’ala menggambarkan munajatnya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.” (QS. Maryam: 4).
Perhatikan kalimatnya. “Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu”. Bukan berarti doanya langsung terkabul. Bukan berarti perjalanan hidupnya tanpa penantian. Tetapi ada keyakinan yang tetap dijaga: bahwa berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak pernah menjadi sesuatu yang sia-sia.
Kemudian Allah Subhanahu wata’ala memberikan jawaban. Nabi Zakariya ‘Alaihissalam dan istrinya dianugerahi seorang anak bernama Yahya. Kisah ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting. Jangan berhenti berdoa hanya karena jawaban belum terlihat.
Ada doa yang membutuhkan waktu. Ada harapan yang harus menunggu. Ada permintaan yang baru akan terasa indah ketika waktunya benar-benar tiba. Kita pun mungkin pernah berada di posisi seperti itu. Sudah lama memohon pekerjaan yang lebih baik, tetapi belum mendapatkannya.
Sudah berdoa untuk keluarga, kesehatan, pendidikan, masa depan, atau sebuah kesempatan, tetapi keadaan belum berubah. Setiap selesai shalat, kita menyampaikan harapan yang sama. Dalam sujud kita memohon. Dalam perjalanan kita berdoa. Dalam kesunyian malam kita kembali berharap.
Namun, waktu terus berjalan. Yang kita tunggu belum juga datang. Di titik itulah kesabaran sering diuji. Bukan selalu karena kita tidak percaya kepada Allah. Kadang kita hanya sedang lelah menunggu. Lalu muncul pertanyaan dalam hati, “Mengapa doaku belum dikabulkan?” Mungkin bukan karena Allah tidak mendengar.
Mungkin Allah Subhanahu wata’ala sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar memberikan apa yang kita minta. Sebab terkadang, yang perlu dipersiapkan bukan hanya keadaan di sekitar kita, tetapi juga diri kita sendiri. Kita meminta keberhasilan, tetapi mungkin Allah Subhanahu wata’ala sedang mengajarkan kesabaran.
Kita meminta kelapangan rezeki, tetapi mungkin Allah Subhanahu wata’ala sedang membentuk kita agar lebih pandai bersyukur. Kita meminta sebuah kesempatan, tetapi mungkin Allah Subhanahu wata’ala sedang menyiapkan kemampuan agar ketika kesempatan itu datang, kita mampu menjalaninya dengan baik.
Kita meminta sesuatu yang kita anggap baik, sementara Allah Subhanahu wata’ala mengetahui sesuatu yang belum mampu kita lihat. Di situlah doa memiliki makna yang lebih luas. Doa bukan sekadar cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Doa juga merupakan proses mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Melalui doa, kita belajar bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Allah Subhanahu wata’ala memiliki pengetahuan yang sempurna. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu cepat menyimpulkan bahwa sesuatu yang belum kita dapatkan berarti sesuatu yang buruk. Ada hal yang tertunda karena belum waktunya. Ada yang belum diberikan karena kita belum siap menerimanya. Ada yang tidak diberikan karena Allah Subhanahu wata’ala sedang menjaga kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui.
Dan ada pula doa yang jawabannya datang dalam bentuk berbeda dari apa yang kita bayangkan. Karena itu, jangan berhenti berdoa hanya karena jawaban belum terlihat. Teruslah meminta. Teruslah berharap. Teruslah mengetuk pintu langit dengan hati yang rendah.
Tugas kita adalah berdoa dan berikhtiar. Waktu dan bentuk jawaban adalah urusan Allah Subhanahu wata’ala. Mungkin hari ini kita belum memahami mengapa harus menunggu. Namun, kelak, ketika melihat perjalanan hidup dari jarak yang lebih jauh, bisa jadi kita akan mengerti bahwa penundaan itu ternyata bagian dari kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala.
Terkadang Allah Subhanahu wata’ala sedang membentuk hati sebelum mengubah keadaan. Terkadang Allah Subhanahu wata’ala sedang memperbaiki arah sebelum membuka jalan. Terkadang Allah Subhanahu wata’ala sedang mematangkan kita sebelum memberikan sesuatu yang kita minta.
Kita hanya melihat satu bagian kecil dari perjalanan. Allah Subhanahu wata’ala mengetahui keseluruhannya. Karena itu, ketika doa belum terjawab, jangan berhenti. Perbaiki ikhtiar. Perbanyak syukur. Jaga shalat. Perkuat tawakal. Dan tetaplah berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Kisah Nabi Zakariya ‘Alaihissalam mengingatkan kita bahwa usia, keadaan, dan panjangnya penantian bukan alasan untuk berhenti berharap kepada Allah Subhanahu wata’ala. Barangkali hari ini kita sedang berada di ruang tunggu yang tidak kita sukai. Tetapi ruang tunggu itu bukan berarti Allah Subhanahu wata’ala melupakan kita.
Ada proses yang sedang berlangsung. Ada diri yang sedang dibentuk. Ada hikmah yang sedang disiapkan. Dan ada waktu terbaik yang belum tiba. Maka, jika hari ini ada doa yang belum menjadi kenyataan, jangan buru-buru menyerah. Tetaplah berdoa. Tetaplah berjalan. Tetaplah percaya.
Bisa jadi jawaban itu belum datang karena Allah Subhanahu wata’ala sedang mempersiapkan kita untuk menerimanya. Dan ketika waktunya tiba, semoga kita bukan hanya mendapatkan apa yang selama ini kita doakan, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih siap, lebih matang, lebih bersyukur, dan lebih dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Sebab terkadang, hadiah terbesar dari sebuah doa bukan hanya terkabulnya permintaan. Tetapi perubahan diri yang terjadi selama kita menunggu. Jangan berhenti berdoa.Karena selama hati masih mengetuk pintu Allah Subhanahu wata’ala, selalu ada alasan untuk tetap berharap. Bismillah.