Ibu, Namamu Selalu Ada dalam Doa-doaku
@ Cecep Y Pramana
Ada banyak hal yang ingin disampaikan seorang anak kepada ibunya, tetapi tidak semuanya mampu diungkapkan melalui kata-kata. Terkadang, rasa sayang hanya hadir dalam diam. Ada kerinduan yang disimpan, perhatian yang tertunda, dan doa-doa yang diam-diam dipanjatkan setelah selesai menunaikan shalat.
Tentang Cinta, Pengorbanan, dan Bakti yang Tak Pernah Selesai
Kita mungkin sudah dewasa. Memiliki pekerjaan, keluarga, tanggung jawab, dan kesibukan masing-masing. Hari-hari dipenuhi berbagai urusan yang seolah tidak pernah selesai. Kita berusaha membangun masa depan, mengejar cita-cita, dan memenuhi kebutuhan orang-orang yang kita cintai.
Namun, di antara semua kesibukan itu, ada satu sosok yang terkadang luput mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya: ibu. Perempuan yang dahulu selalu menyediakan waktu untuk kita, kini mungkin hanya berharap ada sedikit waktu untuk mendengar kabar dari anak-anaknya.
Perempuan yang dahulu tidak pernah lelah mengurus kebutuhan kita, mungkin sekarang hanya ingin ditanya sederhana, “Ibu sehat hari ini? Atau Ibu bagaimana kabarnya” Pertanyaan itu mungkin terdengar biasa saja. Tetapi bagi seorang ibu, perhatian kecil dari anak-anak yang dicintainya bisa menjadi kebahagiaan yang sangat berarti.
Ibu, namamu selalu memiliki tempat istimewa dalam hidupku. Bahkan ketika aku tidak selalu mampu mengungkapkan rasa sayang, namamu tidak pernah luput dari doa-doaku. Doa adalah salah satu bentuk cinta paling tulus yang bisa diberikan seorang anak kepada ibunya, juga ayahnya.
Ada Pengorbanan yang Tidak Pernah Selesai Diceritakan
Sejak awal kehidupan, ibu telah menjadi bagian dari perjalanan kita. Ia mengandung dengan segala perubahan dan ketidaknyamanan. Melahirkan dengan perjuangan yang tidak ringan. Kemudian membesarkan kita dengan kesabaran, kasih sayang, dan pengorbanan yang sering kali tidak terlihat.
Ada malam-malam ketika ibu harus mengurangi waktu istirahatnya karena anaknya sakit. Ada hari-hari ketika ia menyimpan keinginannya sendiri demi memenuhi kebutuhan keluarga. Ada pula kecemasan yang tidak pernah diceritakannya, karena ia tidak ingin anak-anaknya ikut merasakan beban pikirannya.
Ketika kita kecil, ibu adalah tempat pulang yang paling nyaman. Ketika kita jatuh, tangannya membantu kita bangkit. Ketika kita takut, suaranya menenangkan. Ketika kita melakukan kesalahan, nasihatnya menjadi pengingat agar kita kembali ke jalan yang benar. Namun, waktu berjalan begitu cepat.
Anak yang dahulu selalu berada dalam pengawasan ibu kini tumbuh dewasa. Kita mulai memiliki dunia sendiri. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, keluarga yang harus diurus, dan berbagai tanggung jawab yang menuntut perhatian.
Tanpa disadari, percakapan yang dahulu begitu sering dilakukan mulai berkurang. Kunjungan yang dahulu mudah direncanakan menjadi semakin jarang. Bahkan, terkadang kita merasa cukup dengan sekadar mengirim pesan singkat untuk menanyakan kabar. Padahal, ibu tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar.
Kehadiran, perhatian, dan kesediaan mendengarkan ceritanya sering kali sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Maka, jangan menunggu ibu meminta perhatian untuk kita memberikannya. Jangan menunggu ibu sakit untuk mulai merawatnya. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya kehadirannya.
Maafkan Aku, Ibu
Ibu, mungkin aku bukan anak yang selalu mampu membahagiakanmu. Ada kalanya aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri. Ada saatnya aku kurang sabar mendengarkan nasihatmu. Mungkin pernah pula perkataan atau sikapku membuat hatimu terluka, meskipun aku tidak bermaksud demikian.
Terkadang, aku baru memahami maksud nasihatmu setelah melewati berbagai pengalaman kehidupan. Apa yang dahulu terasa membatasi, ternyata merupakan bentuk perlindungan. Apa yang dahulu terasa cerewet, ternyata lahir dari kekhawatiran dan kasih sayang.
Kini aku semakin memahami bahwa tidak semua nasihat ibu harus langsung dimengerti pada saat itu juga. Ada kebijaksanaan yang baru terasa nilainya setelah kita bertambah dewasa. Maafkan aku, Ibu. Maaf jika perhatian yang kuberikan belum sebanding dengan perhatian yang selama ini engkau curahkan.
Maaf jika waktu yang kusisihkan belum sebanyak waktu yang dahulu engkau berikan untuk membesarkanku. Maaf jika masih ada harapanmu yang belum mampu anakmu wujudkan. Aku mungkin tidak bisa mengembalikan masa-masa ketika engkau menggendongku, menemaniku belajar, atau menungguku pulang.
Namun, selama Allah Subhanahu wata’ala masih memberikan kesempatan, maka aku ingin terus belajar menjadi anak yang lebih baik. Sebab, berbakti kepada orang tua bukan hanya kewajiban ketika kita masih kecil. Ia merupakan tanggung jawab yang terus melekat sepanjang kehidupan.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’: 23).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa berbakti kepada orang tua merupakan bagian penting dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Bahkan, ketika mereka telah memasuki usia lanjut, kita diperintahkan untuk tetap menjaga perkataan, sikap, dan perlakuan dengan penuh kelembutan.
Doa Adalah Hadiah Cinta yang Tidak Pernah Kehilangan Makna
Ada satu hal yang selalu bisa kita lakukan untuk ibu, kapan pun dan di mana pun kita berada, yaitu: selalu mendoakannya. Ketika jarak membuat kita tidak selalu bisa berada di sisinya, maka doa-doa menjadi salah satu bentuk perhatian yang dapat terus kita panjatkan.
Ketika tangan kita ini belum mampu memberikan banyak kebahagiaan, maka setidaknya lisan kita jangan pernah berhenti untuk memohonkan kebaikan untuknya. Kita memohon agar Allah Subhanahu wata’ala menjaga selalu kesehatannya, melapangkan rezekinya, menenangkan hatinya, mengampuni dosa-dosanya, dan memberikan keberkahan dalam setiap langkah kehidupannya.
Allah Subhanahu wata’ala telah mengajarkan sebuah doa yang sangat indah: “Rabbighfir lii wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa”. “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mendidikku pada waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24).
Doa ini mengandung kerendahan hati seorang anak. Kita tidak hanya memohon ampunan bagi diri sendiri, tetapi juga memohon rahmat Allah Subhanahu wata’ala untuk kedua orang tua, ayah dan ibu kita. Sungguh, ada begitu banyak hal yang tidak mampu kita balas dari pengorbanan seorang ibu.
Namun, kita dapat terus memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar memberikan balasan terbaik atas seluruh kebaikannya. “Ya Allah, Bahagiakanlah Ibuku”. “Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Aku menitipkan ibuku dalam penjagaan dan kasih sayang-Mu”.
Bahagiakanlah ibuku sebagaimana ia telah berusaha membahagiakan anak-anaknya. Sehatkan tubuh dan jiwanya, kuatkan imannya, lapangkan rezekinya, dan tenangkan hatinya. Jika ada kesedihan yang disimpannya, gantilah dengan kebahagiaan. Jika ada kegelisahan yang dirasakannya, maka hadirkanlah ketenteraman.
Jika ada keinginan baik yang belum terwujud, maka kabulkanlah apabila hal itu membawa kebaikan bagi kehidupan dunia dan akhiratnya. Ya Allah, ampunilah segala dosa dan kekhilafan ibuku juga bapakku. Terimalah amal ibadahnya. Jadikan setiap pengorbanan, kesabaran, dan kasih sayangnya sebagai pemberat timbangan amal kebaikannya.
Panjangkanlah umurnya dalam ketaatan, apabila itu yang terbaik baginya. Berikanlah kesempatan kepadaku untuk terus berbakti, mendoakannya, merawatnya, membahagiakannya, dan membalas sebagian kecil dari kebaikan yang pernah diberikannya kepadaku.
Jika suatu saat aku tidak dapat selalu berada di sisinya, maka jadilah Engkau sebaik-baik penjaga baginya. Dan apabila kelak waktu perpisahan itu tiba, maka ampunilah segala dosanya, lapangkanlah tempat peristirahatannya, terimalah seluruh amal salehnya, dan kumpulkanlah kami kembali dalam surga-Mu. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Selagi Masih Ada Kesempatan
Pada akhirnya, kita akan memahami bahwa salah satu nikmat terbesar dalam kehidupan adalah masih memiliki kesempatan untuk berbakti kepada ibu dan selalu mendoakannya. Masih bisa mencium tangannya. Masih bisa mendengar suaranya. Masih bisa duduk bersamanya, menikmati hidangan sederhana, mendengarkan ceritanya, dan memohon doa darinya.
Hal-hal yang dahulu terasa biasa ternyata dapat menjadi kenangan paling berharga ketika waktu telah berlalu. Karena itu, jangan terlalu sibuk mengejar kebahagiaan hingga lupa menghadirkan kebahagiaan bagi ibu, walaupun hanya dengan kehadiran doa-doa kecil.
Jangan terlalu banyak memikirkan masa depan hingga melupakan seseorang yang telah mengantarkan kita sampai pada hari ini. Bagi kita yang masih memiliki ibu, manfaatkanlah kesempatan untuk berbakti. Hubungi dia. Kunjungilah jika memungkinkan. Dengarkan ceritanya. Bantulah kebutuhannya. Mintalah maaf atas kekurangan kita.
Dan jangan pernah lelah untuk selalu mendoakannya. Bagi yang ayah atau ibunya telah lebih dahulu dipanggil Allah Subhanahu wata’ala, jangan biarkan cinta itu berhenti. Teruslah mendoakan keduanya, memohonkan ampunan untuknya, dan melanjutkan kebaikan yang dahulu diajarkannya.
Ibu, mungkin aku tidak selalu pandai mengungkapkan rasa sayang. Aku juga belum tentu mampu membalas seluruh pengorbananmu. Namun, satu hal yang ingin selalu kujaga: namamu akan tetap hadir dalam doa-doa kecilku setiap hari, setiap kesempatan dan setiap nafas yang berlalu.
Semoga Allah Subhanahu wata’ala selalu menjagamu dalam rahmat dan kasih sayang-Nya. Semoga setiap hari yang engkau jalani dipenuhi kebaikan dan keberkahan. Dan semoga Allah Subhanahu wata’ala mempertemukan kita kembali dalam kebahagiaan yang abadi di surga-Nya.
Ibu, aku selalu menyayangimu karena Allah. Terima kasih telah menjadi bagian terindah dalam perjalanan hidupku. “Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa. (Ya Allah ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil)”. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
*** Mohonkan doa-doa terbaik dari kawan-kawan dan pembaca untuk ibu dan bapakku dalam kebaikan dan keberkahan. Ibu Ida Sa’adah binti M. idjudin dan H. Surahman Sukmaprana bin Moch. Sukarja Kerkhoven..
“Ya Allah, ya Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, limpahkanlah rahmat, berkah, dan kasih sayang-Mu yang tak terhingga kepada kedua orang tua hamba:
- Ibu Ida Sa’adah binti M. Idjudin
- Bapak H. Surahman Sukmaprana (alm) bin Moch. Sukarja Kerkhoven
“Ya Allah, berkahilah sisa usia mereka, terkhusus ibuku Ida Sa’adah dalam ketaatan dan kebaikan. Karuniakanlah kepada mereka berdua kesehatan yang paripurna, jasmani yang kuat, serta hati yang selalu dipenuhi ketenangan, kebahagiaan, kedamaian, dan karuniakan serta terangkan, luaskan kubur bapakku. Lapangkanlah rezeki ibuku dengan rezeki yang halal, berkah, dan membawa kebaikan dunia serta akhirat“.
“Ya Allah, ampunilah segala kekhilafan, dosa, dan kesalahan Ibu Ida Sa’adah dan Bapak H. Surahman Sukmaprana (alm). Jagalah mereka sebagaimana mereka telah menjaga, mendidik, dan mengasihi hamba sejak kecil dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Tempatkanlah mereka selalu dalam perlindungan dan naungan rahmat-Mu“.
“Ya Allah, jadikanlah akhir hayat mereka berdua penuh dengan kebaikan (husnul khatimah). Kumpulkanlah mereka kelak di dalam surga-Mu yang tertinggi tanpa hisab, dan persatukanlah kami kembali sebagai keluarga yang bahagia di akhirat nanti“.
“Ya Allah, jadikanlah hamba sebagai anak yang saleh/saleha, yang senantiasa menjadi sejuknya pandangan mata bagi Ibu Ida Sa’adah dan Bapak H. Surahman Sukmaprana. Mudahkanlah hamba untuk selalu berbakti, membahagiakan, dan memuliakan mereka sepanjang hidup mereka, serta jadikanlah doa-doa hamba sebagai aliran pahala yang tiada terputus bagi keduanya“.
“Semoga Allah Subhanahu wata’ala selalu mengabulkan setiap untaian doa ini dan menjaga kedua orang tua kita dalam kebaikan yang sempurna. Doa-doa terbaik, penuh kebaikan, dan keberkahan yang dipanjatkan khusus untuk kedua orang tuaku“. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin