Perjalanan Cinta Menuju Masjid Nabawi (2)

Setelah menunggu sekian lama, kami langsung menuju loket keluar keimigrasian Bandara Jeddah. Petugas keimigrasian Arab Saudi yang menggunakan baju ala militer memeriksa segala dokumen perjalanan kami dan para penumpang lainnya.

Setelah melewati rangkaian pemeriksaan imigrasi dan mengambil koper (ternyata koper besar kami sudah diangkut dari travel), kami bersama rombongan langsung menuju tempat menunggu bus.

Setelah menunggu sekitar setengah jam, bus full AC nomor 68 berwarna biru, bertuliskan Bus Jamaah Umroh NRA Group No.68 membawa kami menuju ke Kota Madinah yang ditempuh selama 5-6 jam.

Malam menggelayut pelan seiring bus nomor 68 yang kami tumpangi bergerak menembus pekatnya malam menuju tujuan pertama kami, Madinah. Ustadz Iswan dari MKU Travel yang juga sebagai Muthawif di Bus 68 memperkenalkan diri. Beliau berasal dari Medan, dan sudah 6 tahun di Arab Saudi karena pendidikan.

Bus pun terus menembus jalan tol Jeddah menuju Madinah. Pemandangan gurun pasir di malam hari yang pekat, hanya disinari cahaya lampu-lampu kota menambah ‘syahdu’ semangat iman di dada untuk segera tiba di Kota Nabi, Madinatul Munawaroh.

Daya tarik utama Kota Madinah adalah keberadaan Masjid Nabawi itu sendiri. Itulah sebabnya, jutaan orang tiap tahunnya selalu mengunjungi Kota Rasul ini. Masjid Nabawi merupakan masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW dan sekaligus tempat pergerakan perjuangan dalam menyebarkan agama Islam.

Magnet umat Islam adalah insentif yang diberikan berupa pahala dan keutamaan bagi yang melaksanakan shalat di Masjid Nabawi yang diganjar dengan memiliki pahala 1.000 kali lebih utama dibanding dengan shalat di tempat lain, selain di Masjidil Haram tentunya.

Masjid Nabawi dapat menampung kira-kira 535.000 jamaah. Masjid ini merupakan salah satu masjid yang utama bagi umat Muslim setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjidil Aqsa di Yerusalem.

Keutamaan ketiga masjid itu, yakni satu kali shalat di Masjidil Aqsa diberikan pahala 500 kali, Masjid Nabawi 1.000 kali dan Masjidil Haram 100.000 kali lebih utama dibanding masjid lainnya.

Kota yang terletak di sebelah utara Mekkah dengan jarak tempuh sekitar 450 km ini pada masa Nabi Muhammad SAW menjadi pusat dakwah, pengajaran dan pemerintahan Islam. Di Madinah ini pula diletakkan fondasi perpolitikan modern oleh Rasulullah SAW yang termaktub dalam Piagam Madinah.

Dari kota yang sebelumnya bernama Yatsrib ini, agama Islam kemudian menyebar ke seluruh jazirah Arab dan seluruh dunia. Kota Yatsrib sejak dulu merupakan pusat perdagangan. Setelah Rasulullah SAW menetap di kota ini, Yatsrib kemudian dirubah namanya menjadi Madinah (Madinatul Munawaroh), yang kemudian hingga kini menjadi pusat perkembangan Islam.

Jutaan orang silih berganti berdatangan ke Madinah untuk menunaikan ibadah umrah baik dari Indonesia maupun dari negara lain. Hal ini menjadikan Madinah menjadi kota yang tidak pernah mati selama 24 jam sepanjang tahun.

Di Masjid Nabawi, terdapat Raudhah atau ‘taman surga’. Dimana, segala doa yang dipanjatkan pasti di terima Allah SWT. Raudhah terletak di antara mimbar dengan makam atau dahulu rumah Nabi Muhammad SAW. Ukuran Raudhah tidak terlalu besar, sekitar 20 x 50 meter persegi yang areanya ditandai dengan tiang-tiang berwarna putih dengan kaligrafi yang khas dan diberikan karpet berwarna hijau.

Areal luar Raudhah menggunakan karpet berwarna merah. Disitulah dahulu Nabi Muhammad SAW biasa membacakan wahyu dan mengajarkan tentang Islam kepada para sahabat. Lokasi Raudhah masuk bagian dari shaf laki-laki dan hanya terbuka untuk perempuan di jam-jam tertentu.

Setelah sekitar 5-6 jam perjalanan dengan bus, muthawwif kami berkata bahwa bus akan segera memasuki Kota Madinah. Ia membimbing kami para rombongan perjalanan untuk bershalawat dan berzikir. Pelan-pelan butiran air mata mengalir membasahi pipi kami semua. Jam menunjukkan pukul 07.15 WIB

Shalat subuh kami, rombongan NRA Group, tidak sempat di Masjid Nabawi, tetapi sekitar 150 km sebelum memasukin kawasan Kota Madinah. Di suatu tempat, yang Nabi SAW pun pernah singgah disini. Masjid berwarna putih dengan karpet warna merah ini, menjadi tempat shalat subuh seluruh jamaah NRA Group.

Setiba di Kota Nabi, Madinatul Munawaroh, ada rasa haru yang kuat yang kami semua rasakan. Kekaguman akan perjuangan nabi akhir zaman, Muhammad SAW, rasa rindu, rasa takjub akan kisahnya yang digariskan Allah SWT begitu terdengar indahnya.

Sepanjang perjalanan memasuki Kota Madinah, ucapan kalimat talbiah, salawat dan zikir terus terdengar dalam bus nomor 68 yang membawa kami menuju hotel.

Setelah bus yang kami tumpangi berputar-putar beberapa menit untuk mencari jalan menuju hotel tempat menginap, hari Ahad 26 November 2017 pukul 07.15 waktu setempat, akhirnya sampai dan langsung menuju ke Hotel Rawda Al Aqiq untuk menginap selama 3 hari ke depan.

Selepas beres-beres barang bawaan (koper besar), saya bersama teman-teman rombongan lainnya menuju ruang M untuk santap pagi. Hotel Rawda Al Aqiq ini berjarak sekitar 300 meter dari pelataran Masjid Nabawi, dan masuk dari pintu 8.

(Bersambung…)

Cecep Y Pramana | Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com

2Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *