Shalat di Masjid Nabawi, Kenikmatan Tak Terhingga (3)

Waktu menunjukkan pukul 07.15 waktu setempat, ketika bus yang kami tumpangi tiba di depan Hotel Rawda al Aqiq. Langit cerah kebiruan terlihat dengan indahnya, pertanda keagungan sang Pencipta alam semesta sangat menggetarkan jiwa. Lalu, pandangan mata kami sangat terlihat jelas bangunan masjid Nabawi yang terlihat begitu indahnya.

Setelah melakukan cek ini di hotel tersebut dan menikmati hidangan pagi yang disediakan travel. Selanjutnya, setelah makan usai, kami dan beberapa rombongan langsung bergegas menuju Masjid Nabawi untuk segera menunaikan salat dhuha.

Ahad pagi, 26 November 2017, waktu di jam tangan kami menunjukkan pukul 09.05 waktu setempat, payung besar permanen di halaman masjid Nabawi telah terbuka lebar. Payung itu disanggah dengan pilar beton yang dapat dibuka tutup menggunakan remote control.

Di halaman masjid Nabawi terdapat tempat wudhu khusus pria dan wanita yang berada di bawah tanah ditambah adanya Water Closet (WC). Kami pun dibuat takjub, karena dibawahnya lagi terdapat parkir dan jalan yang cukup luas bagi para tamu hotel yang mengelilingi masjid Nabawi.

Rasulullah saw pernah bersabda: “Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama 1.000 kali dibanding shalat di tempat lainnya, kecuali Masjidil Haram dan shalat di Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali shalat daripada masjid lainnya”. (HR Ahmad Ibnu Huzaimah dan Hakim).

Saya bersama istri, teman sekamar yakni Yassir, Kiki, Maslutfin serta Deni Kurniawan bersama istri. Kami berdelapan langsung mengatur jadwal untuk shalat sunnah bersama-sama di Masjid Nabawi, khususnya shalat di Raudhah. Di bawah payung besar, saya bersama istri juga Deni Kurniawan bersama istri foto bersama.

Saya berlima masuk melalui pintu King Abdul Aziz. Dengan niat yang kuat, kami berlima, karena yang perempuan terpisah, terus melangkah dari arah utara menuju ke Raudhah di sebelah selatan.

Selama 15 menit kami berlima berdesak-desakan dengan jamaah yang didominasi berbadan kekar dan besar dan akhirnya kami sampai hanya 1 meter dari Raudhah. Badan terjepit karena berdesak-desakan serta nafas yang terengah-engah seperti tidak terasa, karena kuatnya keinginan kami untuk mencapai Raudhah.

Raudhah, tempat yang luasnya kurang lebih 20 x 50 meter ini bertempat antara mimbar dan makam Rasulullah. Tampak beberapa aparat kepolisian (asykar) menjaga sekitar makam Nabi tersebut. Bila melihat kelakuan jamaah yang aneh, dengan mencoba meraba-raba atau mengusap bangunan makam atau pun berusaha menangis di situ.

Aparat kepolisian yang dekat dengannya tersebut langsung menegur. “Haji..haji sirik, sirik, La, La,” ujar asykar dengan nada keras membawa pentungan. Adapun haji adalah panggilan jamaah yang sedang melakukan ibadah haji atau umrah di sana. Teguran keras dari asykar itu berarti haji..haji itu sirik, sirik jangan, jangan. Bila membandel, tidak segan-segan asykar tersebut mengusirnya.

Itulah daya tarik Raudhah, tiap waktu jamaah yang mendatangi Masjid Nabawi ini pasti akan berlomba-lomba untuk mencari tempat di Raudhah ini. Meskipun di semua tempat di Masjid Nabawi afdal, tentunya akan lebih afdal dan terasa dekat dengan surga bila berdoa dan beribadah di kebun surga yang bernama Raudhah tadi.

Rasulullah saw bersabda: “Tempat di antara Rumahku dan Mimbarku ini adalah Raudhah (kebun) diantara beberapa kebun surga”. (HR Muttafaqun Alaih)

Di tengah Raudhah, terdengar ayat-ayat suci Alquran dibacakan, doa dan dzikir dari seluruh jamaah yang berdesakan dilantunkan. Terlihat 4 orang aparat kepolisian Arab Saudi lengkap dengan seragam dinasnya berwarna coklat mengatur keluar masuknya jamaah di Raudhah.

Aparat kepolisian (asykar) memberikan waktu beberapa menit bagi jamaah yang berada di Raudhah dengan menutup ruang Raudhah menggunakan kain pembatas yang cukup tinggi. Kami berlima tepat berada di samping rumah sekaligus makam Nabi Muhammad SAW, membaca Alquran, berdoa, berzikir.

Di tempat depan terlihat dengan jelas mimbar tempat pembacaan khutbah di sebelah barat. Saya pun membuka Alquran besar yang berada di tempat yang telah disediakan dan mulai membaca surah Al Kahfi. Setelah ayat terakhir, yaitu ayat 110 dari surah Al Kahfi terbaca, saya pun berdoa di Raudhah yang ditandai dengan karpet berwarna hijau yang artinya sudah berada di Raudhah. Berada di Raudhah, hati ini merasakan kenikmatan yang tak terhingga.

Mengingat hal itu, tak terasa, air mata jatuh tidak terbendung dan dilanjutkan terus dengan membaca surah Maryam hingga ayat ke 58 berbunyi, “Sujjadan wabukiyyaa” yang dilanjutkan dengan sujud sajdah.

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila anak Adam membaca ayat Sajdah, lalu dia sujud; maka syaitan jatuh sambil menangis. Katanya, “Celaka aku! Anak Adam disuruh sujud, maka dia sujud, lalu mendapat syurga. Aku disuruh sujud, tetapi aku menolak maka untukku neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kemudian kami berlima shalat sunah dua rakaat dengan posisi tubuh yang tidak stabil, karena berdesakan dengan jamaah lainnya yang juga ingin menunaikan shalat sunah. Setelah usai shalat, saya dan teman sekamar mencoba untuk salat sunah kembali, namun aparat kepolisian sudah memberi aba-aba.

Waktunya sudah habis dan kami (Cecep, Deni,  Yassir dan Kiki) harus meninggalkan Raudhah lewat makam Rasulullah SAW, Abu Bakar Shidiq dan Umar bin Khattab.

Perasaan hati saya bercampur, antara sedih dan gembira, karena akhirnya saya bisa membaca Alquran, salat, berzikir dan berdoa di Raudhah yang menjadi impian setiap orang islam di seluruh dunia.

(Bersambung…)

Cecep Y Pramana | Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com

2Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *