Melihat Ka’bah di Depan Mata, Thawaf, Sa’i dan Tahalul (8)

Selasa malam, 28 November 2017 pukul 21.20 Waktu Arab Saudi (WAS), rombongan Bus nomor 68 yang saya tumpangi menginjakkan kaki di Kota Mekkah setelah sebelumnya melakukan perjalanan panjang selama 5 hingga 6 jam dari Madinah untuk melaksanakan Umrah.

Jantung kami semua semakin berdetak kencang. Hati ini semakin tak karuan untuk segera mungkin dapat melihat Baitullah. Karena itu, setelah check in di Hotel Olayan Ajyad dan menyimpan barang di kamar, saya bersama rombongan 68 segera menuju Masjidil Haram yang berjarak sekitar 500 meteran dari hotel.

Waktu telah menunjukkan pukul 22.45 waktu arab saudi, namun sudah terlihat begitu banyak orang yang menuju masjid yang agung dan megah itu. Ada yang sendiri, sekeluarga, serombongan kecil, bahkan ada yang dalam jumlah yang sangat banyak.

Sambil terus mengucapkan talbiah, saya bersama rombongan umrah terus bergerak menuju Masjidil Haram melewati jalan lorong menuju pintu King Abdul Aziz. Saya melihat mereka yang datang ke Masjidil Haram terlihat sangat antusias.

Begitu juga dengan rombongan kami. Sering kali mereka menanyakan tentang apa dan mengapa mengenai umrah, Masjidil Haram dan juga tentu bersama ka’bahnya kepada saya.

Semakin dekat semakin takjub melihat keajaiban Masjidil Haram ini, selain nilai sejarah dan ibadahnya, juga nilai seni bangunannya. Tak lupa saya bersama rombongan membaca doa masuk masjid. Setelah melihat-lihat sambil mengingat pintu masuk, kami langsung menuju Ka’bah menuruni tangga.

Subhanallah, Masya Allah, Allahu Akbar…diriku bersama rombongan terkagum beberapa saat melihat Ka’bah persis di depan mata. Berdiri kokoh bersama Hajar Aswad sejak ribuan tahun lalu. Selalu dirindukan, didatangi, dan dikelilingi oleh orang-orang dari seluruh penjuru dunia mengharap ampunan dan keridhoan-Nya.

Tujuan dan impian kaum muslimin karena banyak kebaikan dan pahala yang bisa diraih disini sebagaimana yang datang dari lisan nabi yang mulia, Muhammad SAW. Serasa tidak percaya, apakah saya benar-benar berada dan melihat secara langsung Ka’bah, arah kiblat seluruh kaum muslimin.

Karena, selama ini hanya dapat melihat dari TV, poster, lukisan, gambar atau hanya tahu dari cerita orang-orang yang pernah datang ke Mekkah untuk menunaikan Haji dan Umrah.

Dan ternyata memang nyatanya saya berada tanah suci ini, di depan Ka’bah. Selagi melihat keagungan Ka’bah dengan membaca talbiah, doa, dan zikir, tak terasa airmata menetes menyukuri nikmat yang diberikan kepada saya dan rombongan.

Labaik allahumma labaik, labaik laa syarikalak, innal hamda, wani’mata laka wal mulk, la syarikalak”. Semoga Allah SWT memperkenankan aku kembali melihat dan beribadah di depan Ka’bah.

Setelah itu kami menuju ka’bah, dipandu oleh ustadz Iswan, ada getaran yang berbeda yang saya dan rombongan alami, saat melakukan tawaf (berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran).

Setiap putaran yang kami jalani memberikan rasa yang berbeda, mengisyaratkan betapa besarnya kekuasaan Allah SWT. Saat kami merasa sangat kecil dan tak memiliki daya apapun. Yang saya ingat hanya keagungan Sang Pencipta sembari mengucapka kalimat talbiah dan doa-doa lainnya.

Tujuh putaran telah kami lalui, banyak diantara jamaah yang mencoba mendekati Hajar Aswad guna menciumnya. Hajar Aswad adalah batu hitam ka’bah yang merupakan batu dari surga. Beruntung keesokan harinya saya bersama seorang kawan dapat mencium Hajar Aswad walaupun dengan penuh perjuangan untuk mencapainya.

Ribuan bahkan jutaan orang ingin mencium atau menyentuh Hajar Aswad saat melakukan ibadah umrah ataupun haji. Segala cara diupayakan, terkadang terlalu memaksakan diri, melakukan hal sunnah dengan cara yang tidak baik. Padahal bila tidak memungkinkan maka cukup bertakbir, bertahmid, dan bertahlil, atau memberi isyarat ke arahnya, seperti yang pernah dilakukan Rasulullah SAW.

Satu alasan mengapa para jamaah yang umrah maupun naik haji ingin menciumnya adalah karena Nabi Muhammad pernah menciumnya. Batu tersebut tidak memiliki kekutan apapun, bukanlah sebuah symbol, dan juga tidak disembah oleh umat Islam.

Selanjutnya saya bersama rombongan melakukan ibadah selanjutnya, shalat sunnah 2 rakaat, minum air zamzam dan dilanjutkan dengan sa’i, salah satu rukun haji dan juga umrah, yakni berjalan kaki dan berlari-lari kecil secara bolak balik sebanyak 7 kali dari bukit shafa ke bukit marwah.

Kedua puncak bukit tersebut berjarak sekitar 700  meter. Saat  melintasi bathnul waadi, kawasan yang di tandai dengan lampu neon berwarna hijau, para jamaah pria di sunnahkan berlari-lari kecil sedangkan jamaah wanita berjalan cepat.

Setelah saya bersama rombongan selesai melakukan sa’i, kami melakukan ibadah penutup yakni tahalul, yang memiliki makna ‘menjadi boleh’ atau ‘diperbolehkan’. Jadi, tahalul adalah di perbolehkan atau dibebaskannya seseorang dari larangan ihram.

Pembebasan tersebut di tandai dengan mencukur habis rambut atau memotong sedikitnya 3 helai rambut. Saya pun bersama pak Yassir, Pak Deni Kurniawan mencukur rambut hingga habis tak bersisa alias gundul, plontos tanpa rambut sehelai pun, sedangkan kawan kawan yang lain ada yang menunggu hingga umrah ke 2.

(Bersambung…)

Cecep Y Pramana | Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com

3Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *