Muhasabah: Allah Sebagai Tujuan Hidup (2-selesai)

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar manusia?”. (QS Al Hajj (22): 18)

Berpuluh tahun kita hidup. Allah Azza wa Jalla mengetahui persis bahwa selama itu kita membutuhkan makanan untuk menyehatkan dan menguatkan tubuh. Karenanya, setiap kali tiba saatnya perut merasa lapar, kapan Allah Azza wa Jalla tidak memberi kita makan?

Setiap pagi, siang dan malam selalu Allah Azza wa Jalla siapkan apa-apa yang kita butuhkan, bahkan kendati ikhtiar kita dalam mencarinya asal-asalan.

Walaupun Allah Azza wa Jalla menyaksikan setiap kali kita menyantap makanan dan meminum air tidak pernah disertai ingat kepada-Nya dan diniatkan karena-Nya, namun Allah Azza wa Jalla tidak pernah lupa mencukupi segala kebutuhan kita.

Allah Azza wa Jalla mengetahui persis perasaan malu kita kalau terbuka aurat. Karenanya, Allah Azza wa Jalla segera mengaruniakan kita rezeki untuk membeli pakaian. Cobalah buka lemari pakaian; berapa tumpukkah pakaian yang kita miliki saat ini?

Walaupun Dia mengetahui jarang sekali kita menyebut nama-Nya setiap kali pakaian itu dikenakan, namun toh kasing-sayang-Nya tetap diwujudkan. Bahkan, Allah Maha Mengetahui lintasan hati manusia, selalu menyaksikan niat riya dan ujub kita ketika mengenakan pakaian yang indah-indah. Selalu Allah Azza wa Jalla saksikan bahwa berpakaian itu hanya karena ingin dipuji dan dihargai orang lain.

Sementara itu, dicerdaskan-Nya akal pikiran kita sehingga kita bisa sekolah atau kuliah menuntut ilmu. Adakah kita selalu teringat kepada Allah dan memohon dikaruniai ilmu oleh-Nya setiap kali mulai membuka buku atau mendengarkan guru menyampaikan ilmu? Adakah kita memuji Allah Azza wa Jalla setiap kali kita usai belajar? Coba, jawablah dengan jujur !

Sekiranya kita ternyata sangat jarang mengingat kepada Allah Azza wa Jalla dan berterima kasih kepada-Nya saat menuntut ilmu, ketahuilah bahwa Allah Maha Kuasa untuk berbuat sekehendak-Nya. Teramat mudah bagi Allah Azza wa Jalla untuk membuat kita menjadi gila atau mengubah otak kita kita menjadi idiot seketika. Apalah daya kita?

Walaupun Allah Azza wa Jalla mengetahui bahwa kita suka berbuat sombong dan meremehkan orang lain yang tidak kuliah atau yang prestasi belajarnya lebih rendah daripada kita. Walaupun Allah Tahu dengan kecendikiawanan kita, kita pun lantas menjadi gemar meremehkan dan menganggap bodoh orang lain. Tetapi Allah Azza wa Jalla tetap saja memberi kita ilmu-ilmu yang belum kita ketahui, tidak malah mencabut segala yang telah bersemayam di otak ini.

Yang jauh lebih penting lagi adalah nikmat yang terbesar, yang telah Allah Azza wa Jalla berikan kepada kita; nikmat Iman dan Islam. Padahal, apalah artinya kita bagi Allah? Allah Azza wa Jalla tidak membutuhkan manusia sama sekali.

Walaupun bergabung seluruh manusia di jagat bumi ini untuk taat kepada-Nya, sama sekali tidak akan menambah kemuliaan-Nya. Demikian pula kalau kita murtad dan ingkar semuanya, sama sekali tidak akan mengurangi kemuliaan-Nya.

Dengan kasih sayang-Nya kita ditakdirkan menjadi manusia yang memilih Islam dan Iman. Padahal, Allah Azza wa Jalla menetahu persis ibadah-ibadah kita sangat buruk. Tengoklah sholat yang kita dirikan, kapankah pernah khusyu?

Tidak jarang kita malah menyekutukan Allah Azza wa Jalla ketika sedang shalat lantaran pikiran-pikiran yang kerapkali melayang-layang ke masalah duniawi, bahkan tergelincir ke dalam khayalan-khayalan mesum.

Kalaupun melaksanakan shaum (puasa), pernahkah kita merasakan shaum yang dilakukan itu sempurna? Memang perut kita shaum, tetapi mata, telinga, mulut, tangan, bahkan hati, adakah juga ikut shaum? Sungguh kasihan kepada perut kita yang lapar dan tubuh yang menjadi letih dan lemas karenanya.

Padahal dimata Allah Azza wa Jalla tidak membuahkan apapun; Karena mata yang hampir tidak pernah terjaga dari pandangan-pandangan yang diharamkan. Karena telinga yang selalu dipergunakan untuk mendengarkan ghibah, fitnah, dan segala suara yang berbau maksiat.

Karena mulut yang tidak pernah terpelihara dari menyentuh segala sesuatu yang bukan menjadi hak kita. Bahkan, karena hati kita yang selalu memendam iri, dengki, riya, ujub, dan takabur.

Kalaupun ingin bersedekah, malah hanya menampakkan kekikiran kita. Cenderung riya dan bahkan ingin dipandang orang lain sebagai dermawan. Padahal, semua uang yang kita miliki adalah milik Allah Azza wa Jalla semata. Kalau Allah Azza wa Jalla menghendaki, bisa saja semua harta yang kita miliki lenyap seketika. Namun karena kasih sayang-Nya, hal itu tidak Allah Azza wa Jalla lakukan.

Kalaupun berbuat kebaikan, kapan kita melakukannya dengan ikhlas semata-mata karena Allah? Selalu saja ingin dipuji dan dihormati manusia. Ya kita selalu merasa kecewa ketika penghargaan dan penghormatan itu tidak datang. Yaa Rabb, betapa tidak tahunya diri kami ini!

Dan satu lagi karunia Allah Azza wa Jalla yang luar biasa, yaitu nikmat ditutupinya aib-aib kita sehingga orang-orang menghormati dan menghargai kita. Bahkan mereka menganggap kita ini orang yang saleh dan mulia. Padahal Allah Maha Tahu akan segala yang kita perbuat dan yang kita sembunyikan. Yang kalau Allah Azza wa Jalla beberkan, niscaya orang-orang pun serta merta akan meludah di hadapan kita.

Wahai Dzat Yang Maha Mendengar, harus bagaimana kami ini Yaa Rabb ? Bukakanlah pintu hati kami agar kami menjadi orang yang sadar dan tahu diri. Tolonglah kami, Yaa Karim.

Balikanlah hati kami, sehingga kami sadar segala-galanya ini adalah milik-Mu ..Yaa Allah. Karuniakanlah kepada kami kesanggupan untuk bersyukur atas segala nikmat-Mu.

Yakinlah bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang mengaruniakan segala kebaikan kepada kita selama ini. Karenanya, tidak inginkah kita berjumpa dengan Allah kelak? Tidak inginkah kita berkumpul bersama Rasul-Nya di surga Jannatunna’im kelak?

Oleh sebab itu, sekiranya kita mempunyai cita-cita tertinggi di dunia ini, maka hendaknya itu berupa kerinduan ingin bertemu dan berjumpa dengan Allah Azza wa Jalla. Apapun yang kita kejar di dunia ini harus membuat kita kelak berjumpa dengan-Nya. Dititipi assesoris dunia yang banyak ataupun tidak, hendaknya jangan sampai mengurangi kerinduan kita yang paling luhur tersebut.

Sekiranya kita mencita-citakan dan mengikhtiarkan apapun, hendaknya diniatkan karena Allah Azza wa Jalla dan disesuaikan dengan tuntunan-Nya. Insya Allah, kita akan dikaruniai kesanggupan oleh-Nya untuk dapat menggapai cita-cita tertinggi kita, yakni bertatapan dengan wajah Allah Azza wa Jalla di surga kelak.

Adapun untuk dapat menata dan menyesuaikaan niat dan cara ikhtiar dengan tuntunan-Nya, antara lain bisa dilakukan dengan dua hal. Pertama, jadikan hanya Allah Azza wa Jalla sebagai tumpuan dan tujuan hidup ini.

Allah Azza wa Jalla menciptakan kita bukan untuk digelincirkan setan sehingga memperturutkan hawa nafsu dan berakibat pula terjauhkannya kita dari Allah Azza wa Jalla yang telah menciptakan, mengurus dan mencurahkan segala karunia-Nya.

Kita diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada-Nya, sehingga kelak ketika kembali menghadap-Nya, kita benar-benar akan pulang ke tempat asal nenek moyang kita.

Kedua, jagalah apa-apa yang disenangi oleh Allah. Shalat di awal waktu di masjid dan berjamaah serta shalat tahajud di sepertiga akhir malam adalah satu amalan yang sangat disukai-Nya, yang akan membuat dekatnya kita dengan pertolongan-Nya. Betapa tidak! Shalat itu tiang agama. Kalau tiang sudah tidak tegak, tidak akan pernah ada rumah yang indah.

Janganlah mau diperdaya oleh syeitan dengan melalaikan apa yang disukai oleh-Nya. Usahakan senantiasa jaga ketepatan waktu shalat kita. Tidak ada yang lebih berhak terhadap waktu ini, kecuali hanya untuk Allah Azza wa Jalla.

Subhanallah. Banyak hal yang harus ditafakkuri dari diri ini. Sungguh merugi orang yang terlalaikan oleh dunia sehingga lupa bahwa Allah Azza wa Jalla menyempurnakan kejadian diri kita adalah semata-mata agar kita semakin mengenal-Nya dan ber-taqarrub kepada-Nya.

Hendaknya kita menjadi orang-orang yang selalu menyempatkan diri untuk merenungi siapa diri kita ini dan mau kemana kita melangkahkan kaki ini. Mudah-mudahan Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang melindungi kita dari segala tipu daya setan.

Cecep Y Pramana | Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com

3Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *