Prasangka Baik, Akhlak Mendasar dalam Pergaulan

Diantara akhlak mendasar dalam pergaulan adalah berprasangka baik (husnuzhan) kepada orang lain serta mencopot kacamata hitam ketika melihat aurat, sikap dan tingkah laku mereka. Akhlak dan pandangan seorang mukmin tidak boleh didasarkan pada prinsip memuji diri sendiri dan menyalahkan orang lain.

Allah melarang kita menyucikan diri sendiri.  “Dan Dia lebih mengetahui tentang kamu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa”. (QS An Najm: 32).

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun”. (QS An Nisa: 49).

Seorang mukmin harus senantiasa dihantui rasa kurang melaksanakan perintah-perintah Allah dan menunaikan hak-hak hamba Allah. Ia mengamalkan kebaikan dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan. Adakah kita termasuk salah seorang diantara mereka, yang selalu melihat kekurangan diri sendiri dan bukan melihat kekurangan orang lain?

Yang selalu mencarikan alasan bagi kesalahan-kesalahan makhluk Allah, terutama saudara seiman dan orang-orang yang berjuang bersama-sama untuk membela dan menegakkan agama Allah. Dan diantara cabang iman yang terbesar ialah berprasangka baik kepada Allah dan manusia. Kebalikannya adalah, berprasangka buruk kepada Allah dan hamba Allah.

Prasangka buruk (su’uzhan) merupakan perangai jahat yang dikecam oleh Al Quran dan As Sunnah. Seharusnya kita menempatkan seorang muslim sebagai orang yang shalih dan tidak berprasangka kepadanya kecuali dengan kebaikan.

Kita harus selalu menanggapi semua yang dilakukannya dengan tanggapan yang baik, sekalipun nampak kelemahan dan keburukannya, demi untuk memenangkan sisi kebaikan atas keburukan. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa”. (QS Al Hujurat: 12).

Makna prasangka dalam ayat ini ialah prasangka jelek yang tidak didasarkan pada bukti yang nyata. Nabi SAW bersabda: “Jauhilah prasangka (jelek), karena sesungguhnya prasangka (jelek) itu merupakan omongan yang paling dusta.” (HR Bukhari Muslim)

Seorang muslim apabila mendengar tentang kejelekan saudaranya seharusnya mengusir gambaran buruk dari benaknya tentang saudaranya tersebut dan tidak berprasangka kecuali kebaikan.

Allah SWT berfirman: “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang Mu’min lelaki dan wanita tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata” (QS An Nur: 12).

Memang, prasangka buruk itu termasuk perbuatan yang hampir tidak dapat dihindari oleh seseorang. Sekalipun demikian, seorang mukmin tidak boleh memperturutkan bisikan syetan dalam menimbulkan prasangka buruk kepada sesama muslimin apalagi aktivis dakwah. Ia harus mencarikan berbagai alasan dan jalan keluar dari kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, daripada membesar-besarkannya. Wallahua’lam.

Cecep Y Pramana | Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com

2Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *