P40Tang, Program Silaturahmi dan Peduli Tetangga

Islam adalah agama rahmah yang penuh kasih sayang. Hidup rukun dalam bertetangga merupakan moral yang sangat ditekankan dalam Islam. Bila umat Islam memberikan perhatian serta menjalankan hidup rukun dalam bertetangga ini, niscaya akan tercipta kehidupan masyarakat yang tentram, aman dan nyaman.

Tetangga merupakan orang terdekat dalam kehidupan, bisa dikatakan “tetangga adalah keluarga terdekat kita”. Tidaklah seseorang keluar dari rumahnya, melainkan ia akan melewati tetangganya. Dan disaat dirinya membutuhkan bantuan, maka tetanggalah orang pertama yang dia ketuk pintunya.

P40Tang merupakan kepanjangan dari Program 40 Tetangga, artinya masing-masing setiap muslim (kader) bisa bersilaturahmi dengan 40 tetangga sekitar rumah. Setiap muslim berusaha dan mencoba untuk lebih bisa memetakan, siapa mereka dan siapa yang bisa diajak menjadi sahabat dari PKS. Oleh karena itu kunjungi mereka, datangi mereka dan ajaklah dialog, agar mereka bisa memahami tugas mulia dakwah Islam yang kita yakini.

Dan salah satu indikasi kesuksesan seorang muslim adalah ketika keberadaannya bermanfaat untuk orang lain, “khairunnas anfa’uhum linnas“. Begitu Baginda Nabi Muhammad SAW memberikan gambaran.

Para ulama menjelaskan bahwa tetangga itu ada tiga macam:

  1. Tetangga muslim yang memiliki hubungan kerabat. Maka ia memiliki tiga hak, yaitu: hak tetangga, hak kekerabatan, dan hak sesama muslim.
  2. Tetangga muslim yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Maka ia memiliki dua hak, yaitu: hak tetangga, dan hak sesama muslim.
  3. Tetangga non-muslim. Maka ia hanya memiliki satu hak, yaitu hak tetangga.

Semakin besar haknya, semakin besar tuntutan agama terhadap kita untuk berbuat baik kepadanya. Di sisi lain, walaupun tetangga kita adalah non-muslim, maka ia tetap memiliki satu hak yaitu hak tetangga. Dan jika hak tersebut dilanggar, maka terjatuh pada perbuatan zhalim dan dosa.

Karena itu, sebagai seorang muslim kita dituntut untuk berbuat baik pada tetangga non-muslim sebatas memenuhi haknya sebagai tetangga tanpa menunjukkan loyalitas, agama dan kekufuran yang ia anut. Semoga dengan akhlak mulia yang kita tunjukkan, menjadi jalan hidayah baginya untuk memeluk Islam.

Bahkan di saat dia meninggal bukanlah kerabat jauh yang diharapkan mengurus dirinya, tetapi tetanggalah yang dengan tulus bersegera menyelenggarakan pengurusan jenazahnya. Begitu penting, besar dan mulianya kepedulian dan kedudukan tetangga bagi seorang muslim, Islam pun mengajarkan adab-adab bertetangga, juga memerintahkan umatnya untuk berbuat baik terhadap tetangga.

Allah SWT berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (QS An Nisa’: 36)

Tetangga yang lebih dekat tempatnya, lebih besar haknya. Maka sudah semestinya seseorang mempererat hubungannya terhadap tetangganya, dengan memberinya sebab-sebab hidayah, dengan sedekah, dakwah, lemah-lembut dalam perkataan dan perbuatan serta tidak memberikan gangguan baik berupa perkataan dan perbuatan.

Maka jelas sekali bahwa berbuat baik terhadap tetangga adalah akhlak yang sangat mulia dan sangat ditekankan penerapannya, karena diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Sedangkan hak dan kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah besar dan mulia. Sampai-sampai sikap terhadap tetangga dijadikan sebagai indikasi sebuah keimanan. “Barangsipa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia muliakan (berbuat baik) kepada tetangganya”. (HR Bukhari 5589, HR Muslim 70)

Semua bentuk akhlak yang baik adalah sikap yang selayaknya diberikan kepada tetangga kita. Diantaranya adalah bersedekah kepada tetangga jika memang membutuhkan.

Dan juga segala bentuk akhlak yang baik lainnya, seperti memberi salam, menjenguknya ketika sakit, membantu kesulitannya, berkata lemah-lembut, bermuka cerah di depannya, menasehatinya dalam kebenaran, dan sebagainya. Wallahua’lam

Cecep Y Pramana | Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com

4Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *