Silaturahmi dan Peduli Tetangga

Syariat Islam mengajarkan bahwa tentangga memiliki hak yang harus kita tunaikan. Seorang muslim harus memiliki perhatian terhadap tetangganya, artinya saling peduli dalam kehidupan bertetangga. Bahkan, seorang tetangga wajib merasa aman dari gangguan tetangganya.

Namun, kini jika kita perhatikan, kultur yang ada di masyarakat kita, yaitu kehidupan bertetangga penuh dengan egoisme. Sampai seorang tetangga tidak mengenal tetangga sebelah rumahnya.

Bahkan, sampai tidak tahu nama tetangganya, apalagi jika akan bertamu, silaturrahim, dan saling mengunjungi. Tak dapat dipungkiri, inilah yang terjadi di masyarakat kita sekarang. Dan tentu saja hal ini sangat memprihatinkan.

Otomatis jika kita melihat kebudayaan dan kebiasaan orang tua-orang tua kita terdahulu, mereka demikian akrab dengan tetangga, saling tolong menolong dan penuh perhatian. Berbeda dengan kondisi saat ini yang sangat berlawanan. Sikap demikian sangat bertentangan dengan syariat Islam yang kita pegang.

Allah SWT berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (QS An Nisa’: 36)

Renungkanlah hadits ini. Renungkanlah betapa besar hak tetangga. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman!” Beliau pun ditanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya”. (HR Bukhari).

Dalam riwayat Imam Muslim: “Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya”. (HR Muslim).

Nabi SAW juga bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berbuat baik kepada tetangganya”. (HR. Muslim nomor 47)

Hadits-hadits diatas menjelaskan tentang hak seorang tetangga. Allah SWT hendak menjadikan hubungan bertetangga adalah hubungan bermanfaat antara satu dengan yang lainnya. Agar kehidupan bertetangga bukanlah kehidupan saling mengganggu dan menyakiti.

Bagaimana keadaan kaum muslimin pada hari ini! Banyak orang yang hidup bertetangga saling bermusuhan hanya karena permasalahan dunia. Bahkan karena permasalahan anak-anak mereka.

Betapa banyak permusuhan dan perselisihan yang berlangsung lama. Tidak menyapa. Tidak tersenyum. Tidak saling mengunjungi. Tidak peduli keadaan. Karena memang berangkat dari ketidakpedulian.

Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Fulanah rajin shalat malam, rajin pula shaum pada siang hari dan gemar bersedekah, tapi dia menyakiti tetangganya dengan lisannya! Maka Nabi SAW menjawab: “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka”. Lalu sahabat itu bertanya lagi, “Fulanah (wanita) yang lain rajin shalat lima waktu, gemar bersedekah dengan sepotong keju dan tidak pernah menyakiti seorang pun?” Maka Beliau menjawab, “Dia termasuk penduduk surga”. (HR Bukhari).

Ini adalah dalil yang tegas bagi kita yang menunjukkan betapa besarnya hak tetangga. Sahabat hingga para ulama, adalah mereka orang-orang yang senantiasa mengerjakan kebaikan. Mereka memuliakan para tetangganya. Sering pula mereka memberi hadiah atau kebaikan-kebaikan yang lain.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Ummul Mukminin Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, aku punya dua tetangga, kepada siapa dari keduanya yang paling berhak untuk aku beri hadiah?” Beliau menjawab, “Kepada yang paling dekat pintu rumahnya darimu”. (HR Bukhari).

Di antara kewajiban terbesar yang harus kita tunaikan kepada tetangga adalah membantu mereka dalam urusan agama. Jika tetangga kita orang yang malas-malasan dalam melaksanakan shalat, maka kita bantu mereka dengan nasihat. Kita kunjungi. Dan bergaul dengan baik.

Apabila ada tetangga kita mengkonsumsi narkoba dan minuman beralkohol, kita nasihati juga mereka dengan nasihat yang menyejukkan dan membuat takut akan dosa. Karena hak seorang muslim adalah diberi nasihat. Dan kaum muslimin secara umum adalah tetangga. Wallahua’lam

Cecep Y Pramana | Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com

3Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *