Ujian Keimanan

Oleh: Syamsu Hilal

Allah SWT menegaskan bahwa di dalam keimanan itu ada ujian. Dengan menguji iman, kualitas ketaqwaan seseorang akan berbeda-beda. Semakin kokoh keimanan seseorang, semakin berat ujiannya. Ujian keimanan harus ada untuk mematangkan dan mengokohkan keimanan itu sendiri.

Orang-orang Mukmin yang lulus dalam ujian keimanannya dan merasa tenang dengan keimanannya itu akan meningkat derajatnya di sisi Allah SWT. Dan Allah akan menambahkan keimanan kepada Mukmin tersebut.

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS Al Fath: 4).

Ujian keimanan pada dasarnya adalah ujian atas amal saleh. Karena untuk menguji kebenaran iman seseorang, Allah SWT menggunakan parameter amal saleh. Ujian atas amal saleh bisa berasal dari dalam dan dari luar.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Lai mengatakan, “Orang Mukmin senantiasa berada diantara lima ancaman berat, yaitu Mukmin yang mendengkinya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, syetan yang menyesatkannya, dan hanwa nafsu yang melawannya”.

Rasulullah SAW mengatakan, “Ada tiga hal yang merupakan pangkal kebinasaan, yaitu kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujub seseorang kepada dirinya sendiri”. (HR Muslim).

Ujian keimanan yang terberat adalah menghadapi sikap idealisme dan keputusasaan. Di antara Muslim, ketika berdakwah, ada yang tidak mau dan atau tidak sanggup menghadapi realitas kehidupan yang ada, sehingga mereka melakukan ‘uzlah (menyendiri). Dan di antara Muslim, ada juga yang tidak sabar menanti kemenengan yang dijanjikan Allah SWT, sehingga mereka berputus asa dalam berdakwah.

Maka, cukuplah bagi kita firman Allah SWT, “Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, ‘Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?’ Mereka menjawab, ‘Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.’ Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik”. (QS Al A’raf: 164-165).

Rintangan idealisme dan keputusasaan adalah dua dari sejumlah rintangan keimanan. Setiap Muslim harus senantiasa meningkatkan pemahaman keislamannnya, dan mulai menjadi orang pertama yang menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata.

Hanya dengan membuktikan keimanan dalam bentuk amal nyata, setiap Muslim akan semakin dewasa dan matang dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh dengan ujian dan cobaan. Wallahu a’lam bishshawab.

:: Sahabat ingin mengirim artikel untuk dimuat di KOLOM “DARI ANDA”, sila kirim ke email: pangeranpram@gmail.com

3Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *