Rumah Pena MOTIVASI

Bahagiakah Rumah Tangga Kita

Oleh: Cecep Y Pramana

Kebahagiaan di dalam sebuah pernikahan (rumah tangga) dapat diukur dari upaya keras yang dilakukan pasangan suami isteri untuk dapat mewujudkan terciptanya rumah tangga yang harmonis. Sakinah, mawaddah, warahmah (SAMARA).

Diantaranya dengan memiliki pengetahuan tentang pasangannya, pelihara rasa dan kagum, saling menghormati, saling mencintai, saling mendekati, menerima hal-hal yang baik dari pasangannya serta menciptakan makna kebersamaan dan komunikasi yang luas di dalam pernikahannya.

Setiap pasangan pastinya menginginkan kebahagiaan dalam berumahtangga. Dan untuk mewujudkan ke arah yang diinginkan, pastinya tidaklah mudah. Butuh ekstra keras dan kerjasama yang baik diantara pasangan.

Selain itu, juga harus ada upaya dan kesadaran dari pasangan suami isteri untuk membuang ‘ego pribadi’ masing-masing agar dapat bekerjasama dalam mengarungi kehidupan rumah tangganya.

Dan tentu saja, hal itu akan berdampak kepada pasangan suami-isteri yang akhirnya gagal mencapai kebahagiaan dalam pernikahan, lalu secepat kilat memutuskan hubungan yang sudah terjalin saat pertama kali mengucap janji dalam pernikahan.

Problematikan seperti ini seharusnya dapat dihindari, jika masing-masing pasangan dapat menghilangkan “ego pribadi” untuk dapat membawa pasangannya kepada kebahagiaan yang dijanjikan Allah SWT.

Problematika yang sering terjadi di dalam kehidupan berumahtangga seperti kesulitan ekonomi, perbedaan watak, kepribadian, ketidakpuasan dalam hubungan seks, kejenuhan rutinitas yang dihadapi.

Selain itu, adanya hubungan antara keluarga besar yang kurang baik. Juga orang ketiga, baik WIL (Wanita Idaman Lain) atau PIL (Pria Idaman Lain).

Menurunnya perhatian pasangan, bisa terjadi salah satunya dominasi dan intervensi orang tua/mertua, kesalahpahaman antara kedua belah pihak, poligami, dan lainnya.

Dari masalah yang sering muncul dalam rumah tangga, yaitu kesalahpahaman, komunikasi yang menyebabkan pasangan tersinggung dan memicu terjadinya perceraian.

Kesalahpahaman itulah yang terkadang pasangan tidak mau membuka komunikasi dengan pasangannya, yang kemudian menimbulkan miss komunikasi diantara keduanya.

Sehingga tanpa disadari, keadaan seperti inilah yang justru akan membuat mereka sulit dalam menghadapi problem apapun yang terjadi dalam rumah tangga.

Komunikasi yang intensif dan baik oleh kedua pasangan, akan muncul saling keterbukaan serta suasana keluarga yang nyaman. Allah SWT juga memerintahkan kepada suami isteri untuk selalu berbuat baik diantara keduanya.

Melalui komunikasi yang intensif dan baik, maka sikap dan perasaan pasangan dapat dipahami pasangan lainnya. Dan komunikasi hanya akan efektif bila pesan yang disampaikan oleh pasangan kita dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.

Pernikahan yang bahagia tidak melulu hanya diwarnai terpenuhinya kebutuhan primer dan sekunder dalam berumah tangga, namun juga dapat dilihat dan dirasakan cara berkomunikasi yang berlangsung di dalamnya.

Dan membangun komunikasi interaksi yang positif dapat dilakukan dengan melakukan hak dan kewajiban masing-masing pasangan dengan penuh kasih sayang, penuh keharmonisan dan penuh tanggung jawab.

Hal yang disukai dan yang dibenci pasangan, saling menghormati pendapat pasangan, menyebarkan ketentraman serta menumbuhkan suasana sehat dalam kehidupan berumah tangga harus terus dilakukan dan ditumbuhkan, agar kehidupan rumah tangganya menjadi kehidupan yang diinginkan. Wallahua’lam

Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com

5Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *