Ketika Kematian Datang Menjemput

Waktu tidak akan pernah berhenti. Terus berjalan, terus bergulir meninggalkan masa-masa yang kita lewati, tertinggal jauh di belakang sana. Tak jelas dan tak dihiraukan, berapa lama lagi kita jelang kematian.

Dan ketika kematian itu datang, saat itu kita sudah tidak bisa lagi berjalan atau bahkan hanya menggerakkan mata kita. Tak bisa lagi lidah ini mengucap dzikir kepada Allah SWT. Tak bisa lagi kita membaca Alquran yang mengalirkan pahala dan keberkahan.

Tak juga bisa walaupun sekedar meniti jalan mengetuk kaki, melangkah pasrah ke musholla, masjid, dan rumah Allah lainnya, untuk melaksanakan shalat.

Tak bisa lagi kita datang ke majelis-majelis ilmu, mengambil barokah ilmu, berdakwah, apalagi pendidikan madal hayah. Bahkan kita tak bisa lagi menyentuh orang-orang yg kita cintai dan sayangi.

Kita semua, tak bisa lagi bertemu, bertatap muka, saling senyum karena iman, bersalaman, bercengkerama, berdiskusi, menyusun dan mengevaluasi program-program masyarakat luas bersama dakwah.

Sebab, kini semuanya sudah selesai waktu untuk kita. Jalan dakwah, tarbiyah, dan bentangan luas lahan amaliyah dakwah, adalah ruang-ruang yang telah Allah SWT sediakan untuk kita menyemai keberkahan dan pahala yang tak ada bandingnya dalam kehidupan setelah mati.

Renungan untuk kita semua, bagaimana persiapan amaliyah terbaik kita nanti setelah hidup di dunia yang fana ini. Bisakah kita bertahan dengan keberhasilan atau malah kemusnahan diri kita.

“Allahumma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil mauti wannajaata minan naari wal ‘afwa ‘indal hisaabi

Cecep Y Pramana | Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com

.

3Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *