Rindu Seorang Dhamrah Kepada Allah dan Rasul-Nya

Dhamrah bin Ibnul Ishaq atau Dhamrah bin Jundub Ra adalah seorang lelaki dari Bani Laits yang telah lanjut usia, buta matanya dan juga sakit-sakitan, tetapi kaya raya. Ia memeluk Islam sejak awal Nabi SAW berdakwah di Makkah.

Ketika turun perintah dari Allah SWT untuk hijrah, maka ia dengan senang hati dan segera menyambutnya. Setelah Nabi SAW dan para sahabat hijrah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah). Di Mekkah tidak tersisa kecuali sedikit dari umat Islam yang belum hijrah karena sakit atau lanjut usia.

Diantara mereka yang belum hijrah adalah sahabat mulia bernama Dhamrah bin Jundub Ra karena sakit, buta dan juga lanjut usia. Apalagi orang-orang di sekitarnya, baik anak, teman atau kerabatnya, berusaha menahan Dhamrah untuk tetap tinggal di Makkah, karena keadaannya tersebut.

Karena dorongan iman yang kuat dan mengental dalam jiwanya, walaupun dengan keadaannya itu, Dhamrah diberi keringanan untuk tidak berhijrah, namun dengan tegas ia berkata, “Aku tidaklah termasuk yang diberikan keringanan itu, karena aku bisa membiayai perjalananku dengan hartaku”.

“Bawalah dan keluarkanlah aku dari negeri orang-orang musyrik ini menuju Rasulullah SAW yang kucintai. Aku tidak ingin bermalam lagi di tempat ini,” katanya memerintahkan kepada budak-budaknya.

Kemudian Dhamrah pun mempersiapkan perbekalan dan tandu untuk membawanya menuju Madinah dan langsung berangkat tanpa menunda-nundanya lagi. Maka ia memutuskan untuk berangkat hijrah, dengan menanggung resiko dan menafikan kondisi sakit dan sulitnya perjalanan.

Dhamrah membuktikan niat dan tekadnya yang kuat untuk berangkat hijrah menuju Madinah. Namun, di tengah perjalanan, sakitnya semakin berat dan merasa mendekati kematian, juga tidak akan sampai ke Madinah. Maka ia berdiri memukul dengan dua pergelangan tangannya.

Ia memukul pergelangan tangan pertama dan berkata: “Ya Allah ini bai’atku pada-Mu”. Kemudian memukul pergelangan tangan keduanya: “Ya Allah ini bai’atku pada Nabi-Mu“. Kemudian Dhamrah Ra terjatuh dan meninggal.

Di tengah perjalanan yakni di Tan’im itulah, sahabat Dhamrah meninggal dunia dan dimakamkan disana. Dhamrah tidak mampu menempuh sulit dan panasnya perjalanan padang pasir yang ia rasakan.

Kemudian malaikat Jibril as turun menemui Nabi SAW mengabarkan kejadian sahabat Dhamrah bin Jundub Ra, dan turunlah ayat Allah SWT:

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS An Nisa: 100)

Lalu Nabi SAW mengumpulkan para sahabat dan menceritakan keadaan Dhamrah bin Jundub Ra dan bersabda dengan haditsnya yang masyhur, hadits pertama dalam Arbain Nawawi yaitu hadits tentang niat, ‘sesungguhnya amal tergantung dengan niatnya’.

Maka Dhamrah Ra mendapat kemuliaan yang tidak di dapat para sahabat yang lain, dengan turunnya Alquran dan Hadits padanya, padahal ia belum sampai ke Madinah.

Beramal dan berjalanlah menuju jalan-Nya selagi niat kita untuk Allah SWT, karena hati kita semua ini lemah. “Ya Allah, tetapkan hati kami dalam ketaatan kepada-Mu dan jagalah kami dari fitnah yang nampak dan tersembunyi“.

Cecep Y Pramana | Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com
.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *