Cemburu Yang Terpuji vs Cemburu Yang Tercela

Islam telah meletakkan batas-batas rasa cemburu (al ghirah) dari pasangan suami istri, yang dapat mendatangkan kemaslahatan rumahtangga. Apabila dilanggar, bakal mendatangkan kekeruhan yang mengotori keharmonisan hubungan suami-istri.

Ada cemburu yang dicintai Allah, dan ada pula yang dibenci-Nya. Cemburu yang dicintai Allah adalah cemburu pada keraguan. Sedangkan cemburu yang dibenci Allah adalah cemburu pada ketidakraguan”. (HR Nasa`i, Ahmad, dan Ibnu Hiban).

Seorang Muslim hendaknya meletakkan batasan ini di depan pelupuk matanya, agar tidak jatuh pada sikap berlebih-lebihan. Cemburu yang terpuji adalah apabila sebab-sebabnya jelas dan memiliki bukti-bukti nyata.

Seperti mendapati suami mencandai wanita, atau istri mencandai laki-laki lain. Yang mana canda itu disertai dengan bumbu-bumbu kata dan gaya suara yang dibuat-buat, sehingga dapat memabukkan dan menimbulkan kenikmatan bagi lawan jenisnya. Tentu saja ini perbuatan tercela.

Sedangkan cemburu yang tercela adalah kecemburuan yang dibangun dengan persangkaan dan praduga belaka. Seperti berlebih-lebihan dalam menafsirkan ucapan, gerakan, sikap diam, gaya bicara, bahkan bisikan.

Salah satu tanda cemburu yang tercela adalah cemburu yang menyebabkan terhalanginya kemaslahatan, dan sebaliknya mendatangkan kerusakan lantaran salah paham.

Misalkan suami melarang istrinya yang teguh memegang kuat agamanya untuk mendatangi majelis taklim. Atau istri melarang suaminya yang sudah dikenal baik, memberi ceramah di majelis taklim kaum ibu.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati-hati kita dari rasa cemburu yang dapat menyeret kita kepada prasangka buruk serta hal-hal tercela yang membuat murka Allah SWT. Wallahua’lam bishshawab.

Cecep Y Pramana | Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com
.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *