Kebaikan Yang Melimpah, Mencakup Dunia dan Akhirat

Oleh: Dr Ahmad Kusyairi Suhail, MA

Dalam konsep Islam, ‘kebahagiaan dan kesuksesan’ tidak hanya berdimensi dunia, tetapi juga akhirat. Dan pastinya, setiap orang akan mendambakan kebahagiaan dan juga kesuksesan. Bahkan cakupannya tidak hanya individu, tapi juga keluarga, masyarakat dan negara.

Dan jalan untuk menggapai kebahagiaan tersebut telah dijelaskan Allah SWT dalam Alquran, salah satunya dalam surat Al Kautsar. Al Kautsar berarti kebaikan yang melimpah. Artinya dapat memberikan inspirasi kebaikan.

Jika kita mampu mentadabburinya, maka kebahagiaan dan kemakmuran bukanlah sebuah mimpi, ia bisa diraih dengan menapaki petunjuk jalan Ilahi. Lalu, apa sesungguhnya rahasia yang disampaikan Allah SWT dalam surah Al Kautsar, sebagai sebuah petunjuk untuk meraih kebaikan hidup yang melimpah?

Surah Al Kautsar termasuk ke dalam surah Makkiyah, secara umum menggambarkan suasana dakwah Islam yang dipimpin oleh Rasulullah SAW. Ketika itu, beliau mendapat pertentangan dan fitnah dari pihak musuh berupa opini publik yang menyesatkan terhadap diri Rasulullah SAW.

Isu yang disebarkan ini mengatakan bahwa Rasulullah SAW adalah seorang Al Abtar, yang berarti terputus generasi. Hal ini dilatar-belakangi karena Rasulullah SAW tidak memiliki anak laki-laki, sehingga dakwahnya tidak akan berkembang..

Sebagai manusia biasa, tentu saja Rasulullah SAW terpengaruh secara psikologis. Rasulullah merasa sedih, apalagi saat itu dihadapkan pada fenomena masyarakat yang membanggakan jika memiliki anak laki-laki.

Namun, di tengah kesedihan Rasulullah SAW, maka Allah SWT menurunkan Surah Al Kautsar. Sebuah surat laksana oase di padang pasir atau embun pagi yang menyejukkan. Sebagai penghibur yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam Hadits Riwayat Annas Ibnu Malik, beliau menceritakan bahwa; “Ketika kami bersama Rasulullah, tiba-tiba beliau tertidur ringan. Tak lama kemudian, Rasulullah terbangun dan tersenyum. Lalu sahabat bertanya; ‘Apa yang membuat engkau tersenyum, wahai Rasulullah?’ dan Rasulullah menjawab; ‘Sungguh barusan telah turun Surah Alquran dari Allah SWT melalui malaikat Jibril, yakni Surah Al Kautsar”.

Surat ini terdiri dari tiga ayat, yaitu pertama, Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Kedua, Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Dan ketiga, Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Ayat pertama surat Al Kautsar menggambarkan simbol kedekatan Allah SWT, berupa dialog langsung untuk menghibur Nabi Muhammad SAW di tengah isu negatif. Para ulama menafsirkan Al Kautsar adalah sebuah kebaikan yang melimpah. Diantara kebaikan tersebut adalah kenabian.

Selain itu, kebaikan lain seperti Alquran, banyaknya jumlah umat, serta ketinggian keluhuran penyebutan nama Nabi Muhammad SAW. Saat Rasulullah SAW ditanya apa itu Al Kautsar? Rasulullah SAW menjawab; ‘Sebuah telaga yang dijanjikan Allah SWT di akhirat buat umatnya’.

Beragam pendapat yang mengartikan kata Al Kautsar, tidaklah kontradiktif. Sebuah kata yang merupakan turunan dari kata Al Kasroh, yang maknanya baik. Kebaikan yang melimpah meliputi dimensi dunia dan akhirat.

Berdasarkan surat diatas, ada dua konsep utama untuk meraih kebaikan yang melimpah, tertera dalam ayat kedua. Yaitu mendirikan shalat dan memiliki semangat berkorban. Shalat itu simbol kuat hubungan hamba dengan sang Kholiq, sedangkan berkorban adalah spirit untuk membela agama Islam. Baik berupa harta, tenaga, maupun jiwa.

Jadi, jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan kebaikan hidup yang melimpah, kalau tidak menghadirkan shalat dan berkurban terbaik. Lalu, ayat ketiga menjelaskan siapa sejatinya yang disebut Al Abtar. Musuh Islam menyudutkan Nabi Muhammad SAW, namun Allah SWT membantah. ‘Sesungguhnya orang yang memusuhimu adalah Al Abtar yang hakiki’.

Merekalah yang terputus dari rahmat dan hidayah Allah SWT, sementara dakwah Alquran dan Iman merupakan Al Kautsar. Dan cara untuk mendapatkan Al Kautsar yaitu dengan mendirikan shalat dan semangat berkorban yang terbaik buat agamanya. Wallahua’lam
.
.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *