Santai Saja Baca Status Orang, Jangan Bawa Perasaan

Oleh: Cecep Y Pramana


Saat ini orang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget ketimbang berinteraksi tatap muka (bertemu langsung) dengan orang lain. Hal ini memicu munculnya ‘fenomena curhat’ di media sosial (medsos) yang banyak terjadi belakangan ini.

Bahkan, banyak dari mereka yang saat sedih, emosi, marah, baper (bawa perasaan), kecewa hingga saat-saat bahagia dilampiaskan melalui media sosial.

Salah satu aplikasi chatting paling populer di dunia saat ini adalah WhatsApp. Aplikasi ini memungkinkan seseorang untuk saling terhubung dengan orang lainnya secara personal maupun kelompok.

selain itu, aplikasi ini juga dilengkapi dengan fitur pengiriman pesan teks, gambar, panggilan video dan suara serta media lainnya seperti dokumen, serta lokasi pengguna.

Perlu diketahui bahwa dunia maya (dumay) dan dunia nyata (dunya) itu berbeda, ibarat dua sisi mata uang. Ketika kita melampiaskan emosi, kemarahan, kesedihan, baper hingga kecewa di media sosial maka ada teman atau pihak yang memberi komentar.

Jika isi komentarnya negatif, justru hal itu dapat menambah stres diri kita, bahkan cenderung tidak menyelesaikan masalahnya.

Ketimbang curhat di media sosial, lebih baik menceritakan keluh kesahnya dengan orang terdekat secara langsung. Hal itu terbukti dapat menurunkan tingkat risiko stres daripada curhat di media sosial.

Dan yang terpenting adalah jangan baperan (bawa perasaan), jangan terpancing jika ada ‘status’ atau ‘info terkini’ yang belum tentu kebenarannya yang kita baca.

Jangan juga mudah menyalahkan status orang lain. Pastinya, semua orang tidak ingin dianggap salah. Karena itu, jangan mudah menyalahkan status orang lain. Apalagi secara frontal dengan menghembuskan hal-hal negatif lainnya.

Kalau pun statusnya itu benar salah, maka bisa melakukan koreksi dengan cara yang baik dan tidak menyinggung perasaan si pembuat status. Lebih baik kasih saran dengan chat ke message (WA) pribadi si pembuat status.

Yang terpenting, dalam menanggapi informasi apa pun, harus menghargai pendapat orang lain. Belajar menghargai pendapat orang lain walaupun pendapat orang lain belum tentu benar.

Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com
.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *