Istiqomah Dengan Seluruh Ajaran Islam

Oleh: Cecep Y Pramana

Ulama mendefinisikan bahwa istiqomah berasal dari kata istaqooma, yastaqiimu, istiqoomatan yang berarti lurus atau tegak. Secara maknanya, istiqomah berarti konsisten dan komitmen dengan seluruh ajaran Islam. Dan istiqomah seperti ini adalah berat.

Sedangkan secara terminologi, Ibnu Hajar mengatakan bahwa istiqomah artinya adalah, “Menempuh jalan yang lurus- agama yang benar- tanpa berbelok kekanan atau pun kekiri (penyimpangan), dan hal itu mencangkup segala bentuk ketaatan, entah itu zhahir atau pun batin dalam mengerjakan perintah dan juga dalam meninggalkan segala bentuk larangan“.

Hal ini diabadikan dalam sebuah kisah dialog antara Rasulullah SAW dengan para sahabat. ”Ya Rasulullah, mengapa engkau cepat beruban?” Pertanyaan ini menggambarkan keheranan sahabat melihat Rasulullah SAW belum terlalu tua, tetapi rambutnya sudah beruban merata.

Lalu Rasulullah SAW menjawab, ”Aku cepat beruban ini karena surat Hud dan saudara-saudaranya“. Maka para sahabat pun penasaran dan bertanya, ”Ayat yang mana ya Rasulullah?” Maka Nabi SAW membacakan ayat, ”Fastaqim kamaa umirta wa mantaaba ma’aka wa laa tathghow, innahu bimaa ta’maluuna bashiir“.

Maka istiqomahlah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS Hud: 112).

Rasulullah SAW adalah manusia terbaik, manusia yang pasti masuk surga atas izin Allah, masih diperintahkan Allah SWT untuk tetap istiqomah, apalagi kita yang belum tentu dijamin masuk surga. “Dan jangan kamu melampaui batas (wa laa tathghow)”, inilah kalimat yang menyebabkan beliau SAW cepat beruban.

Di zaman Rasulullah SAW istiqomah saja berat, dimana takwa lebih dominan daripada fitnah. Bagaimana dengan kita sekarang, zaman dimana fitnah lebih dominan daripada takwa? Di zaman ini, untuk komitmen dengan Islam, untuk istiqomah kepada Al Qur’an dan As Sunnah, untuk istiqomah bersama kaum Muslimin adalah berat.

Di saat sebagian orang senang berpecah belah, mengejar-ngejar dunia, tega mendzolimi saudaranya sesama Muslim. Di saat kita harus cukup dengan yang halal, sementara ada manusia tidak mempertimbangkan apakah haram atau syubhat, yang penting ekonomi bagus.

Bahkan ada sebagian manusia mengatakan, “Jangankan yang halal, yang haram saja susah“. Oleh karena itu, hidup di zaman seperti ini sungguh membutuhkan perjuangan agar kita mati dalam keadaan husnul khotimah. Wallahua’lam

Twitter/IG/LINE: @CepPangeran | LinkedIn: Cepy Pramana | Google+: CecepYPramana | Email: pangeranpram@gmail.com
.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *