Pernikahan, Proses Kehidupan Berkeluarga

Cecep Y Pramana

Pernikahan adalah ibadah. Ia tidak sekedar upacara untuk mengumumkan kepada masyarakat mengenai status pernikahan antara seorang pria dan wanita.

Niatkan bahwa pernikahan sebagai wujud pelaksanaan ketaatan kepada Allah SWT dan RasulNya. Jadi, dalam pernikahan ada sebuah amanah, langsung dari Allah dan Rasul-Nya.

Tekadkanlah dalam hati, sejak dari awal, untuk menjaga amanah ini hingga ajal tiba. Ini menjadi amat penting dalam proses kehidupan pasangan suami istri (Pasutri) selanjutnya.

Karena dengan menempatkan niat dan tekad itu, Allah SWT akan selalu berkenan hadir dalam kehidupan pasutri selanjutnya, baik dikala gembira maupun disaat duka.

Al Quran mengajarkan kepada kita semua bahwa melalui pernikahan seharusnya terwujud suasana kasih sayang, sebuah kebahagiaan, sebuah oase surgawi di dunia. Keluarga adalah sebuah wahana untuk mewujudkan kebahagiaan bukan yang lain atau sebaliknya.

Berkeluarga adalah sebuah komitmen untuk mewujudkan kebahagiaan. Sungguh tidak mudah mendefinisikan kebahagiaan namun jelas bahwa ia berlawanan dengan kekecewaan, kesedihan, kegelisahan, kelesuan, kegaluan dan sejenisnya.

Kebahagiaan adalah nuansa atau karakteristik surgawi dan oleh karenanya kepemilikannya oleh manusia amat tidak disukai oleh Iblis. Sebagai musuh abadi manusia, Iblis sang pewaris neraka akan terus merongrong kebahagiaan yang menjadi milik manusia, anak keturunan Adam, para calon pewaris surga.

Salah satu benteng terkuat untuk menjaga kebahagiaan pasutri dalam keluarga dari rongrongan itu adalah kemaafan. Bukalah pintu kemaafan selebar-lebarnya dan selama-lamanya karena ia akan mencegah masuknya kemarahan, awal dari intervensi Iblis dalam menghancurkan kebahagiaan anak-anak Adam.

Karena setiap pasutri mempunyai karakteristik sendiri-sendiri yang unik, lengkap dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Melalui pernikahan ini hendak dipersatukan dalam sebuah rumah tangga.

Konsekuensinya adalah bahwa kesalahpahaman adalah sebuah keniscayaan. Karena itu membuka pintu maaf seluas-luasnya adalah salah satu resep abadi dan ampuh dalam membangun rumah tangga bahagia.

Agama mengatur tanggung jawab, peran dan fungsi pasutri dalam kehidupan berkeluarga. Sempurnakanlah dan tunaikanlah hal tersebut dalam perjalanan membangun rumah tangga yang akan dirahmati dan diberkahi oleh Allah SWT.ย Wallahuaโ€™lam

.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *